OPINI
IMPLEMENTASI PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA ( P 5 ) KURIKULUM MERDEKA MASIH TERLALU DINI
Laporan:Irma Suriati Damanik, S.Pd
Admin
Sabtu, 28 Jan 2023 16:43
Oleh : Irma Suriati
Damanik, S.Pd
(Guru Bahasa Indonesia di SMAN 2 T.Putih)
Setiap pergantian pemimpin berganti pula kebijakannya. Begitu juga dengan dunia pendidikan, termasuk kurikulum. Kurikulum berganti sesuai dengan zaman dan kepentingannya. Masih segar dalam ingatan tentang kurikulum K-13 yang penerapannya di sekolah masih belum dipahami , muncul pula kurikulum baru yang diterbitkan oleh pemerintah pada Februari 2022. yang disebut dengan Kurikulum Merdeka. Pada kurikulum tersebut terdapat modul P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ). Dalam waktu yang sesingkat-singkatnya sekolah harus mengubah pembelajaran dari kurikulum K-13 menjadi kurikulum merdeka,termasuk di Rokan Hilr.. Pada Kurikulum Merdeka, ada modul yang disebut Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila ( P 5 ) yang penerapannya melekat pada masing masing mata pelajaran Tentu bukan sesuatu yang mudah, banyak sekali kendala yang dihadapi saat melaksanakan P5 tersebut.
P5 adalah singkatan dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Projek ini merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka. Adapun tahapan P5 diawali dengan memahami P5, kemudian menyiapkan ekosistem sekolah, mendesain projek P5, mengelola P5, mendokumentasikan serta melaporkan hasil P5, dan yang terakhir adalah evaluasi dan tindak lanjut P5.
Secara umum, Penulis menyimpulkan ada 3 hal yang menjadi kendala dalam pembelajaran P 5, yakni :
1. Keterbatasan Referensi
P5 sebagai bagian dari kurikulum merdeka sesuai dengan tahapaannya seyogyanya dimulai dari Memahami apa itu P5. Namun nyatanya guru sebagai pendidik belum paham apa itu P5 tapi pemerintah sudah mengharuskan untuk mengikutinya. Seharusnya pemerintah melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendiddikan ( LPMP ) maupun Kelompok Kerja Guru ( KKG ) berupaya mendudukkan program tersebut melalui kegiatan kegiatan, pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada guru secara menyeluruh. Memang ada kegiatan atau pelatihan yang berhubungan dengan Kurikulum tersebut, tapi masih hanya seperberapa persen dari guru yang ada bahkan kegiatan tersebut dilakukan masih secara daring, Selain itu pemerintah baiknya meneribitkan buku - buku tentang P5 baik buku yang bisa di baca secara online atau buku cetak yang memudahkan guru untuk mencari refernsi.. Minimnya referensi tentu menyulitkan guru melaksanakan program P5. Tempat bertanya pada sekolah-sekolah terdekat atau teman seprofesi di sekolah lain juga tidak membuahkan hasil,megingat mereka juga belum memahami benar apaitu P5. Jadilah guru mengajar P5 tersebut sesuai dengan pemahaman pribadi dengan mengandalkan modul yang di beri pemerintah melalui internet.
2.Manajemen Waktu
Tidak semua guru bisa mengelola waktu dengan
baik. Dalam pelaksanaan guru dituntut untuk mengerjakan tugas tugas lain,
disisi lain guru membutuhkan waktu untuk lebih belajar dan beradaptif tentang P5 sebanyak beban mengajar yang
dibebankan padanya
Guru buhan hanya bertugas mengajar sesuai dengan beban jam mengajarnya,tapi banyak kegiatan-kegiatan yang yang harus dilakukan di sekolah. Belum lagi beban guru sebagai anggota masyarakat,sebagai ibu atau ayah,di rumah tangga. Setiap hari guru mata pelajaran perlu berdiskusi untuk menyampaikan materi P5,sehingga beban mengajar dikelas lain akan terganggu karena guru tidak bisa memngatur waktunya. Perlu diingat,tidak semua guru di Indonesia benar benar berlatar belakang pendidikan guru,banyak juga yang menjadi guru hanya karena coba coba.
3. Kompetensi ( Skill) yang Belum Memadai dan Sistem yang Belum Terstuktur
Pada P5 semua guru mata pelajaran
dibebankan satu jam pelajaran untuk mengajarkan projek. Misalkan pelajaran
bahasa Indonesia setiap minggunya adalah 4 jam Pelajaran ,pada kurikulum merdeka
ini memang 4 JP , ,namun 1 JP adalah pembelajaran projek tersebut .Begitu juga
dengan mata pelajaran yang lain. Jadi dapat kita bayangkan guru mata pelajaran
Olahraga yang notabene kebanyakan laki laki mengajarkan projek pada tema “
Kearifan Lokal” yang biasanya adalah
membuat kue daerah masing masing. Mereka sangan berat untuk masuk ke
kelas , dan akan berakhir dengan kelas kosong karena tidak semua skil tentang itu memadai. Sekolah
Menengah tentu berbeda dengan sekolah kejuruan,yang memang siswa dan gurunya
memiliki skil karena memang sekolah tersebut mempersiapkan alumninya menjadi
siswa yang terampil dan memiliki keahlian sesuai dengan sekolahnya.Di sekolah
kejuruan,guru guru yang mengajar juga memang berlatar belakang pendidikan dari
kejuruan. Bertolak blakang dengan Sekolah menengah, guru guru yang mengajar
tidak memiliki keahlian untuk menghasilkan produk, jikapaun ada beberapa guru
yang memiliki skil,itu di dapat karena otodidak dan karena hobi saja,bukan karena belajar secara
formal.
Kurikulum boleh
saja berubah, namun harus dibarengi dengan sosialisasi yang menyeluruh sehingga
tidak menimbulkan multi tafsir. Selain itu kondisi sekolah yang notabene
berbeda beda, juga harus diperhitungkan. Pendanaan untuk sebuah perubahan tentu
juga harus dipikirkan mengingat bahwa Pendidikan adalah bukan ajang coba
coba, karena menyangkut masa depan dan kemajuan sebuah negara. Semua perlu
persiapan yang matang agar menjadi sebuah sistem yang terstruktur sesuai dengan
harapan yang diinginkan.