Minggu, 06 Sep 2026
Opini
Ketika Akar Dicabut: Peradaban pun Retak
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Senin, 31 Agu 2026 09:17
PERTUMBUHAN ekonomi yang mengabaikan adat, budaya, hutan, dan sungai pada akhirnya menggali lubang dirinya sendiri. Ada sebuah kekeliruan besar dalam cara kita mendefinisikan kemajuan. Kita terlalu mudah menyebut pembangunan sebagai keberhasilan ketika investasi tumbuh, industri berkembang, jalan dibangun, produksi meningkat, dan angka ekonomi bergerak naik.
Tetapi kita jarang bertanya: apa yang harus dikorbankan agar semua itu terjadi? Berapa hutan yang harus hilang? Berapa sungai yang harus berubah warna? Berapa ruang hidup masyarakat yang harus menyempit? Berapa pengetahuan leluhur yang dianggap usang? Dan berapa konflik yang harus muncul sebelum kita menyadari bahwa ada sesuatu yang keliru dalam cara kita membangun?
Neraca yang Pincang
Sebab pembangunan yang hanya pandai menghitung keuntungan, tetapi tidak pandai menghitung kehilangan, sesungguhnya sedang membangun dengan neraca yang pincang. Kita sering melihat hutan sebagai sumber daya. Padahal bagi masyarakat yang hidup bersamanya, hutan adalah ruang kehidupan.
Kita melihat sungai sebagai saluran air. Padahal bagi masyarakat, sungai sebagai sumber pangan, jalur kehidupan, ruang sosial, dan bagian dari ingatan kolektif. Kita melihat tanah sebagai aset. Padahal bagi banyak komunitas, tanah adalah identitas, sejarah, makam leluhur, sumber penghidupan, dan tempat nilai-nilai diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di sinilah benturan besar itu terjadi. Ketika negara dan korporasi melihat ruang sebagai komoditas, sementara masyarakat melihatnya sebagai kehidupan. Tidak mengherankan kemudian terjadi konflik. Konflik tidak selalu muncul karena masyarakat anti-pembangunan. Sering kali konflik lahir karena masyarakat merasa pembangunan datang tanpa benar-benar memahami kehidupan yang sudah lebih dahulu ada.
Paradoks Adat dan Kehidupan
Mereka tidak sekadar berhadapan dengan sebuah proyek. Mereka berhadapan dengan kemungkinan kehilangan rumah ekologis, identitas budaya, sumber penghidupan, dan masa depan anak-anak mereka. Ironisnya, suara-suara tersebut baru dianggap penting ketika konflik telah membesar. Padahal, masyarakat yang didengarkan sejak awal, jauh lebih murah daripada konflik yang harus diselesaikan bertahun-tahun kemudian.
Kita perlu jujur mengakui sebagian persoalan hari ini bukan semata-mata kegagalan masyarakat menerima perubahan. Bisa jadi justru cara kita membawa perubahan yang bermasalah. Kita datang membawa izin, peta, investasi, dan kalkulasi ekonomi. Tetapi lupa membawa satu hal yang sangat penting: penghormatan terhadap kehidupan yang telah tumbuh disana.
Adat kemudian hanya dijadikan seremoni. Budaya dipertontonkan ketika ada festival. Tradisi dipuji ketika menjadi simbol daerah. Tetapi ketika keputusan menyangkut tanah, hutan, sungai, dan sumber daya alam dibuat, suara adat justru ada di pinggir meja. Ini sebuah paradoks. Kita bangga menyebut masyarakat sebagai pemilik kebudayaan, tetapi tidak selalu memberikan mereka posisi yang layak ketika masa depan ruang hidup mereka ditentukan.
Jika adat hanya dihormati ketika tidak mengganggu kepentingan ekonomi, maka yang kita hormati sebenarnya bukan adatâ€"melainkan kepentingan kita sendiri.
Kepercayaan dan Cara Pandang
Begitu pula dengan alam. Kita berbicara tentang keberlanjutan setelah kerusakan terjadi. Kita menanam kembali setelah hutan ditebang. Kita membersihkan sungai setelah tercemar. Kita melakukan pemulihan setelah konflik membesar. Seolah-olah semua kerusakan dapat diselesaikan dengan program dan anggaran. Padahal tidak semua kehilangan memiliki harga.
Pohon dapat ditanam kembali, tetapi ekosistem tidak serta-merta kembali seperti semula. Sungai dapat dibersihkan, tetapi ingatan masyarakat terhadap kerusakan tidak mudah dihapus. Dan budaya yang tercerabut dari ruang hidupnya dapat kehilangan makna, bahkan ketika tariannya masih dipentaskan dan bahasanya masih diucapkan.
Karena itu, persoalan terbesar kita mungkin bukan kekurangan sumber daya. Persoalan terbesar kita adalah cara pandang. Kita terlalu lama menempatkan alam sebagai objek dan manusia sebagai angka. Padahal pembangunan seharusnya menempatkan manusia, alam, budaya, dan ekonomi sebagai satu kesatuan ekosistem kehidupan.
Pertumbuhan ekonomi memang penting. Investasi memang diperlukan. Korporasi memiliki peran. Tetapi tidak boleh ada gagasan bahwa demi pertumbuhan ekonomi, masyarakat harus kehilangan akar dan alam harus membayar seluruh tagihannya. Ekonomi seharusnya sebagai alat untuk memperbaiki kualitas kehidupan, bukan alasan untuk mengorbankan kehidupan.
Maka yang perlu dibangun bukan hanya industri dan infrastruktur. Yang perlu dibangun adalah kepercayaan. Masyarakat harus dilibatkan sebelum keputusan dibuat, bukan sekadar diberi penjelasan setelah keputusan ditetapkan. Hak dan pengetahuan masyarakat adat harus menjadi bagian nyata dari tata kelola ruang dan sumber daya alam.
Mendefinisikan Ulang Kemajuan
Kajian lingkungan tidak boleh berhenti pada dokumen administratif, tetapi harus menjawab pertanyaan paling penting: apakah pembangunan ini masih menyisakan kehidupan yang layak bagi generasi berikutnya? Korporasi juga harus keluar dari paradigma keberhasilan hanya diukur dari laba dan produksi. Perusahaan yang baik bukan hanya perusahaan yang menghasilkan keuntungan. Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang tumbuh tanpa membuat masyarakat kehilangan martabat dan alam kehilangan daya hidupnya.
Pemerintah pun harus berani mengubah ukuran keberhasilan. Jangan hanya bertanya berapa investasi yang masuk. Tanya pula berapa konflik yang berhasil dicegah. Jangan hanya menghitung pertumbuhan ekonomi. Hitung juga hutan yang tetap berdiri, sungai yang tetap mengalir bersih, budaya yang tetap hidup, dan masyarakat yang tetap memiliki ruang untuk menentukan masa depannya.
Sebab jika seluruh indikator ekonomi terlihat baik sementara konflik sosial meningkat, ekosistem rusak dan masyarakat kehilangan ruang hidup, maka kita perlu berani mengatakan: ada yang salah dalam cara kita mendefinisikan kemajuan.
Peradaban tidak selalu runtuh oleh suara ledakan. Kadang ia tumbang perlahan. Ketika hutan kehilangan pohonnya. Ketika sungai kehilangan kejernihannya. Ketika tanah kehilangan pemilik sosialnya. Ketika adat kehilangan kewibawaannya. Ketika generasi muda kehilangan pengetahuan leluhurnya. Dan ketika masyarakat mulai merasa asing di tanah kelahirannya sendiri.
Pada saat itu, yang sedang hilang bukan sekadar sumber daya alam. Yang sedang runtuh adalah ikatan yang membuat sebuah masyarakat tetap menjadi masyarakat. Karena itu, jangan sampai kita mewariskan kepada anak cucu sebuah negeri yang secara statistik tumbuh, tetapi secara ekologis sakit; secara ekonomi berkembang, tetapi secara sosial terpecah; secara fisik semakin maju, tetapi kehilangan jati dirinya.
Kita tidak sedang memilih antara ekonomi atau lingkungan. Kita sedang memilih jenis peradaban seperti apa yang ingin kita wariskan. Pembangunan yang sejati bukan pembangunan yang meninggalkan sebanyak-banyaknya beton. Bukan pula yang menghasilkan angka pertumbuhan setinggi-tingginya. Pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang membuat manusia semakin sejahtera tanpa harus tercerabut dari akar kehidupannya.
Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak akan bertahan hanya karena memiliki kekayaan alam. Ia bertahan karena masih memiliki hubungan yang sehat antara manusia, tanah, air, hutan, budaya, dan nilai-nilai yang diwariskan leluhurnya. Dan barangkali inilah pertanyaan paling penting yang perlu kita ajukan hari ini.
Apakah kita sedang membangun masa depanâ€"atau hanya sedang menghabiskan masa depan dengan nama pembangunan?
Jika kita terus mencabut akar demi mengejar pertumbuhan, jangan terkejut ketika suatu hari kita menemukan bahwa pohon bernama peradaban itu masih berdiri tegak dari kejauhanâ€"tetapi sesungguhnya sudah lama mati.(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/ketika-akar-dicabut-peradaban-pun-retak.html
komentar Pembaca