Kamis, 13 Agu 2026
  • Home
  • Opini
  • Selamat Datang Wali Kota IMT-GT: Menitip Tropical Green City Framework di Meja Sidang GCMC

Opini

Selamat Datang Wali Kota IMT-GT: Menitip Tropical Green City Framework di Meja Sidang GCMC

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Senin, 03 Agu 2026 08:55
Ketika sebuah kota dipercaya menjadi tuan rumah forum internasional, ada dua pilihan: menjadi penyelenggara yang baik, lalu dilupakan, atau menjadi kota yang melahirkan gagasan, lalu dikenang sepanjang sejarah.

Pada 4"7 Agustus ini, para wali kota dari puluhan kota di Indonesia, Malaysia, dan Thailand datang ke Pekanbaru, membawa satu agenda yang sama: bagaimana membangun kota yang lebih hijau, tangguh, dan berkelanjutan. Kota Bertuah tentu menyambut dengan hangat. Namun sambutan terbaik bagi para tamu bukan hanya protokol dan jamuan, melainkan gagasan yang bisa mereka bawa pulang.


Forum ini diselenggarakan dalam kerangka Indonesia"Malaysia"Thailand Growth Triangle (IMT-GT), kerja sama ekonomi subregional yang berdiri sejak tahun 1993 dan kini melibatkan puluhan provinsi dan negara bagian dari tiga negara. Green Cities Mayor Council (GCMC) adalah salah satu pilar paling hidup dari forum itu, jaringan wali kota yang tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga saling mendorong untuk bergerak lebih cepat menuju keberlanjutan.

Pertanyaannya bukan apakah Pekanbaru siap menjadi tuan rumah yang baik. Tetapi, apakah kita siap memanfaatkan momentum ini untuk sesuatu yang lebih besar dari sekadar seremoni?


Sebagai warga Pekanbaru, penulis ingin menyampaikan gagasan ini sebagai secuil sumbangsih pemikiran.

Metamorfosis Green City

Gagasan kota hijau bukan lahir kemarin. Ia berakar dari pemikiran Ebenezer Howard pada akhir abad ke-19 melalui konsep Garden City di daerah Hertfordshire, sebelah utara kota London, Inggris, sebagai reaksi terhadap kota industri yang pengap dan tidak manusiawi. Howard bermimpi tentang kota yang menyeimbangkan kehidupan urban dengan alam. Taman yang luas, udara bersih, ruang terbuka yang memberi napas bagi warganya. Buku gagasannya, To-Morrow: A Peaceful Path to Real Reform (1898), menjadi salah satu dokumen paling berpengaruh dalam sejarah perencanaan kota modern.

Gagasan itu kemudian berkembang jauh. Pada dekade 1990-an hingga 2000-an, konsep Green City mulai dilembagakan secara global oleh PBB, Bank Dunia, dan Asian Development Bank melalui berbagai indikator, di antaranya adalah efisiensi energi, transportasi berkelanjutan, pengelolaan limbah, ruang terbuka hijau, dan pengurangan emisi.


Di Indonesia, Tahun 2011 Kementerian PUPR menerjemahkannya melalui Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH), sebuah lompatan penting yang memperkenalkan delapan atribut kota hijau kepada pemerintah daerah di seluruh nusantara.

Namun dunia tidak berhenti bergerak. Krisis iklim semakin nyata. Banjir perkotaan semakin sering dan semakin parah. Suhu kota terus meningkat akibat efek pulau panas. Kualitas udara menjadi kekhawatiran publik. Sementara itu, tekanan pelaporan keberlanjutan dan investasi hijau mulai memengaruhi daya saing kota secara langsung.

Dalam situasi seperti ini, Green City tidak lagi bisa dipahami sebatas taman kota, jalur hijau, atau ruang terbuka. Ia telah berevolusi menjadi sebuah sistem tata kelola yang mengintegrasikan kebijakan, kelembagaan, pembiayaan, teknologi, partisipasi masyarakat, dan perubahan perilaku secara menyeluruh. Ini bukan lagi soal apa yang dibangun, melainkan bagaimana seluruh sistem kota dikelola menuju keberlanjutan.

Paradoks Alam Tropis

Ada satu masalah mendasar yang jarang menjadi diskusi publik. Sebagian besar konsep dan indikator Green City yang menjadi rujukan global dikembangkan di kota-kota beriklim sedang di negara-negara Eropa Utara, Amerika Utara dan Asia Timur, yang pada dasarnya memiliki empat musim, curah hujan terdistribusi merata, dan ekosistem yang tidak ada kemiripannya dengan kawasan khatulistiwa.

Padahal kota-kota anggota IMT-GT, seperti Pekanbaru, Medan, Penang, Melaka, Hat Yai, dan Songkhla, memiliki realitas ekologis yang sama sekali berbeda dari kota-kota tempat konsep itu lahir dan berkembang. Curah hujan ekstrem yang bisa mencapai ratusan milimeter dalam satu hari. Kelembapan tinggi sepanjang tahun. Ancaman kabut asap lintas batas. Lahan gambut yang menyimpan karbon dalam jumlah masif sekaligus rentan terhadap kebakaran. Keanekaragaman hayati tropis yang tidak tertandingi. Dominasi sampah organik dalam sistem persampahan kota. Sistem mobilitas perkotaan yang setiap hari berhadapan dengan panas ekstrem, kelembapan tinggi, dan genangan akibat hujan deras.


Perbedaan ini bukan soal derajat, melainkan soal paradigma. Green City konvensional bertanya: bagaimana kita membuat kota lebih hijau? Pertanyaan itu masuk akal di kota-kota yang ekosistemnya relatif sederhana dan ancamannya terprediksikan.

Kota tropis menghadapi dinamika yang berbeda secara fundamental. Banjir kilat akibat hujan ekstrem dalam hitungan jam, bukan banjir musiman yang terprediksikan. Kabut asap yang tidak bisa diselesaikan oleh satu kota sendirian karena bersumber dari lintas batas administratif. Gambut yang jika salah kelola bukan sekadar merusak ekosistem lokal, tetapi melepaskan karbon dalam skala yang memengaruhi iklim global.

Pertanyaan yang lebih tepat untuk kota-kota tropis bukan lagi sekadar “bagaimana menjadi lebih hijau”, melainkan, bagaimana kota dirancang agar benar-benar selaras dengan (bukan melawan) dinamika ekosistem tropis yang unik ini?


Ini bukan sekadar perbedaan iklim. Ini adalah perbedaan tantangan mendasar, yang seharusnya melahirkan pendekatan berbeda pula. Selama ini kita terlalu sering mengadaptasi konsep yang lahir dari pengalaman orang lain, lalu bertanya-tanya mengapa hasilnya tidak optimal.

IMT-GT sebagai Laboratorium yang Tepat

Di sinilah peluang besar yang belum kita manfaatkan sepenuhnya. Kota-kota anggota IMT-GT memiliki keistimewaan yang langka. Setiap kotanya menghadapi tantangan ekologis yang hampir identik, tersebar di tiga negara, dan sudah memiliki mekanisme kolaborasi yang telah berjalan lebih dari tiga dekade. Ini adalah kondisi ideal untuk mengembangkan apa yang saya usulkan sebagai Tropical Green City Framework, kerangka pembangunan kota hijau yang dirancang khusus dari, oleh, dan untuk kota-kota tropis.

Framework ini bukan pengganti konsep Green City yang sudah ada, melainkan sebagai pelengkap khusus untuk wilayah tropis. Beberapa dimensi yang perlu menjadi intinya antara lain: ketahanan terhadap banjir akibat hujan ekstrem, pengelolaan air berbasis siklus alami, perlindungan ekosistem gambut dan mangrove, pendinginan kota berbasis alam (nature-based cooling), pengelolaan kualitas udara termasuk kabut asap lintas batas, ekonomi sirkular berbasis biomassa tropis, dan tata kelola kolaboratif multipihak yang bukan sekadar formalitas.


Yang paling penting, kerangka ini harus lahir dari pengalaman nyata kota-kota tropis, bukan dari adaptasi konsep yang dikembangkan di tempat lain dengan tantangan yang berbeda.

Pekanbaru dan Pilihan Sejarah

Tentu saja, membangun sebuah kerangka baru bukan pekerjaan satu forum. Ia memerlukan riset yang kuat, dialog lintas disiplin dan lintas negara, serta komitmen jangka panjang. Tidak ada yang bisa mengklaim bahwa Tropical Green City Framework akan selesai dirumuskan dalam satu pertemuan.

Tetapi setiap gagasan besar selalu bermula dari satu hal: keberanian untuk memulai percakapan.


Pertemuan GCMC di Pekanbaru dapat menjadi lebih dari sekadar agenda berbagi praktik terbaik antar kota. Ia bisa menjadi titik awal dari kolaborasi ilmiah dan kebijakan yang lebih ambisius, yang pada akhirnya menghasilkan kerangka baru bagi pembangunan kota tropis di Asia Tenggara.

Jika dua dekade lalu Indonesia memperkenalkan P2KH sebagai tonggak awal kota hijau, maka dekade ini adalah saatnya kota-kota tropis mulai memikirkan generasi berikutnya. Pekanbaru memiliki kesempatan yang tidak datang dua kali untuk memulai percakapan itu.

Sejarah akan mengingat kota yang berani melahirkan gagasan " gagasan yang kemudian menginspirasi banyak kota lainnya. Momentum itu ada di tangan kita sekarang.(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/selamat-datang-wali-kota-imtgt-menitip-tropical-green-city-framework-di-meja-sidang-gcmc.html

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki