Sabtu, 10 Okt 2026
  • Home
  • Sosial
  • Dorong Prestasi Terukur, DPRD Pekanbaru Minta Siswa Rumah Tahfiz Ikuti MTQ

Sosial

Dorong Prestasi Terukur, DPRD Pekanbaru Minta Siswa Rumah Tahfiz Ikuti MTQ

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Senin, 07 Sep 2026 21:03
GoRiau.com

PEKANBARU - Minat masyarakat Kota Pekanbaru menitipkan pendidikan agama anak-anaknya ke rumah tahfiz terus mengalami peningkatan. Merespons tren positif tersebut, Anggota DPRD Kota Pekanbaru, Nofrizal mendorong adanya ruang pembinaan yang terintegrasi, salah satunya dengan mengikutsertakan peserta didik rumah tahfiz ke dalam ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) sesuai wilayah domisili.

Langkah ini dinilai penting untuk memberikan rekam jejak prestasi yang jelas bagi anak-anak. Saat ini banyak penerimaan siswa baru jenjang sekolah umum yang membuka jalur tahfiz, namun kerap tidak memiliki standar penilaian yang seragam dan terukur.

"Meningkat karena kesadaran orang untuk menyekolahkan anaknya dan mendapatkan pembelajaran Al-Quran, keagamaan itu semakin meningkat. Ada yang acuh, tapi lebih banyak yang meningkat," bebernya kepada GoRiau.com, Senin (7/9/2026).

Tolok Ukur Prestasi Berjenjang

Melibatkan rumah mengaji dan tahfiz di sekitar masjid dalam kegiatan MTQ tingkat kelurahan hingga kota dinilai bisa menjadi wadah pengukur kemampuan. Nofrizal memaparkan, kompetisi berjenjang tersebut akan menghasilkan bukti prestasi berupa sertifikat yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan dalam proses seleksi siswa baru.

"Kalau rumah-rumah mengaji yang berada di sekitar masjid itu didatangi dan mereka diikutsertakan dalam perlombaan MTQ. Kenapa? Hari ini kan banyak penerimaan siswa baru ada namanya jalur tahfiz. Kita tidak ada tolok ukurnya. Kalau MTQ kan jelas terukur," jelasnya.

Melalui pola berjenjang, anak-anak yang berhasil meraih juara di tingkat kelurahan akan mengantongi sertifikat resmi untuk kemudian berjuang ke tingkat kecamatan dan kota. Hal ini membuat mereka memiliki rekam jejak yang transparan saat mendaftar sekolah melalui jalur prestasi keagamaan.

"Contoh, dia ikut MTQ tiga kelurahan. Ada satu, dua, tiga. Juara satu naik ke kecamatan. Jelas ada sertifikatnya. Satu, dua, tiga, naik ke tingkat kota. Jelas tolok ukurnya," terangnya.

Nofrizal menilai pengembangan sistem tersebut tidak bermaksud mempertentangkan prestasi tahfiz dengan MTQ. Keduanya justru dapat berjalan bersamaan sebagai pembinaan hafalan sekaligus ruang evaluasi kemampuan peserta.

"Ini salah satu rekomendasi, saran, sehingga kedua-duanya itu berjalan dengan baik. Tidak berjalan secara sendiri," tambahnya.

Pemanfaatan Domisili dan Pencarian Bibit Unggul

Pembinaan peserta tidak mengharuskan mereka pindah dari lembaga tempat belajar saat ini. Mereka cukup diarahkan untuk mewakili wilayah tempat tinggalnya dengan berbekal surat keterangan domisili. Dengan demikian, kesempatan berkompetisi tidak hanya didominasi oleh lembaga pendidikan tertentu, tetapi merata hingga ke lingkungan warga.

"Kalau rumah tahfiz itu, bukan mereka setempat. Dia tinggalnya kan di sana itu. Dari itu bisa dibuatkan surat keterangan," urainya.

Pengelolaan berbasis domisili ini juga dinilai akan mempermudah pemerintah dalam mencari dan menjaga keberlanjutan bibit unggul peserta MTQ. Lingkungan masjid dan rumah tahfiz di tingkat kelurahan dapat dioptimalkan sebagai lumbung talenta yang terus dibina.

"Jangan nanti kita mencari bibit susah. Bibit yang ada kita maksimalkan, itu dari situ," tegasnya.

Gagasan ini diharapkan dapat menjadi bahan rumusan mekanisme yang lebih sederhana namun berorientasi pada kualitas pembinaan. Keterlibatan pemerintah daerah, lembaga keagamaan, serta penyelenggara pendidikan sangat dibutuhkan untuk membentuk ekosistem yang transparan bagi generasi penerus di Pekanbaru. ***

Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/dorong-prestasi-terukur-dprd-pekanbaru-minta-siswa-rumah-tahfiz-ikuti-mtq.html

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.