Sosial
LAMR Kepulauan Meranti Ingatkan Pembinaan Generasi Muda di Tengah Isu LGBT
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Sabtu, 03 Okt 2026 19:53
SELATPANJANG - Persoalan pergaulan pelajar yang dikaitkan dengan isu lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Kepulauan Meranti menjadi perhatian Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kepulauan Meranti. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi momentum memperkuat pendidikan karakter, nilai agama dan budaya Melayu di kalangan generasi muda.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Kepulauan Meranti, Datuk Seri Afrizal Cik, S.Sos., M.Si., mengatakan pembinaan generasi muda tidak seharusnya baru dilakukan setelah muncul persoalan.
Menurut Afrizal Cik, nilai Melayu yang menjunjung adab, marwah, sopan santun dan tanggung jawab keluarga perlu terus ditanamkan sejak dini.
"Kita ingin anak-anak Meranti berilmu, berakhlak, memahami adat dan memiliki masa depan yang baik. Pendidikan karakter dan nilai Melayu harus terus diperkuat," ujar Afrizal Cik, Sabtu (3/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pemberitaan mengenai dugaan persoalan relasi antarpelajar yang dikaitkan dengan LGBT di salah satu SMA sederajat di Kepulauan Meranti.
Afrizal Cik menilai persoalan pergaulan remaja tidak bisa dibebankan kepada sekolah seorang diri. Keluarga, pemerintah, tokoh agama, masyarakat hingga lembaga adat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
"Jangan hanya menyalahkan anak. Lingkungan pergaulan, pengawasan keluarga, media sosial dan komunikasi dengan orang tua juga harus menjadi perhatian," katanya.
Sebagai lembaga adat, LAMR Meranti memiliki tanggung jawab moral untuk ikut memperkuat nilai budaya Melayu di tengah perubahan pola pergaulan dan derasnya arus informasi yang diterima generasi muda.
Afrizal Cik mendorong pendidikan adat, agama dan karakter dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan keluarga, sekolah serta berbagai unsur terkait.
"Jangan berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah, sekolah, keluarga, tokoh agama dan lembaga adat harus bergerak bersama menjaga generasi muda Meranti," tegas Afrizal Cik.
Ia juga mengingatkan agar setiap persoalan yang melibatkan pelajar ditangani secara hati-hati. Privasi, hak dan martabat anak harus tetap dijaga, sementara penyelesaian lebih mengedepankan pembinaan dan komunikasi bersama keluarga.
"Anak harus dibina, bukan dipermalukan. Yang utama adalah masa depan mereka," ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA sederajat Kepulauan Meranti, Poyadi, membenarkan adanya persoalan relasi antarpelajar yang dikaitkan dengan isu LGBT di salah satu sekolah.
Poyadi mengatakan pelajar yang bersangkutan telah mendapatkan pembinaan dari pihak sekolah. Ia berharap persoalan tersebut turut mendapat perhatian berbagai pihak sehingga pendampingan terhadap pelajar tidak hanya dibebankan kepada sekolah.