Kamis, 30 Apr 2026
  • Home
  • Ekbis
  • Paket Kebijakan Belum Konkret, Rupiah Terus Melemah

Paket Kebijakan Belum Konkret, Rupiah Terus Melemah

Sabtu, 19 Sep 2015 10:52
Okezone
Ilustrasi Rupiah.
JAKARTA - Paket kebijakan ekonomi Presiden Joko Widodo (Jokowi) belum berdampak pada penguatan Rupiah. Performa mata uang Indonesia ini kian memburuk. Bahkan kurs JISDOR Bank Indonesia menunjukkan nilai tukar Rupiah mencapai Rp 14.463 per dolar AS. Nilai tersebut terburuk sejak Agustus 1998.

Dampak dari pelemahan Rupiah tersebut langsung dirasakan oleh masyarakat bawah. Sebab, Indonesia banyak bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhannya. Termasuk bahan pokok.

"Kita harus prihatin, tentunya tantangan Bank Indonesia, pemerintah bagaimana bisa mengatasi Rupiah ini, karena Rupiah yang melemah ini tidak menguntungkan masyarakat," kata CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) usai menjadi pembicara dalam Program Pengembangan Kepemimpinan Berjenjang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2015, Jumat (18/9/2015).

HT menambahkan, kebijakan yang ada saat ini belum komprehensif. Selain itu masyarakat masih menunggu implementasi dari kebijakan tersebut. "Seringkali kebijakan dan implementasinya bisa tidak konsisten atau memakan waktu lama," kata Ketua Umum Partai Perindo tersebut.

Untuk menguatkan nilai Rupiah, lanjut HT, perlu ada investasi masuk, sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya. Tidak kalah pentingnya untuk mengembalikan kepercayaan pasar, perlu ada kebijakan yang konkret. "Kalau itu dilakukan paling tidak, bisa membuat Rupiah lebih baik," tegasnya.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, efek kebijakan tidak bisa langsung dirasakan dengan cepat. Dia menjelaskan, paket kebijakan yang berisi deregulasi bukan ditujukan secara langsung untuk menurunkan kurs. Akan tetapi, memberikan kemudahan bagi investasi dan perdagangan.

Dia mengatakan, pemerintah memiliki instrumen menjaga stabilitas Rupiah. Salah satu contoh adalah penjualan bond (surat utang) yang nantinya akan menjadi devisa Indonesia.

"Misalnya pemerintah menjual bond boleh saja bond Rupiah apalagi global bond lebih langsung jadi devisa. Kalau sudah masuk ke perbankan dan akan sampai ke BI untuk jadi cadangan devisa," jelas dia.

(okezone.com)
Ekbis
Berita Terkait
  • Rabu, 29 Apr 2026 17:02

    Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil

    BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi.  Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe

  • Rabu, 29 Apr 2026 17:01

    Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII

    Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:59

    Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan

    JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiā€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:57

    Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang

    JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:38

    Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran

    JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.