Busyet, Berikut Bahan Campuran dalam Pembuatan 1 Butir Pil Ekstasi Palsu
Kamis, 24 Des 2015 16:31
Kepala Satuan Reserse Narkoba Polresta Pekanbaru, Kompol Iwan Lesmana Riza, Kamis (24/12/2015) siang di ruangannya membenarkan adanya indikasi peredaran ekstasi palsu di Pekanbaru. Bahkan cara peracikannya jauh lebih sederhana, bila dibandingkan dengan pembuatan ekstasi imitasi (ekstasi dengan kadar rendah,red).
"Dalam 1 bulan ini, ada dua ungkap kasus yang kita lakukan terkait peredaran narkoba, pertama penangkapan terduga pengedar di Kuantan Raya, lalu terduga pengedar yang anggota polisi. Dua kasus ini setelah kita uji lab, barang bukti (ekstasi,red) mereka negatif mengandung MDMA (ekstasi,red)," ulas dia.
Iwan menguraikan, menurut pengakuan mereka, pembuatan ekstasi palsu ini jauh lebih sederhana, dimana hanya cukup mencampurkan bahan-bahan seperti semen putih, pupuk urea, paracetamol, obat malaria dan efedrin (sejenis obat flu,red). Jenis campuran itu, bisa didapatkan dimana saja.
"Bahan-bahan itu yang diduga dicampur dan ditumbuk halus, lalu dicetak ulang dan dipres. Nanti dicetak logo ekstasi serupa bentuk aslinya. Warnanya juga persis sama seperti asli, namun kandungannya sudah pasti berbeda, bahkan mungkin lebih berbahaya bagi kesehatan," sebut Kompol Iwan.
Untuk satu butir pil ekstasi palsu, para pengedar membelinya seharga Rp20 ribu dari tangan sipembuat. Disinilah bisnis haram tersebut menggiurkan, karena setelah diedarkan, harganya bisa naik meroket, dengan nominal Rp200 ribu untuk setiap butirnya. "Mereka (pengedar) tahu kalau itu palsu dan memang niat mereka menjualnya," bebernya.
Kini kepolisian sedang memburu pelaku pembuat dan pencetak ekstasi palsu tersebut. "Kita sedang melakukan pengejaran. Dia ini berinisial B, warga daerah Pangeran Hidayat Pekanbaru. Masih ada dugaan pencetak ekstasi palsu lainnya, itu yang masih kita kembangkan," tutup Kompol Iwan.
Masih terkait hal ini, Kasubbid Dokkes Polda Riau, Kompol Supriyanto,Kamis (24/12/2015) mengatakan, jika dilihat dari bahan pembuatan ekstasi palsu tersebut, memang cukup memberikan dampak berbahaya, jika dikonsumsi dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
"Semen putih sudah tahu kan kalau itu tidak bisa dikonsumsi dan berbahaya, begitu juga pupuk urea. Untuk paracetamol biasanya digunakan sebagai penurun panas, kalau efedrin digunakan sebagai obat flu. Kalau semuanya digabung lalu dikonsumsi berlebihan, maka akan berbahaya, apalagi dilakukan berkesinambungan," singkatnya.(grc)
Kejagung Benarkan Geledah Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (JAMPidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung) melakukan penggeledahan Kantor Badan Gizi Nasional (BGN).Penggeledahan dilakukan setelah Presiden Prabowo Subianto melaku
Balas Serangan AS di Pulau Qeshm, Iran Luncurkan Rudal ke Bahrain dan Kuwait
JAKARTA â€" Iran melancarkan serangan terhadap aset militer Amerika Serikat (AS) di Kuwait dan Bahrain pada Selasa (2/6/2026). Serangan ini merupakan pembalasan setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mela
Swasembada Pangan, Bhabinkamtibmas Polres Inhu Sambangi Petani Jagung Menulis
INHU - Upaya mendukung program swasembada dan ketahanan pangan nasional terus dilakukan jajaran Polres Indragiri Hulu (Inhu). Melalui peran aktif Bhabinkamtibmas di desa binaan, kepolisian hadir membe
Asyik Foto Usai Ujian, Mahasiswi UNP Padang Terkapar Kena Peluru Nyasar
PADANG-Momen kebahagiaan usai kelulusan ujian di lingkungan Universitas Negeri Padang (UNP) berubah mencekam dalam sekejap. Dua orang mendadak terkapar akibat hantaman peluru nyasar di lapangan gedung
Polsek Tanah Putih Bersama Tim Gabungan Berhasil Padamkan Karhutla
TANAH PUTIH-Tim gabungan yang terdiri dari personel Polri, TNI, BPBD, DLHK, Masyarakat Peduli Api (MPA), perangkat kepenghuluan, dan unsur terkait lainnya melaksanakan kegiatan pemadaman serta pending