- Home
- Internasional
- Duh! Kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh Hancur Dihantam Badai
Internasional
Duh! Kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh Hancur Dihantam Badai
Selasa, 26 Feb 2019 16:52
Seperti dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, Selasa (26/2/2019), badai ini menerjang area kamp Kutupalang yang ada di distrik Cox's Bazar, Bangladesh, pada Senin (25/2) waktu setempat. Penghuni kamp pengungsian itu menyebut sejumlah bangunan di kamp itu rusak akibat badai.
"Kami dalam masalah serius. Khususnya kaum wanita yang menderita karena kebanyakan toilet diterbangkan badai," sebut Ansar Ali selaku pemimpin pengungsi Rohingya di Kamp Kutupalang.
Salah satu pengungsi Rohingya yang tinggal di Modhur Chara, Kamp Kutupalang, Ayesha Akter menuturkan kepada Anadolu Agency bahwa para penghuni kamp kini terpaksa berteduh di area terbuka.
"Tolong perbaiki toilet kami segera," ucap Ayesha. "Kami sudah terbiasa hidup di bawah langit terbuka tanpa tempat berteduh tapi bagaimana kami bisa hidup tanpa toilet?" imbuhnya.
Secara terpisah, Ziaul Haque dari Kamp Kutupalang menuturkan kepada Anadolu Agency bahwa musim badai telah dimulai. "Jika kami menghadapi situasi seperti saat ini sekarang, apa yang akan terjadi di masa mendatang ketika badai atau topan yang lebih besar menerjang kami?" ujarnya.
Lebih lanjut, Ziaul mendorong pemerintah Bangladesh dan badan kemanusiaan internasional untuk membangun tempat berteduh yang bisa bertahan menghadapi musim penghujan mendatang, yang biasanya diwarnai badai besar, tornado dan angin ribut.
"Bahkan seng tipis yang dipakai sebagai pagar dan atap pada beberapa tenda juga diterbangkan badai," ujar pengungsi bernama Osman Gani yang menyerukan bantuan segera.
"Kami akan memeriksa persoalan ini pada pagi hari dan merekomendasikan kepada otoritas terkait untuk memberikan bantuan mendesak," tegasnya.
Menurut Amnesty International, lebih dari 750 ribu pengungsi Rohingya yang kebanyakan wanita dan anak-anak melarikan diri dari Myanmar dan mengungsi ke Bangladesh demi menghindari operasi militer sarat kekerasan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan pemerkosaan massal, pembunuhan -- termasuk terhadap bayi dan anak-anak -- hingga penganiayaan banyak dilakukan tentara Myanmar dalam operasinya. Penyidik PBB bahkan menyatakan pelanggaran semacam itu mungkin mengarah pada kejahatan kemanusiaan. Tuduhan-tuduhan itu telah dibantah militer Myanmar berkali-kali.
Sumber: detik.com
Internasional
Viral! Pria Ini Naik Gunung Andong Bawa Sound System, Netizen: Emang Boleh?
JAKARTA - Viral di media sosial sebuah video yang memperlihatkan aksi seorang pendaki membawa sound system berukuran besar saat mendaki gunung. Video tersebut diunggah oleh akun TikTok
Mitos atau Fakta: Pakai Tas Selempang Berat Bikin Tulang Belakang Melengkung ke Samping?
BANYAK orang mengira memakai tas selempang berat hanyalah kebiasaan sepele. Padahal dalam jangka panjang, tas selempang berat bisa berdampak pada postur tubuh.Salah satu isu yang s
Kenapa Vaksin Meningitis Wajib Sebelum Haji dan Umrah? Ini Penjelasannya
JAKARTA â€" Calon jemaah haji dan umrah diwajibkan menjalani vaksinasi meningitis sebelum berangkat ke Arab Saudi. Kebijakan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai langkah pencegahan
AS Akan Kembali Berlakukan Eksekusi Mati dengan Regu Tembak dan Kamar Gas
JAKARTA â€" Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) pada Jumat (24/4/2026) menyatakan bahwa negara itu akan kembali menerapkan regu tembak, hukuman mati dengan sengatan listrik, dan asfiksia ga
Tampang Pelaku Penembakan di Acara Gedung Putih hingga Sebabkan Trump Dievakuasi
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pelaku penembakan saat makan malam koresponden Gedung Putih, Sabtu (25/4/2026), sudah ditangkap. Saat kejadian, T