Liputan6.com
Presiden Joko Widodo (kiri) memberikan sambutan ketika pembukaan KTT tentang Wasathiyah Islam di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/5). KTT ini dihadiri sekitar seratus ulama dan cendekiawan muslim dunia.
Bogor - Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengecam pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Kecaman itu disampaikan Jokowi saat membuka Pertemuan Trilateral
Ulama Afghanistan-Indonesia-Pakistan Tentang Perdamaian dan Stabilitas
di Afghanistan di Istana Bogor hari ini.
Peresmian Kedubes AS di Yerusalem akan berlangsung pada Senin, 14 Mei 2018.
"Indonesia mengecam keras keputusan ini (pemindahan Kedubes AS ke
Yerusalem)," kata Jokowi di hadapan para ulama
Afghanistan-Indonesia-Pakistan.
Jokowi mengatakan, keputusan untuk memindahkan Kedubes AS ke Yerusalem, melanggar resolusi Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB.
"Oleh karena itu saya mengusulkan agar DK dan Majelis Umum PBB
membahas isu tersebut dan mengambil langkah selanjutnya," tambah Jokowi.
Presiden Jokowi juga meminta negara lain untuk tidak mengikuti langkah Amerika Serikat memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem.
Pemindahan itu, kata Jokowi, mengganggu proses perdamaian dan mengancam perdamaian itu sendiri.
"Indonesia akan berjuang untuk Palestina. Dan Palestina akan terus berada dalam nafas diplomasi Indonesia," kata Jokowi.
Sebelumnya,
Kedubes AS di Israel berlokasi di Tel Aviv. Dan perpindahan perwakilan
diplomatik ini menegaskan kebijakan Donald Trump yang mengakui Yerusalem
sebagai ibu kota Israel.
Keputusan Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota
Israel, praktis "bertentangan" dengan kebijakan luar negeri AS yang
telah berjalan selama tujuh dekade.
Selama tujuh dekade, AS bersama dengan hampir seluruh negara lainnya
di dunia, menolak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sejak
negara itu mendeklarasikan pendiriannya pada 1948.
Sementara, menurut Donald Trump, kebijakan penolakan tersebut membawa
seluruh pihak "tidak mendekati kesepakatan damai antara
Israel-Palestina."
Bagi Palestina, Yerusalem merupakan isu yang sangat sensitif.
Keputusan Donald Trump sekaligus telah meruntuhkan status Negeri
Paman Sam sebagai mediator perdamaian, mengingat status Yerusalem
sebagai ibu kota tak hanya diakui oleh Israel, namun juga Palestina.
Palestina mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara mereka di
masa depan dan hal ini mendapat dukungan dari masyarakat internasional.
(Liputan6.com)
Internasional