Liputan6.com
Seorang lelaki memeluk bocah saat berada di sebuah tempat penampungan sementara di Jibrin di pinggiran timur Aleppo, Jumat (21/4). Pengungsi adalah warga dari kota Fuaa dan Kafraya. (AFP PHOTO / George OURFALIAN)
Damaskus - Sekumpulan besar pemberontah Suriah
dilaporkan menarik diri dari kantong pertahanan terakhir mereka.
Ratusan orang militan telah naik bus bersama dengan keluarga mereka,
meninggalkan basis perjuangan di bagian tengah Suriah, antara distrik
Homs dan Hama.
Melalui kesepakatan dengan pemerintah yang didukung oleh Rusia, para
militan telah diberi akses yang aman ke wilayah yang dikuasai oposisi di
Suriah utara.
Dikutip dari BBC pada Selasa (8/5/2018), para militan
sepakat untuk berkompromi dengan pemerintah, setelah pengepungan panjang
salama berbulan-bulan.
Satu-satunya wilayah Suriah yang masih berada di tangan pemberontak
terletak di sepanjang area pebatasan di ujung utara dan selatan negara
itu.
Ketentuan itu disepakati setelah pembicaraan maraton antara faksi-faksi Tentara Pembebasan Suriah dan para jenderal Rusia di distrik Homs pada Rabu, 2 Mei 2018.
Senjata berat milik pemberontak telah diserahkan ke pemerintah, dan
mereka dibiarkan pergi dengan bus menuju provinsi Idlib yang dikuasai
pihak oposisi di wilayah timur laut.
Adapun pengawalan polisi militer Rusia dimaksudkan untuk menjaga bus,
dan melindungi warga sipil Muslim Sunni yang tinggal di bekas daerah
kantong pemberontak, dari serangan balas dendam sektarian oleh Alawit
yang tinggal di dekatnya.
Menurut kesaksian masyarakat setempat, wilayah kantong pemberontak
itu, yang mencakup kota Rastan, dijatuhi bom berat oleh pesawat Rusia
sebelum kesepakatan terkait disetujui.
"Mereka meninggalkan pemberontak tanpa opsi setelah membom warga
sipil, dan tidak memberi pilihan untuk menyerahkan atau melenyapkan
daerah mereka," kata Abul Aziz al Barazi, salah seorang perunding
oposisi sipil.
Migrasi para pemberontak Suriah
itu diperkirakan akan memakan waktu dua hari, dengan jumlah ribuan
orang yang diangkut bergantian menggunakan bus dari Rastan sejak Senin, 7
Mei 2018.
Setelah
tujuh tahun perang, pemerintahan Presiden Bashar al-Assad, yang
didukung oleh militer Rusia dan Iran, kembali menguasai sebagian besar
wilayah tengah Suriah, termasuk kota kedua terbesar, Aleppo.
Jatuhnya wilayah pertahanan pemberontak antara Homs dan Hama, juga
berarti mengamankan kembali akses jalan nasional M5 -- menghubungkan
Aleppo dan Damaskus melalui Homs -- yang telah lama ditutup akibat
perang.
Pasukan pemberontak sekarang terkonsentrasi di provinsi Idlib, di
mana puluhan ribu pejuang dan keluarga mereka tiba dari bekas wilayah
pertananan Ghouta Timur bulan lalu.
Di saat bersamaan, para pemberontak juga masih menguasai sebagian provinsi Deraa di ujung barat daya.
Di tempat lain di negara itu, Turki, khawatir dengan pertumbuhan
pengaruh Kurdi di Suriah, di mana baru-baru ini merebut wilayah Afrin
yang dikendalikan oleh milisi Kurdi YPG Suriah.
Di dekatnya, Amerika Serikat terus mendukung pasukan Demokrat Suriah
yang didominasi Kurdi, dalam operasi mereka yang berkelanjutan terhadap
kelompok Negara Islam.
Sementara itu, menurut Observatorium Suriah yang berbasis di Inggris
untuk Hak Asasi Manusia, selama tujuh tahun perang, lebih dari 400.000
orang telah tewas atau dilaporkan hilang,
Lebih dari setengah populasi yang berjumlah 22 juta jiwa, telah
diusir dari rumah mereka dengan sedikitnya 6,1 juta warga Suriah
terlantar, dan 5,6 juta lainnya mengungsi ke luar negeri, seperti salah
satunya di Lebanon.
(Liputan6.com)
Internasional