Minggu, 03 Mei 2026
  • Home
  • Internasional
  • Sering Disangka Swiss, Raja Swaziland Ubah Nama Negaranya Jadi eSwatini

Internasional

Sering Disangka Swiss, Raja Swaziland Ubah Nama Negaranya Jadi eSwatini

Sabtu, 21 Apr 2018 10:01
(Wikimedia Commons)
Raja Mswati III dari Swaziland

Mbabane - Raja Mswati III dari Swaziland -- sebuah negara monarki absolut terakhir dan satu-satunya di Afrika modern -- secara resmi mengumumkan mengubah nama negaranya menjadi Kerajaan eSwatini pada Kamis, 19 April 2018.

Deklarasi perubahan nama itu bertepatan pada perayaan Kemerdekaan Swazi yang ke-50 tahun dan dirgahayu Raja Mswati III yang turut memasuki usia kepala lima. Demikian seperti dikutip dari Time (20/4/2018).

Pada beberapa kesempatan sebelumnya, sang raja telah merujuk Swaziland dengan nama 'eSwatini' atau 'tanah Swazi' dalam bahasa Swati -- termasuk dalam Sidang Majelis Umum PBB pada tahun 2017 lalu.

Nama Swaziland sendiri merupakan cara penyebutan 'tanah Swazi' dalam Bahasa Inggris -- yang digunakan sejak Britania Raya melakukan kolonisasi pada tahun 1968.

Oleh karenanya, menurut Raja Mswati, perubahan itu menandai pengembalian nama resmi negara Swaziland ke aslinya, eSwati, serta menyimbolkan akhir dari kolonisasi Inggris.

Di sisi lain, sang raja menambahkan bahwa penggantian nama juga membantu menyelesaikan masalah kemiripan nama dengan negara lain.

"Setiap kali kami pergi ke luar negeri, orang-orang sering menyebut nama negara kami Swiss (Switzerland, dalam penyebutan Bahasa Inggris)," kata Raja Mswati III.

Mswati, yang merupakan putra dari raja sebelumnya Sobhuza II dan dilaporkan memiliki 15 istri, dinobatkan pada 1986 dan memerintah dengan dekrit.

Selama berkuasa, Mswati kerap dikritik atas catatan buruk hak asasi manusia rezimnya.

Ia juga dikecam atas kebiasaannya menjalani gaya hidup mewah -- kontradiktif dengan statusnya sebagai pemimpin negara kecil landlocked berpenghasilan menengah-ke-bawah (low income country), masuk dalam daftar pengidap HIV/AIDS tertinggi di dunia, dengan pertanian tradisional sebagai sektor mata pencaharian utama penduduknya.

(Liputan6.com)

Internasional
Berita Terkait
  • Minggu, 03 Mei 2026 16:50

    May Day, Megawati: Buruh Bukan Sekadar Faktor Produksi dalam Angka Ekonomi

    JAKARTA - Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menegaskan, kaum buruh bukan sekadar faktor produksi dalam angka ekonomi. Baginya, kelas pekerja menjadi orientasi kemandirian ba

  • Minggu, 03 Mei 2026 16:39

    Ribuan Orang Dievakuasi Setelah Gunung Mayon di Filipina Erupsi

    )JAKARTA �" Ribuan orang telah dievakuasi dari berbagai kota di Provinsi Albay, Filipina, setelah Gunung Mayon meletus pada Sabtu (2/5/2026. Pihak berwenang menyatakan bahwa sedikitnya 52 desa

  • Minggu, 03 Mei 2026 16:16

    Empat Pelaku Perampokan Maut di Pekanbaru Diringkus di Aceh Tengah dan Binjai

    PEKANBARU  - Pelarian empat pelaku pencurian dengan kekerasan (curas) yang menewaskan seorang lansia di Kecamatan Rumbai berakhir di tangan polisi. Tim gabungan Resimen Mobil Kejahatan dan Kekera

  • Minggu, 03 Mei 2026 11:39

    7 Manfaat Rutin Minum Air Lemon Hangat, Bisa Turunkan Risiko Batu Ginjal!

    TUJUH manfaat bisa didapat dari rutin minum air lemon hangat. Bahkan, minum air lemon hangat bisa menurunkan risiko batu ginjal.Minum air lemon hangat sendiri sering jadi kebiasaan

  • Minggu, 03 Mei 2026 11:37

    Susah Tidur meski Badan Lelah? Biji Pala Ternyata Bisa Bantu Atasi Insomnia Ringan

    TIDUR nyenyak setelah seharian beraktivitas menjadi satu hal yang diinginkan oleh semua orang. Namun terkadang, ada saja kondisi di mana badan sudah lelah namun kamu masih sulit untuk tidur.Konte

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.