(Wikimedia Commons)
Raja Mswati III dari Swaziland
Mbabane - Raja Mswati III dari Swaziland
-- sebuah negara monarki absolut terakhir dan satu-satunya di Afrika
modern -- secara resmi mengumumkan mengubah nama negaranya menjadi
Kerajaan eSwatini pada Kamis, 19 April 2018.
Deklarasi perubahan nama itu bertepatan pada perayaan Kemerdekaan
Swazi yang ke-50 tahun dan dirgahayu Raja Mswati III yang turut memasuki
usia kepala lima. Demikian seperti dikutip dari Time (20/4/2018).
Pada beberapa kesempatan sebelumnya, sang raja telah merujuk
Swaziland dengan nama 'eSwatini' atau 'tanah Swazi' dalam bahasa Swati
-- termasuk dalam Sidang Majelis Umum PBB pada tahun 2017 lalu.
Nama Swaziland
sendiri merupakan cara penyebutan 'tanah Swazi' dalam Bahasa Inggris --
yang digunakan sejak Britania Raya melakukan kolonisasi pada tahun
1968.
Oleh karenanya, menurut Raja Mswati, perubahan itu menandai pengembalian nama resmi negara Swaziland ke aslinya, eSwati, serta menyimbolkan akhir dari kolonisasi Inggris.
Di
sisi lain, sang raja menambahkan bahwa penggantian nama juga membantu
menyelesaikan masalah kemiripan nama dengan negara lain.
"Setiap kali kami pergi ke luar negeri, orang-orang sering menyebut
nama negara kami Swiss (Switzerland, dalam penyebutan Bahasa Inggris),"
kata Raja Mswati III.
Mswati, yang merupakan putra dari raja sebelumnya Sobhuza II dan
dilaporkan memiliki 15 istri, dinobatkan pada 1986 dan memerintah dengan
dekrit.
Selama berkuasa, Mswati kerap dikritik atas catatan buruk hak asasi manusia rezimnya.
Ia juga dikecam atas kebiasaannya menjalani gaya hidup mewah -- kontradiktif dengan statusnya sebagai pemimpin negara kecil landlocked berpenghasilan menengah-ke-bawah (low income country),
masuk dalam daftar pengidap HIV/AIDS tertinggi di dunia, dengan
pertanian tradisional sebagai sektor mata pencaharian utama penduduknya.
(Liputan6.com)
Internasional