- Home
- Internasional
- Terkait Teror Christchurch, Australia-Turki Alami Ketegangan Diplomatik
Internasional
Terkait Teror Christchurch, Australia-Turki Alami Ketegangan Diplomatik
Rabu, 20 Mar 2019 13:59
Presiden Erdogan sebelumnya menyatakan, siapa pun yang masuk ke Turki dengan sentimen anti Islam akan dipulangkan ke negara asalnya dalam peti jenazah.
Dia merujuk ke ribuan pasukan Australia dan Selandia Baru (Anzac) yang tewas setelah mengalami kekalahan dalam Perang Dunia I di Gallipoli, Turki.
Menanggapi hal ini, PM Morrison telah memanggil Dubes Turki di Canberra Korhan Karako hari Rabu (20/3/2019). Namun dia menyatakan tidak puas dengan penjelasan sang dubes.
Australia juga menyatakan akan meninjau peringatan bepergian (travel warning) ke Turki bagi warganya.
"Saya tidak dapat menerima alasan yang disampaikan terkait pernyataan itu," ujar PM Morrison usai pertemuannya dengan Dubes Karako.
Presiden Erdogan mengecam Anzac yang ikut berperang dengan Inggris di Gallipoli. Dia mengancam mereka yang datang ke Turki dengan sentimen anti-Islam akan dikembalikan dalam peti jenazah seperti nenek moyangnya.
PM Morrison menegaskan pihaknya meminta pernyataan itu ditarik kembali dan TV pemerintah Turki meluruskan kesalahan interpretasi kebijakan Australia.
Jika tidak dipenuhi, kata Morrison, pihaknya akan mengambil tindakan lebih lanjut.
"Saya menunggu apa tanggapan Pemerintah Turki sebelum mengambil tindakan lebih lanjut," ujarnya.
Pemimpin Oposisi Bill Shorten juga mengecam pernyataan Erdogan.
Sebelumnya PM Morrison mengaku tersinggung dengan pernyataan Erdogan.
Presiden Turki yang berkampanye menjelang pemilu lokal akhir bulan ini menegaskan penembakan jamaah masjid jadi bukti meningkatnya kebencian dan prasangka terhadap Islam.
Pengiriman pasukan Anzac ke Gallipoli dalam Perang Dunia I, katanya, bermotifkan sikap anti-Islam.
"Nenek moyangmu datang ke sini dan mereka kembali dalam peti jenazah," ujar Presiden Erdogan.
"Tak ada keraguan, kami akan mengirimmu kembali seperti nenek moyangmu itu," tambahnya.
Presiden Erdogan menilai Turki bertindak keliru karena menghapuskan hukuman mati 15 tahun lalu.
Dia meminta Selandia Baru membuat aturan hukum yang memungkinkan pelaku teror di Christchurch bisa dihukum mati.
Sumber: detik.com
Internasional
Lewat Literasi Digital, PHR Dukung Wartawan Semakin Adaptif dan Profesional
DURI - Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan kompleksitas informasi industri hulu migas, kolaborasi solid antara industri dan jurnalis menjadi kunci utama dalam mengawal kedaulatan energi nas
Kodim 1714/Puncak Jaya Laksanakan Kegiatan Jumat Sehat
Mulia â€" Kodim 1714/Puncak Jaya kembali melaksanakan kegiatan Jumat Sehat yang diikuti oleh prajurit dan anggota Persit KCK Cabang XLI Dim 1714/PJ. Kegiatan ini merupakan agenda rutin satuan yang ber
Hadir di Ttengah Kesulitan, Satlantas Polres Inhu Salurkan Air Bersih untuk Warga
RENGAT-Kepedulian terhadap sesama ditunjukan jajaran Satuan Lalulintas (Satlantas) Polres Indragiri Hulu (Inhu) yang hadir ditengah kesulitan warga yang membutuhkan, dengan menyalurkan bantuan air ber
Tepis Isu Sulit Dikonfirmasi, Kabid Humas Polda Riau Jelaskan Aturan Baru Ekspos Berita Sesuai Perkap Nomor 6 Tahun 2023
PEKANBARU - Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Kepolisian Daerah (Polda) Riau, Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, SH, MSi memaparkan mekanisme terbaru terkait komunikasi publik di lingkung
Lewat Literasi Digital, PHR Dukung Wartawan Semakin Adaptif dan Profesional
DURI, 19 Juni 2026 â€" Di tengah derasnya arus disrupsi teknologi dan kompleksitas informasi industri hulu migas, kolaborasi solid antara industri dan jurnalis menjadi kunci utama dalam mengawal kedau