Liputan6.com
Telan Sampah 30 Kg, Ini Penyebab Kematian Paus Sperma di Spanyol (Twitter: Espacios Naturales Murcia)
Murcia - Pada Februari 2018 lalu, warga dan
petugas mercusuar di sebuah pantai di Murcia, Spanyol, dibuat kaget.
Pasalnya, mereka menemukan seekor paus sperma terdampar, sekarat dan tak lama kemudian mati.
Setelah autopsi, ternyata, paus sperma yang diketahui masih remaja itu mati karena terdapat 30 kg sampah di dalam perutnya.
Dalam perut paus sepanjang 10 meter itu, ditemukan tas plastik, sedotan, tali, jaring, dan potongan plastik lainnya.
Menurut dokter dari El Valle Wildlife Recovery Centre yang
mengautopsi paus mengatakan, hewan malang itu tidak mampu mencerna atau
mengeluarkan sampah yang mengakibatkan kematiannya. Demikian seperti
dikutip dari ABC.net.au pada Kamis (12/4/2018)
Kemungkinan paus sperma
itu mati karena peritonitis, sebuah peradangan jaringan yang melapisi
perut, yang biasanya disebabkan oleh infeksi atau lubang di usus.
Paus sperma kebanyakan makan cumi-cumi raksasa, dan kerap menyelam sedalam hampir 1 kilometer untuk mencari makanan.
Mereka juga sesekali makan gurita, hiu kecil, kepiting, udang dan ikan.
Sejauh ini Departemen Pariwisata setempat telah meluncurkan kampanye
anti-sampah untuk mencoba mengurangi jumlah sampah yang tersisa di
perairan Murcia.
"Kehadiran plastik di laut dan lautan adalah salah satu ancaman
terbesar bagi pelestarian satwa liar di seluruh dunia," kata Consuelo
Rosauro, dari Pemerintah Murcian.
"Banyak hewan terperangkap di tempat sampah atau menelan sejumlah besar plastik yang akhirnya menyebabkan kematian mereka."
Polusi plastik adalah masalah besar bagi laut. Tak terkecuali Indonesia dan Australia.
Bulan lalu seorang penyelam berbagi video tentang plastik mengambang
di tempat menyelam yang populer di Bali, mengatakan bahwa dia tidak
pernah melihat sesuatu seperti itu sebelumnya.
Dan awal tahun ini, relawan proyek pembersihan bawah tanah di Manly
Cove, Australia menemukan gurita memegangi sedotan plastik di
tentakelnya.
Kampanye kesadaran tentang bahaya plastik bagi ekologi laut telah
bergulir sejak lama. Terutama karena sejumlah hewan laut, terutama paus sperma tidak sadar telah menelan kantong-kantong plastik yang mengapung sampai ke laut.
Kematian
paus sperma dengan lambung penuh plastik telah menjadi masalah pelik.
Pada 2016, sedikitnya 13 ekor mamalia ditemukan mati dengan dengan perut
penuh plastik di Toenning di Schleswig-Holstein, Jerman.
Para ilmuwan menduga mereka menderita serangan jantung yang diakibatkan oleh kelaparan.
"Temuan ini menunjukkan kepada kita tentang masyarakat yang
tergila-gila pada plastik," kata Robert Habeck, Menteri Lingkungan Hidup
Schleswig-Holstein Robert Habeck.
"Hewan-hewan itu secara tidak sadar menyantap plastik dan sampah
plastik yang menyebabkan mereka menderita. Dan, paling buruknya,
kelaparan. Mereka merasa lambung penuh sehingga tak bisa makan."
Semua paus itu berkelamin jantan, berusia antara 10 hingga 15 tahun,
dengan berat antara 32 hingga 41 ton. Para pakar menduga badai di
kawasan timur laut Atlantik menghanyutkan sumber makanan paus ke Laut
Utara.
Paus-paus itu mengikuti sumber makanan mereka dan terdampar di perairan dangkal sehingga kelaparan sampai akhirnya mati.
(Liputan6.com)
Internasional