Minggu, 03 Mei 2026

Internasional

Turki dan Prancis Bertikai Soal Rekaman Pembunuhan Khashoggi

Selasa, 13 Nov 2018 15:07
Detik.com
Ankara - Turki bertikai dengan Prancis terkait rekaman pembunuhan wartawan Arab Saudi Jamal Khashoggi. Turki menyebut komentar Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian 'tak bisa diterima' dan 'tak sopan' karena menuduh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan 'permainan politik'.

Erdogan, pada Sabtu (10/11), mengungkapkan bahwa Turki telah menyerahkan sejumlah rekaman terkait pembunuhan Khashoggi kepada beberapa negara. Negara-negara yang dimaksud adalah Arab Saudi, Amerika Serikat, Prancis, Inggris dan Jerman.

Dalam wawancara dengan televisi France 2 pada Senin (12/11), Menlu Le Drian menyebut dirinya 'untuk saat ini tidak menyadari' adanya informasi yang diberikan oleh Turki. Saat ditanya apakah Erdogan berbohong, Le Drian menjawab: "Itu berarti dia (Erdogan-red) memiliki permainan politik untuk dimainkan dalam situasi ini."

Seperti dilansir AFP, Selasa (13/11/2018), komentar Le Drian itu memancing kegeraman Turki. Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki, Fahrettin Altun, dan Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu sama-sama memberikan pernyataan keras atas komentar tersebut.

"Kami mendapati ini tidak bisa diterima bahwa dia menuduh Presiden Erdogan 'memainkan permainan politik'," sebut Altun dalam pernyataan tertulis kepada AFP. "Jangan lupakan bahwa kasus ini sudah ditutup-tutupi jika bukan karena upaya penuh tekad dari Turki," imbuhnya.

Dituturkan Altun bahwa otoritas Turki menyerahkan bukti terkait pembunuhan Khashoggi kepada sejumlah negara, termasuk Prancis. "Saya mengonfirmasi bahwa bukti terkait pembunuhan Khashoggi juga diserahkan kepada lembaga terkait pada pemerintahan Prancis," imbuhnya.

Menurut Altun, seorang perwakilan dari intelijen Prancis telah mendengarkan rekaman audio dan memeriksa informasi detail termasuk transkrip percakapan pada 24 Oktober lalu.

"Jika ada miskomunikasi antara berbagai lembaga pemerintahan Prancis, itu bergantung pada otoritas Prancis, bukan Turki, untuk mengurusi persoalan itu," tegasnya. "Turki terus melanjutkan penyelidikan kasus ini agar semua detail terungkap," tandas Altun.

Secara terpisah, Menlu Cavusoglu menyebut tuduhan dari Menlu Le Drian itu mengarah pada 'ketidaksopanan'. "Tidak cocok dengan keseriusan seorang Menteri Luar Negeri," ujarnya sembari menuduh Menlu Le Drian telah 'melanggar wewenangnya'

Memberikan tanggapan, Kementerian Luar Negeri Prancis menyebut adanya 'kesalahpahaman'. Disebutkan bahwa informasi yang disediakan Turki belum mengarah pada 'kebenaran seutuhnya', termasuk soal siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu.

"Yang kami pedulikan adalah kebenaran seutuhnya, bukan hanya rekaman dari Turki ... kebenaran seutuhnya juga dicari di Riyadh dan dalam pertukaran dengan mitra-mitra kami yang lain," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Prancis.


(detik.com)
Internasional
Berita Terkait
  • Sabtu, 02 Mei 2026 22:26

    Salurkan Beasiswa Nasional, Langkah BNI Dukung Pemerataan Pendidikan

    JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI terus memperkuat komitmennya terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, sejalan dengan semangat Hari Pendidikan Nasional (Har

  • Sabtu, 02 Mei 2026 22:24

    Harga BBM BP dan Vivo Naik Jadi Rp30.890 per Liter di Mei 2026, Pertamina Kapan?

    JAKARTA - Harga BBM di SPBU swasta seperti Vivo dan BP naik pada 1 Mei 2026. SPBU Vivo dan BP kompak menaikkan harga BBM menjadi Rp30.890 per liter.Vivo menaikkan harga BBM jenis Primus Diesel Pl

  • Sabtu, 02 Mei 2026 22:21

    Menko Yusril Tegaskan Fungsi Komnas HAM Tak Bisa Diambil Pemerintah

    JAKARTA â€" Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan bahwa posisi Komnas HAM harus diperkuat. Ia menilai fungsi pengawasan dan penegak

  • Sabtu, 02 Mei 2026 22:05

    23 Calon Jemaah Haji Gagal Berangkat, Ketahuan Pakai Visa Nonprosedural

    JAKARTA â€" Direktorat Jenderal Imigrasi kembali menunda keberangkatan calon jemaah haji asal Indonesia yang menggunakan visa nonprosedural. Kali ini, sebanyak 23 orang dicegah berangkat saat hen

  • Sabtu, 02 Mei 2026 22:03

    May Day di Jakarta, Ratusan Aktivis hingga Pejabat Negara Serukan Kesejahteraan Buruh

    JAKARTA - Ratusan aktivis lintas generasi, tokoh nasional, serta sejumlah pejabat pemerintahan menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional yang digelar di Jakarta, Jumat 1 Mei 2026.Kegiatan te

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.