Puan Seharusnya Ikut Di-reshuffle
Kamis, 13 Agu 2015 08:28
JAKARTA-Reshuffle kabinet akhirnya dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) setelah sekian lama ramai diperbincangkan publik. Lima kementerian mendapatkan pimpinan baru ditambah lagi dengan satu jabatan setingkat menteri.
Pengamat Politik Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus mengatakan, melihat nama-nama menteri yang diganti sebenarnya sudah kelihatan bahwa Jokowi telah merespon kritik yang disampaikan publik selama ini terkait kinerja kabinetnya.
"Nama-nama seperti Tedjo Edhy Purdijatno, Indroyono Soesilo, Gobel, dan Andi Widjajanto memang banyak disebut-sebut sebagai kandidat kuat menteri dan pejabat setingkat menteri yang mesti di-reshuffle," ujarnya, Kamis (13/8/2015).
Sementara pengganti keenam posisi yang di-reshuffle juga bukan wajah-wajah baru, kecuali Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong. Dengan demikian, Lucius menulai, reshuffle perdana ini cukup membangkitkan optimisme terhadap keberlangsungan Kabinet Kerja.
"Jokowi nampak masih punya independensi untuk menentukan siapa yang akan menduduki jabatan strategis sebagai menteri. Tak begitu nampak ada intervensi kuat dari parpol, walau tak bisa dibilang tak ada sama sekali," katanya.
Menurutnya, kehadiran Pramono Anung dan Rizal Ramli bisa dianggap mewakili kepentingan elite PDIP, selain juga dikenal dekat dengan Jokowi. Walau keduanya mempunyai kapasitas, akan tetapi tetap saja tak dipungkiri ada kepentingan Jokowi untuk terus didukung oleh PDIP.
"Luhut Panjaitan juga bukan orang baru dan dikenal sangat dekat dengan Jokowi. Dengan demikian faktor kedekatan juga ikut bermain walaupun tak terhindarkan karena sebagai pembantu, menteri tak hanya dituntut ahli di bidang tertentu, tetapi juga bisa berkoordinasi dalam kerja bersama menyukseskan program-program Jokowi," jelasnya.
Sementara, Darmin Nasution juga sudah dikenal luas melalui jabatannya di Bank Indonesia dan Ditjen Perpajakan. Darmin dinilai punya kapasitas untuk menduduki jabatan Menko Perekonomian.
Lalu Sofyan Djalil merupakan orang dekat Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Sehingga, jabatan barunya juga tidak bisa tidak dianggap sebagai upaya Jokowi-JK untuk membangun tim yang sudah saling kenal satu dan lainnya.
Di atas semua kekurangan itu, lanjut Lucius, publik juga bertanya-tanya apakah hanya enam pos yang di-reshuffle saja pantas untuk diganti? Kata dia, bukankah masih ada menteri yang kinerjanya juga banyak diragukan.
"Sosok seperti (Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) Puan Maharani misalnya tak lebih baik misalnya dari Tedjo Edhy, seharusnya ikut di barisan menteri yang diganti. Saya yakin pertimbangan latar belakang menteri sebagai orang partai juga ikut menjadi penentu seseorang diganti atau tidak perlu diganti," pungkas Lucius. (okezone.com) nasional
Kemendes PDT dan FAO Gelar Pelatihan Perkuat Tata Kelola Sistem Pangan Berkelanjutan
JAKARTAâ€" Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), bekerja sama dengan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), hari ini meluncurkan program pelatih
Spesialis Curanmor Dibekuk Polsek Ukui, Dadung Beraksi Dua Kali dengan Komplotan Berbeda
PELALAWAN â€" Unit Reskrim Polsek Ukui berhasil membongkar dua kasus pencurian sepeda motor (curanmor) yang terjadi di wilayah Kecamatan Ukui. Dari pengungkapan tersebut, polisi menangkap pelaku utama
LPSK Bentuk Tim Pengawal Kasus Kematian Dokter Icha
JAKARTA - Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mengerahkan tim untuk mengawal kasus kematian Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni alias dr Icha. Hal itu dilakukan untuk mendalami perkara yang
Dipercaya 23,3 Juta Pengusaha Ultra Mikro, Ini Rahasia Tata Kelola PNM dari Hulu ke Hilir
Survei lembaga riset independen INDEKSTAT 2025 mencatat pendapatan bersih nasabah PNM Mekaar meningkat dari Rp2,02 juta menjadi Rp2,90 juta per bulan, atau bertambah sekitar Rp875 ribu setiap bulan, d
OJK Serius Tanggapi Peringatan MSCI Terkait Risiko ke Frontier Market
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan keseriusan merespons peringatan lembaga indeks global MSCI terkait potensi penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontie