cakaplah.com
BAHASA bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah cermin peradaban, identitas, dan jejak sejarah suatu bangsa. Di negeri bertuah seperti Riau, Bahasa Melayu dan tulisan Jawi bukan hanya warisan budaya, tapi juga bagian penting dari denyut kehidupan masyarakat pesisir sejak ratusan tahun silam.
Tak banyak yang menyadari bahwa bahasa Indonesia yang kita gunakan hari ini sesungguhnya lahir dari rahim Bahasa Melayu. Tepat pada 28 Oktober 1928, saat Sumpah Pemuda dikumandangkan, para pemuda Nusantara menyatakan tekad menjadikan Bahasa Melayu yang kemudian dinamai Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Bahasa Melayu dipilih bukan karena paling dominan, tetapi karena sifatnya yang inklusif, sederhana, dan sudah menjadi bahasa penghubung di seluruh kepulauan Nusantara sejak era kerajaan-kerajaan maritim seperti Sriwijaya dan Kesultanan Melaka.
Sebelum huruf Latin mendominasi sistem pendidikan, masyarakat Melayu menulis dengan Jawi, yakni aksara Arab yang dimodifikasi untuk menulis Bahasa Melayu. Tulisan ini digunakan dalam surat menyurat resmi kerajaan, kitab keagamaan, karya sastra, hingga dokumen perdagangan. Di Riau dan sekitarnya, tulisan Jawi pernah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahkan, Al-Qur’an dan pelajaran sekolah agama disampaikan dalam Jawi. Sayangnya, seiring masuknya sistem pendidikan kolonial Belanda dan modernisasi, Jawi semakin terpinggirkan. Anak-anak muda kini bahkan nyaris tidak mengenal huruf-hurufnya.
Bahasa Melayu dengan tulisan Jawi sesungguhnya menjadi fondasi bagi kelahiran Bahasa Indonesia. Hubungan ini ibarat ibu dan anak. Tetapi seiring waktu, sang anak tumbuh besar, modern, dan sering kali melupakan akar tradisinya. Padahal, memahami Bahasa Melayu Klasik dan tulisan Jawi membuka pintu untuk mengenali sejarah Nusantara lebih dalam. Kitab-kitab lama, naskah sejarah kerajaan, syair-syair dan hikayat Melayu semuanya memakai Jawi. Tanpa kemampuan membaca tulisan itu, kita ibarat mewarisi harta karun, tapi kehilangan kunci untuk membukanya.
Melestarikan Bahasa Melayu dan tulisan Jawi bukan soal romantisme masa lalu. Ini adalah bentuk merawat jati diri bangsa. Tulisan Jawi tidak perlu menggantikan huruf Latin, tetapi setidaknya ia patut diajarkan, diperkenalkan kembali melalui seni budaya, dan digunakan dalam konteks sosial yang relevan. Bayangkan jika generasi muda kita bisa membaca syair Raja Ali Haji dalam bentuk aslinya, atau memahami dokumen lama tanpa harus menerjemah ulang bukankah itu kebanggaan yang bernilai?
Bahasa Indonesia yang kita kenal dan gunakan hari ini sesungguhnya lahir dari rahim Bahasa Melayu. Sejak masa kerajaan-kerajaan maritim seperti Sriwijaya dan Kesultanan Melaka, Bahasa Melayu telah digunakan sebagai bahasa penghubung antarwilayah di Nusantara. Ia menjadi lingua franca, bahasa perdagangan, dakwah, dan pemerintahan, yang mampu melintasi batas suku dan kerajaan.
Sebagai bahasa yang hidup dan berkembang, Bahasa Melayu tidak hanya diucapkan secara lisan, tetapi juga dituliskan. Sebelum datangnya pengaruh Barat dan huruf Latin, masyarakat Melayu menulis bahasa mereka dengan menggunakan aksara Jawi, yaitu tulisan yang berasal dari huruf Arab yang telah dimodifikasi untuk menyesuaikan bunyi-bunyi dalam Bahasa Melayu. Tulisan Jawi digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari surat resmi kerajaan, kitab agama, sastra klasik, hingga pendidikan. Dalam konteks inilah, tulisan Jawi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah dan perkembangan Bahasa Melayu.
Ketika bangsa Indonesia mulai mencari identitas nasional, para tokoh pergerakan sadar bahwa bahasa bisa menjadi pemersatu. Maka pada tahun 1928, dalam Sumpah Pemuda, dipilihlah Bahasa Melayu sebagai dasar Bahasa Indonesia. Nama boleh berubah, tapi hakikatnya tetap sama. Bahasa Indonesia tumbuh dari akar Bahasa Melayu yang telah lama berakar di tengah masyarakat Nusantara.
Dengan demikian, hubungan antara Bahasa Melayu dan tulisan Jawi dengan Bahasa Indonesia sangat erat dan saling terikat. Bahasa Indonesia adalah kelanjutan dari Bahasa Melayu, dan tulisan Jawi adalah bentuk awal literasi yang mengabadikan Bahasa Melayu secara tertulis. Memahami tulisan Jawi dan sastra Melayu klasik bukan hanya berarti melestarikan warisan budaya, tetapi juga menggali kembali akar bahasa nasional kita. Tanpa mengenal Jawi dan Bahasa Melayu klasik, kita kehilangan jejak penting dalam perjalanan panjang Bahasa Indonesia.***(Cakaplah.com)
Sumber: cakaplah.com
Nusantara