Sabtu, 20 Jun 2026
  • Home
  • Olahraga
  • Balapan Formula 1 dan MotoGP Digabung, Apakah Perlu?

Olahraga

Balapan Formula 1 dan MotoGP Digabung, Apakah Perlu?

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Sabtu, 02 Agu 2025 09:55
Berita satu.com
Wacana menggelar balapan gabungan antara Formula 1 (F1) dan MotoGP kembali mencuat setelah pernyataan menarik dari Carlos Ezpeleta, Chief Sporting Officer Dorna Sports. 

Dalam wawancara dengan Speedweek, Ezpeleta mengatakan bahwa "segala sesuatu patut dicoba sekali," menandakan pintu masih terbuka untuk kemungkinan dua ajang balap paling bergengsi itu digelar dalam satu akhir pekan yang sama.

Gagasan ini semakin relevan sejak akuisisi MotoGP oleh Liberty Media senilai € 4,2 miliar (Rp 79 triliun) yang disetujui Uni Eropa awal Juli lalu. Dengan kepemilikan atas F1 dan MotoGP, Liberty kini menguasai dua kejuaraan motorsport terbesar di dunia, dan diperkirakan akan melakukan banyak penyilangan strategi demi memperluas jangkauan global MotoGP.

Sejumlah indikasi mulai terlihat, dari rumor Lewis Hamilton yang disebut tertarik memiliki tim MotoGP hingga kabar Guenther Steiner ingin berinvestasi di tim Tech3. Semua ini adalah bagian dari ambisi Liberty mempertemukan dua dunia balap untuk mendorong pertumbuhan MotoGP.

Banyak Keuntungan, Banyak Tantangan
Secara teori, event gabungan ini bisa membawa banyak keuntungan. MotoGP akan mendapatkan sorotan media lebih luas, terutama dari media internasional yang selama ini lebih fokus pada F1. Penonton pun bisa lebih terlibat, mengingat banyak fan F1 juga menyukai MotoGP, dan sebaliknya.

Namun secara praktis, mewujudkan hal ini sangat rumit. Tak banyak sirkuit yang mampu mengakomodasi kebutuhan keamanan kedua ajang sekaligus. MotoGP memerlukan air fence di area tertentu. Sementara F1 mengandalkan jalur yang lebar dengan area run-off besar. Proses bongkar pasang air fence di antara sesi balap akan memakan waktu dan menyulitkan jadwal.

Selain itu, desain trek, batas lintasan, bahkan penggunaan kerbs yang cocok bagi motor dan mobil menjadi tantangan tersendiri. Contohnya di Sirkuit Lusail, Qatar, kerb yang dipasang untuk F1 justru dikritik karena memperparah kecelakaan Jorge Martin di MotoGP.

Permukaan aspal juga jadi isu. Ban F1 meninggalkan karet di titik pengereman yang bisa memengaruhi grip sepeda motor. Kendati kedua ajang akan memakai ban Pirelli mulai 2027, belum jelas bagaimana dampaknya terhadap performa motor saat F1 dan MotoGP memakai sirkuit yang sama.

Selain keamanan, aspek teknis lain juga menjadi hambatan. F1 dan MotoGP memiliki sistem pengukuran waktu berbeda, kebijakan pelanggaran batas lintasan yang tak sama, serta perbedaan dalam pengawasan tekanan ban.

Belum lagi soal sponsor, hak siar, serta siapa yang akan jadi sorotan utama dalam acara tersebut. Fasilitas paddock di sebagian besar sirkuit juga tak cukup besar untuk menampung dua kejuaraan besar secara bersamaan.

Apakah Ini Benar-Benar Diperlukan?
Secara filosofi, pertanyaan yang muncul adalah, apakah event gabungan ini benar-benar perlu?

F1 dan MotoGP memiliki daya tarik masing-masing. Meski ada keuntungan dari kolaborasi, mempertahankan identitas dan keunikan masing-masing ajang justru bisa jadi strategi jangka panjang yang lebih bijak.

Alih-alih menciptakan satu event besar, MotoGP sebaiknya fokus memperkuat citra di sirkuit-sirkuit ikoniknya sendiri, seperti yang dilakukan F1 dengan GP Monaco.

Jika Dilaksanakan, di Mana?
Jika rencana ini tetap dijalankan, satu sirkuit yang dianggap ideal adalah Silverstone, Inggris. Dengan panjang lintasan 5,89 km dan ruang paddock yang luas, sirkuit bekas bandara ini dapat mengakomodasi kebutuhan dua ajang sekaligus. Silverstone memiliki dua area pit yang memungkinkan pembagian zona MotoGP dan F1, serta ruang yang cukup untuk penonton dan media.

Namun, tantangan tetap ada. Silverstone mungkin sukses menarik ratusan ribu penonton F1, tetapi justru menjadi salah satu seri MotoGP dengan jumlah penonton terendah tahun ini, hanya sekitar 40.000 orang hadir saat balapan utama.

Menggelar event gabungan bisa menjadi cara untuk menghidupkan kembali minat publik terhadap MotoGP di Inggris sekaligus menyelamatkan Silverstone dari kemungkinan dicoret dari kalender MotoGP setelah 2026.

Wacana F1 dan MotoGP digelar bersamaan memang menarik, tetapi pelaksanaannya penuh tantangan. Mulai dari aspek teknis, keamanan, logistik hingga filosofi penyelenggaraan. Meski belum tentu dibutuhkan, jika dilakukan dengan tepat, di lokasi yang tepat dan dengan persiapan matang, event ini bisa menjadi terobosan besar dalam sejarah olahraga balap dunia.***(Berita Satu.com)
Sumber: Berita satu.com

Olahraga
Berita Terkait
  • Sabtu, 20 Jun 2026 16:12

    Simpatisan Komitmen Kawal Realisasi Target Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

    Ribuan massa aksi yang mengatasnamakan Simpatisan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Malang Raya menyelenggarakan Apel Akbar dan Senam Bersama di Alun-Alun Tugu, Kota Malang, Jawa Timur pada Sabtu (20

  • Sabtu, 20 Jun 2026 16:02

    Presiden Prabowo Setujui Gagasan Pelatnas Multiyears, Mensetneg dan Seskab Follow Up Anggaran

    BOGOR - Presiden Prabowo Subianto memberikan dukungan besar untuk memperkuat pengembangan ekosistem olahraga nasional. Hal itu disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) E

  • Sabtu, 20 Jun 2026 16:01

    Delegasi Malaysia Lirik Potensi Besar Kelapa Rangsang Meranti

    SELATPANJANG - Pasar internasional kembali melirik kekayaan alam Kabupaten Kepulauan Meranti. Perusahaan asal Malaysia, Grisek Jaya Sdn. Bhd, terjun langsung menjajaki peluang bisnis dan perdagangan k

  • Sabtu, 20 Jun 2026 15:05

    Bupati Tabanan Buka Festival Jatiluwih Ke-7, Dorong Ekonomi Rakyat dan Pariwisata Lokal

    Bupati Tabanan, Bali, I Komang Gede Sanjaya, secara resmi membuka Festival Jatiluwih Ke-7 Tahun 2026 pada Sabtu, 20 Juni 2026. Acara ini akan berlangsung hingga Minggu, 21 Juni 2026, dengan tujuan uta

  • Sabtu, 20 Jun 2026 15:02

    Pemerintah Perluas Akses Internet Pendidikan dengan Starlink di Nias Utara: Solusi Daerah 3T

    Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat Akses Internet Pendidikan, khususnya di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T). Upaya ini diwujudkan melalui penye

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.