Rabu, 29 Apr 2026
  • Home
  • Opini
  • “Traumatic Healing” untuk Rakyat Aceh

Opini

“Traumatic Healing” untuk Rakyat Aceh

Oleh: Jones Gultom
Senin, 12 Des 2016 08:58
Internet
Ilustrasi

Tepat 12 tahun setelah gempa yang diikuti tsunami melanda Aceh, ujung pa­ling barat Indonesia itu, kini kembali dilanda gempa 7 Desember lalu. Gempa yang berkekuatan 6,5 skala richter itu melanda Kabupaten Pidie Jaya. Pusat gempa berada di 18 kilometer laut timur Pidie dengan keda­laman 10 kilometer. Me­nurut Badan Meteorologi, Klimato­logi, dan Geofisika (BMKG) gempa kali ini terjadi dengan mekanisme sesar geser mendatar. 

Gempa kali ini menyisakan dua hal yang menarik perhatian para ahli gempa. Per­tama, karena terjadi akibat mekanisme se­sar geser mendatar dengan pusat ke­dalaman yang hanya 10 kilometer dari per­mukaan tanah.  Ciri ini tak pernah ter­jadi sebelumnya dalam sejarah gempa di Aceh. Seperti kita ketahui gempa pada 2004 lalu, berpusat di kedalaman 30 kilometer di lepas pantai Samudera Hindia. Gem­pa yang disusul tsunami itu terjadi karena tumbukan lempeng bumi. Menurut para ahli yang paling memungkinkan penyebab gempa itu adalah pergeseran sesar Samalanga Sipopok. Sesar ini me­manjang dari perairan Selat Malaka dan masuk ke daratan Aceh hingga mendekati Ta­kengon ini.

Kedua, bila dugaan ini benar, maka ada sumber gempa baru di Aceh. Pa­salnya dalam sejarah gempa di Aceh, tidak satupun yang ditimbulkan oleh se­sar ini. Hal ini diakui oleh Kepala Bidang In­formasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, seperti yang dikutip penulis dari berbagai media. Dijelaskannya, daratan Aceh dile­wati oleh patahan Sumatera yang terbagi men­jadi beberapa segmen besar, yaitu Aceh, Simeuleum, dan Tripa. Segmen Tripa pernah memicu gempa berke­kua­tan M 7,3 pada tahun 1936, merusak kota Banda Aceh. Segmen Simeuleum pernah memicu gempa yang merusak pada tahun 1964 dengan kekuatan M 6,5. Sedangkan se­sar Samalango Sipopok hingga saat ini belum pernah memicu terjadinya gem­pa.

Semula sebagian ahli menduga pe­nyebab gempa kali ini akibat dari pe­le­pa­san energi dari gempa 2004 silam. Pe­lepasan energi dari gempa 2004 m­e­le­paskan tegangan di daratan Aceh se­hingga terjadi gempa-gempa kecil. Te­tapi bila dilihat dari skala richternya yang sebesar 6,5 dan kedalaman pusat gem­pa yang hanya 10 kilometer, hipotesa ini sulit diterima. 

Terlepas dari pemicunya, gempa ini telah menyita perhatian kita. Apalagi terjadi nyaris di waktu yang sama pada 12 tahun lalu. Tentu rakyat Aceh masih be­lum lupa dengan peristiwa tsunami yang terjadi di ujung tahun 2004 itu.  Di saat rakyat Aceh hendak mengenang tra­gedi tsunami yang menelan korban jiwa sampai dua ratusan ribu orang itu, saat itu­pula kejadian yang  sama menimpa mereka.

Peristiwa ini seolah menegaskan kem­bali ingatan mereka akan bencana tsunami itu. Sudah pasti, rasa takut, cemas dan trauma kini makin menebal di hati dan pikiran masyarakat Aceh. Khususnya yang dirasakan oleh anak-anak. Inilah per­soalan terberat yang harus ditanggung ma­sya­rakat Aceh. Tak tertutup ke­mung­kinan trauma itu akan ter­bawa sampai pada generasi selanjut­nya.

Berdampak 5 kali lipat

Gempa ini telah menelan korban jiwa. Sampai tulisan ini dibuat, sedikitnya 102 orang dinyatakan meninggal dan 700 orang lainnya luka-luka. Sejumlah bangunan hancur berat. Termasuk rumah, masjid serta fasilitas umum lainnya.

Apa yang dialami rakyat Aceh me­ru­pakan beban moral bagi seluruh rakyat In­­donesia. Duka Aceh adalah duka kita. Duka Indonesia. Karena itu, saya me­ngu­sulkan agar pemerintah menetap­kan status bencana ini sebagai bencana na­sional. Terutama bila dilihat dari sisi psi­kologis yang ditimbulkan bencana ini.  Pengalaman buruk dari peristiwa duka yang berulang, akan menimbulkan dampak 5 kali lipat dari rasa trauma di awal. Tak terbayang oleh kita, bagaimana anak-anak Aceh kini dicekam rasa takut yang luar biasa, setiap kali teringat akan peristiwa itu. Bahkan sekedar mendengar kata "gempa" anak-anak itu sudah pasti akan terguncang.

Padahal dalam kajian Psikoanalisa Freud, suatu pengalaman buruk yang dialami seseorang akan berpengaruh 3 kali lebih cepat dibandingkan pengaruh dari pengalaman baik. Pengalaman buruk akan dengan cepat mengendap. Menjadi se­buah nilai dalam alam bawah sadar. Jika tak segera dipulihkan, dalam hitu­ngan tahun, pengaruh buruk itu akan me­mengaruhi proses pembentukan cara ber­pikir, karakter dan perilaku yang me­nga­laminya.

Konon lagi bila pengalaman buruk itu ter­jadi berulang. Apalagi pada waktu se­rupa pula. Seseorang yang mengalami pe­ristiwa itu tidak hanya akan mengalami trau­ma, namun juga bisa memicu pe­nya­kit psikologis, semisal phobia. Takut men­­dengar suara-suara yang menyerupai gaung, getaran, atau semacamnya. Bah­kan trauma itu dapat berkembang men­jadi hilangnya kepekaan (emosi), insomnia, dan waspada berlebihan. Pada anak-anak trauma dapat merenggut keceriaan­nya.

Untuk memulihkan itu harus segera dilakukan traumatic healing. Diu­ta­ma­kan pada anak-anak dan lansia, yang biasanya mengalami trauma paling kuat, baik stres maupun depresi. Langkah awal program traumatic healing, khususnya  untuk anak-anak dapat dilakukan dengan membangun kelompok bermain  atau kegiatan kesenian. Setidaknya dengan kegiatan itu, anak-anak bisa melupakan peristiwa buruk yang menimpa mereka. Pada kasus tertentu, dapat dilakukan dengan pemberian obat atau terapi psikis maupun konse­ling. Dengan konseling diharapkan rasa trauma itu dapat sedikit berkurang.

Peradaban Aceh

Sejak dulu Aceh mengalami sejarah yang unik. Aceh pernah menjadi pintu gerbang penyebaran Islam di Sumatera bersama dengan Barus. Samudera Pasai diduga menjadi kerajaan Islam tertua di Nusantara. Tidak heran bila daerah ini kemudian dijuluki "Serambi Mekkah".

Di masa kolonial, Aceh banyak me­la­hirkan pejuang yang dikenal karena militansinya. Antara lain, Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, Teuku Umar, Sultan Iskandar Muda, Teuku Chik Di Tiro, Panglima Polem, Teuku Nyak Arif, Mr. Teuku Muhammad Hasan, Pocut Baren, Teuku Fakinah. Belanda sendiri mengakui Aceh perang Aceh adalah perang yang paling merepotkan dalam sejarah kolonial Belanda.

Dari rahim Aceh juga lahir seorang laksamana perempuan pertama di dunia; Cut Malahayati. Sejarah juga mencatat peran penting Aceh jelang di masa-masa kemer­dekaan RI. Rakyat Aceh ramai-ramai mengumpulkan uang untuk mereka sum­bang­kan kepada Soekarno agar proklamator ini memiliki pesawat dan kapal laut seperti yang dimiliki negara lain. Yang paling anyar, seorang pemuda Aceh, Bernama Teuku Markam, menyum­bang 28 kilogram dari 38 kilogram berat yang ada di puncak Monas.

Aceh juga menjadi sorotan dunia karena pergolakan sebagian rakyatnya yang tergabung dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ketika GAM berdamai dengan pemerintah Indonesia, pada tahun 2007 lalu, rakyat Aceh mendapat otonomi lebih dari sekedar label "daerah istimewa". Ia juga boleh mempunyai partai lokal dan sistem hukum sosial tersendiri bagi masyarakatnya.

Pada 2004 lalu Aceh dilanda gempa berkekuatan 9 skala richter yang disertai tsunami. Bencana ini adalah bencana terdahsyat yang pernah ada dalam sejarah modern dunia. Tercatat lebih dari 200 ribu jiwa melayang. Tidak hanya di Aceh juga di negara tetangga yang ikut terkena dampak bencana ini. Apa yang dialami masyarakat Aceh merupakan bagian dari peradaban mereka. Peradaban yang tak bisa terpisah dari sejarah perjalanan bangsa ini.***

Penulis adalah jurnalis

sumber:harian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Rabu, 29 Apr 2026 17:02

    Secara Musyawarah dan Mufakat, Zulfadli Pimpin PWI Rohil

    BAGANSIAPIAPI - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir resmi menggelar Konferensi ke VIII pada Rabu (29/4) pagi di Bagansiapiapi.  Acara berlangsung di Aula Kantor Dinas Pe

  • Rabu, 29 Apr 2026 17:01

    Dibuka Sekretaris Dinas Kominfo Rohil, PWI Rokan Hilir Gelar Konferensi ke VIII

    Rokan Hilir - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Rokan Hilir menggelar Konferensi ke VII, Rabu (29/4/2026) pagi. Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Dinas Kominfo Zuliandra itu dilaksa

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:59

    Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan

    JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:57

    Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang

    JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:38

    Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran

    JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.