Kamis, 06 Agu 2026

Opini

Eksistensi IRT Terhadap Gizi Anak

sumber:harian.analisadaily.com
Minggu, 29 Jan 2017 09:20
analisadaily.com
ilustrasi

Gizi tergantung dengan ketersediaan pa­ngan. Namun, ketersediaan pangan yang baik belum tentu membuat gizi anak baik. Keberadaan (ek­sistensi) Ibu Rumah Tangga (IRT) sa­ngat menentu­kan. Memperingati Hari Gizi dan Ma­ka­nan pada 25 Januari bukan semata-mata membicarakan pangan karena makanan yang bergizi bagi anak sa­ngat diten­tukan peran IRT sehingga ang­ka kekurangan gizi di Indonesia bisa ber­kurang.

Kekurangan gizi pada bayi tiga tahun (ba­lita) terjadi di seluruh Indonesia. Data Di­nas Kesehatan Sumatera Utara me­nye­butkan kasus gizi bu­ruk tahun 2015 men­capai 1.152 kasus dengan rincian Ka­­bupaten Asahan 117 kasus. Kota Me­dan dengan 113 kasus. Kota Gunung Si­toli 76 kasus, Langkat 72 kasus, Nias Ba­­rat 71 kasus, Mandailing Natal 62 ka­sus, Dairi 55 kasus, Serdang Bedagai 52 kasus, Batubara 49 kasus, dan Ta­pa­nu­li Tengah 43 kasus.

Sementara Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pada bab VIII mengamanatkan, upaya perbai­kan gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat, an­tara lain melalui perbaikan pola kon­sumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi, peningkatan akses, serta pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan ke­majuan ilmu dan teknologi.

Meskipun Indonesia masih bermasa­lah dengan pangan akan tetapi penentu dari masalah gizi ada pada pola makan, gaya hidup maka disamping ke­ter­sediaan pa­ngan, pola makan menjadi sa­ngat penting.

Pola makan anak sangat ditentukan oleh IRT sebab anak masih menerima apa yang dilakukan ibunya. Pola makan anak sangat tergantung kepada pola ke­hidupan ibunya. Untuk itu peran seorang ibu menjadi sangat penting.

Terjadinya gizi buruk di Sumut, ba­nyak pihak menilai penyebabnya faktor ke­miskinan dan pengetahuan ma­syarakat ter­hadap gizi. Tidak salah akan tetapi pe­ran IRT menjadi sangat strategis. Na­mun, orangtua paling bertang­gungja­wab terhadap masalah gizi anaknya.

Memang beberapa kasus gizi buruk yang ditemui banyak terjadi dari keluarga miskin. Namun, juga bukan dari keluarga miskin.

Hal ini membuktikan bukan sekadar ketersediaan pangan. Peran orangtua dalam mengatasi gizi buruk anak menjadi sangat penting sebab orang pertama yang menge­tahui anaknya kekurangan gizi atau gizi buruk.

Fenomena ini menjelaskan bahwa gizi bu­ruk menjadi tanggungjawab kita se­mua, bukan hanya pemerintah mes­kipun pe­merintah memiliki peran sangat pen­ting dalam memastikan ketersediaan pa­ngan yang cukup dan mudah serta murah diakses masyarakat. Tindakan preventif ada ditangan orangtua.

Mencari pangan dan mengatur pangan

Dua hal yang sama penting yakni per­tama kesibukan orangtua mencari naf­kah menyebabkan tidak punya wak­tu mem­perhatikan gizi anaknya. Na­mun, mem­perhatikan gizi anak hal yang sama pen­ting mencari nafkah. Jadi mencari pa­ngan sama pentingnya de­ngan menga­tur pangan.

Kedua karena hal yang sama penting per­tama tidak bisa dilakukan maka dicari ja­lan pintas dengan membebaskan anak untuk membeli makanan yang disukai­nya. Pada hal yang kedua ini para orang­tua harus berhati-hati de­ngan berbagai je­nis jajanan anak-anak.

Berbagai jenis jajanan anak-anak be­lum diketahui secara baik. Balai Pe­nga­wa­san Obat dan Makanan (POM) yang se­ring melakukan razia makanan perlu di­apresiasi guna menjaga kesehatan bagi yang mengkonsumsinya.

Langkah kedua memberikan kebebasan buat anak mem­beli maka­nan yang disukainya akan lebih baik lagi apa bila orangtua membatasinya dengan memba­wakan bekal maka­nan anaknya dari rumah untuk dikonsumsi anak-anak di sekolah. Hal ini lebih baik sebab anak-anak belum se­lektif memilih makanan yang sehat.

Harus diakui mempersiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anak ke sekolah bukan pekerjaan mudah, menyita waktu, pikiran dan tenaga. Pasti lebih mudah bila mem­berikan uang jajan kepada anak-anak yang berangkat ke sekolah. Repot setiap pagi masak untuk sarapan dan bontot anak-anak. Namun, maka­nan yang dimakan anak-anak lebih terjamin.

IRT yang memiliki kebiasaan mempersiapkan sarapan dan bekal makanan anak-anak saat sekolah tidak banyak sebab banyak yang suka membeli sarapan di warung untuk sarapan anak-anak. Hal ini satu fakta orangtua yang kurang memperhatikan masalah gizi anak.

Masalah gizi bukan masalah apa yang dimakan akan tetapi masalah lingkungan, pola makan dan gaya hidup yang cenderung ingin praktis atau instan. Kasus gizi buruk banyak juga disebabkan lingku­ngan pemu­kiman kumuh, asupan gizi serta pola makanan yang salah.

Faktor lain seperti masih ren­dahnya pengetahuan tentang gizi, faktor eko­no­mi berpengaruh besar terhadap kasus gizi buruk. Kasus gizi buruk bisa terjadi di daerah yang kaya sumber pangan dan protein. Hal ini disebabkan penge­tahuan tentang gizi yang minim, terutama bagi para IRT maka peran seorang ibu sangat menentukan dalam mene­kan angka gizi buruk pada anak-anak.

Dahulu, era Orde Baru, peme­rintah terus memberikan penyulu­han kepada masyarakat Indonesia ten­tang makanan empat sehat lima sempurna. Hal itu sangat tepat sebab jika jumlah asupan gizi sesuai dengan kebutuhan maka gizi baik. Masalah muncul jika asupan gizi lebih rendah dari kebutuhan maka kurang gizi, jika asupan gizi sangat kurang dari kebutuhan maka gizi buruk.

Untuk mengetahui anak yang sehat dan kurang gizi yakni de­ngan membandingkan antara berat ba­dan dengan umur atau berat de­ngan tinggi badan. Apabila sesuai stan­dar, anak disebut gizi baik.

Gizi Baik Berawal dari IRT

Lagi tentang peran IRT terha­dap gizi yang baik bagi anak-anak sebab perhatian gizi kepada anak paling penting sela­ma 1.000 hari pertama manusia di dunia ini. Gizi baik bagi anak-anak sudah diten­tukan sejak awal kehamilan sampai anak berusia dua tahun. Pemberian gizi yang baik pada 1.000 hari pertama kehidupan sa­ngat me­nentukan kecerdasan anak.

Perjalanan waktu 1.000 hari itu merupakan proses pem­bentukan sel dan otak. Bila asupan gizi anak pada 1.000 hari kurang bahkan tidak cukup, akan menyebabkan kece­r­dasan berkurang.

Setelah lewat fase itu, maka proses selanjutnya pem­bentukan fisik.

Hal ini sebaiknya diketahui dan disadari semua ibu hamil yakni masa keemasan 1.000 hari pertama manu­sia di dunia ini harus menjadi per­hatian serius. Selama ma­sa keha­milan, seorang ibu harus memper­hatikan asupan gizi dengan meng­kon­s­umsi empat sehat lima sempur­na.

Selanjutnya IRT yang sedang hamil dan kemudian melahirkan anak harus mengetahui dan menya­dari bahwa selama enam bulan bayi harus diberi air susu ibu (ASI) tanpa maka­nan pendamping. Melewati enam bulan sampai dua tahun, selain ASI, juga diberikan makanan pen­dam­ping dengan asupan gizi yang cukup.

Kemudian dua tahun ke atas, anak diberi makanan empat se­hat. Harus diakui kini masih banyak yang belum atau tidak paham dengan pemberian gizi. Harus diketahui bahwa semua makanan me­ngandung unsur  karbonhi­drat, protein, serat dan vitamin. Namun, masing-ma­sing makanan memiliki kandungan yang lebih dominan.

Hal ini harus diketahui dengan baik. Contohnya, nasi lebih banyak mengandung karbohidrat. Ikan dominan mengandung protein. Sayur lebih dominan serat dan buah banyak mengandung vitamin. Ber­da­sarkan pengetahuan makanan empat sehat, lima sempurna mem­buat asupan gizi baik. Mengetahui tentang gizi yang baik sangat pen­ting karena itu pintu masuk untuk gizi yang baik bagi anak-anak. Semuanya ini berada pada IRT yang memberikan asupan gizi kepada anak-anaknya maka peran IRT sangat menentukan terciptanya gizi yang baik bagi anak-anak Indonesia.***

Penulis ibu rumah tangga dan seorang tenaga pendidik di Medan

sumber:arian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Rabu, 05 Agu 2026 19:38

    Panglima TNI dan Menhan RI Yakinkan Kesiapan Interoperabilitas TNI

    Kepri-Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto bersama Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi R., serta para Kepala

  • Rabu, 05 Agu 2026 19:35

    Wakil Panglima TNI dan Sejumlah Pejabat Negara Terima Warga Kehormatan dan Brevet Korps Marinir

    Kepri-Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi R., Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, dan Kep

  • Rabu, 05 Agu 2026 19:28

    KKN Kelompok 17 Universitas Abdurrab Siap Sukseskan Perayaan HUT ke-81

    Tapung Hulu-Semangat kebersamaan dan gotong royong mulai terasa di Desa Senama Nenek, Kecamatan Tapung Hulu, melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN Kelompok 17 Universitas Abdurrab dan Karang Taruna

  • Rabu, 05 Agu 2026 16:50

    Termasuk Bapenda Riau, 8 OPD Raih Penghargaan Kearsipan Pemprov

    PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau memberikan penghargaan kearsipan internal kepada delapan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan predikat Sangat Memuaskan. Penghargaan tersebut diserahkan di Pek

  • Rabu, 05 Agu 2026 16:28

    Plt Gubri Usulkan Jembatan Siak V dan Flyover Garuda Sakti ke Menteri PU

    PEKANBARU â€" Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan sejumlah usulan pembangunan infrastruktur strategis kepada Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, saat melakukan pert

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

    slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki