Jumat, 07 Agu 2026

Opini

Memaknai Hari Natal

Oleh: Hasan Sitorus
Minggu, 24 Des 2017 08:04
analisadaily.com
Ilustrasi

Seluruh umat Kristiani di berba­gai be­lahan dunia bersuka cita merayakan Na­tal pada setiap tanggal 25 De­sem­ber. De­mikian halnya dengan masyarakat Kristiani di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua juga merayakan Natal, baik dalam keluarga, komunitas, maupun gereja. Bahkan perayaan Natal di berbagai kota dan daerah sudah dimulai pada awal Desember, yang membuktikan bahwa menyambut Natal adalah suatu sukacita yang luar biasa.

Mengapa umat Kristiani sangat ber­sukacita menyambut hari Natal ? Jelas, mereka meyakini bahwa Natal mem­be­baskan manusia dari perbudakan dosa, se­hingga manusia diselamatkan dari ke­matian kekal. Bila hal itu adalah anugerah Al­lah, apakah yang dapat kita perbuat dalam masa perayaan Natal, sehingga hari Natal itu bermakna dalam kehidupan kita.

Kita mengetahui bahwa Allah yang maha tinggi turun ke dunia ini dengan mengosongkan dirinya menjadi sama de­ngan manusia, lahir di kandang domba walaupun Dia seorang raja, dan mem­bawa damai bagi seluruh umat manusia. Oleh sebab itu, hari Natal haruslah kita maknai sebagai hidup untuk berkorban, hidup dalam kesederhanaan dan hidup dalam kedamaian.

Hidup untuk Berkorban

Umat Kristiani telah meyakini  bahwa misi kedatangan mesias ke dunia adalah untuk menyelamatkan manusia dari ke­ma­tian yang kekal. Allah telah mengor­ban­kan dirinya melalui anakNya Yesus Kris­tus dengan taat sampai mati di kayu salib karena dosa dan pelanggaran kita, supaya kita selamat memperoleh hidup yang kekal. 

Tuhan telah berkorban untuk kita, apakah kita juga mau berkorban untuk Tuhan ? Bagaimana bentuk pengorbanan kita yang berkenan di mata Tuhan ? Ten­­tu yang paling mudah adalah ber­kor­ban menolong sesama manusia, baik yang hidupnya dalam kemiskinan, ter­timpa bencana alam dan orang-orang yang tertindas.

Oleh sebab itu, hari Natal haruslah men­dorong kita untuk mau menolong orang lain yang membutuhkan uluran ta­­ngan kita. Janganlah kita menutup mata de­­ngan keadaan di seke­liling kita, jangan kita menutup telinga mendengar jeritan orang sakit dan orang tertindas, dan ja­nganlah kita mema­lingkan muka kepada orang peminta-minta.

Kita harus menyadari cukup banyak saudara kita yang berada dalam kemis­kinan yang membutuhkan perhatian dan ulu­ran tangan kita.  Secara nasional jumlah penduduk miskin di Indonesia men­capai 27,77 juta jiwa, di wilayah Su­ma­tera Utara mencapai 1,45 juta jiwa, dan di Kota Medan jumlah penduduk mis­kin menca­pai 206.870 jiwa (BPS, 2017).

Melihat fakta ini, sudah saatnya kita ber­gerak hati untuk sedikit berkorban me­nolong sesama dengan meningkatkan ke­giatan bakti sosial Natal.  Kita hidup bu­kan hanya untuk diri kita sendiri dan harus menyadari bahwa sebagian rezeki yang kita miliki adalah milik orang lain, yang wajib kita serahkan kepada orang yang sangat membutuhkannya.

Hidup dalam Kesederhanaan

Anak Allah yang tunggal sudah datang ke dunia dalam kesederhanaan, lahir di kandang domba walaupun seorang anak raja. Karya penyelamatan Allah bagi ma­nusia sangat menonjolkan kesederha­na­an yang menurut ukuran manusia ada­lah hal yang paradoks atau tidak masuk akal. Oleh sebab itu, perayaan hari Natal ha­ruslah kita maknai dengan keseder­ha­naan.

Walaupun semua umat Kristiani ber­sukacita dengan datangnya hari Natal, tetapi sukacita itu tidak perlu diperli­hatkan dengan perayaan yang mewah, pesta pora, hura-hura dan kegiatan lain yang mendo­rong munculnya kecem­bu­ruan sosial di tengah-tengah masyarakat kita yang beragam. Alangkah lebih baik bila me­nyambut Natal kita lakukan secara seder­hana saja, sehingga biaya yang seharusnya kita keluarkan untuk pe­ra­yaan natal yang megah atau akbar yang ke­sannya gemerla­pan, seyogianya dapat kita salurkan untuk kegiatan bakti sosial Na­tal.

Ada kesan di masyarakat kita mulai dari perkotaan hingga pedesaan bahwa merayakan Natal itu haruslah semarak dengan berbagai asesoris dan hiasan Natal yang gemerlapan ditambah baju baru, sepatu baru dan makanan khas Natal. Sehingga banyak keluarga merasa berbeban berat kalau sudah datang bulan Desember, karena para keluarga harus mempersiapkan biaya pengeluaran yang relatif besar pada setiap bulan Desember.

Hal ini harus diberikan pencerahan agar masyarakat kita benar-benar menyadari bahwa perayaan Natal itu lebih baik seder­hana, karena makna Natal bukanlah hal soal kegemer­lapan dan kesemarakan perayaan­nya, tetapi lebih bermakna theologis dan so­siologis, yakni Tuhan datang dalam ke­se­der­hanaan sehingga dalam kemiskinan­nya itu kita menjadi kaya. Dengan pemikiran seperti itu, tidak ada yang merasa berbeban berat dalam menyambut hari Natal, tetapi semua­nya dapat bersukacita walaupun eko­nomi kita sulit atau kita mengalami berbagai tekanan dalam kehidupan kita.

Hidup dalam Kedamaian

Kelahiran Kristus ke dunia ini adalah membawa damai bagi umat manusia. Oleh sebab itu, Natal menyuarakan per­damaian manusia dengan Allah, perdamaian ma­nusia dengan sesama manusia dan perda­maian manusia dengan alam.

Kita sebagai umat Kristiani di Indonesia haruslah berperan membawa damai dima­na­pun kita berada, baik di lingkungan tem­pat tinggal kita, di tempat kita bekerja atau melayani, dan secara khusus di tengah ke­luarga kita. Alangkah eloknya, bila se­tiap keluarga kita berada dalam suasana damai, an­tara bapak dan ibu, antara orang­tua dan anak-anaknya, antara keluarga kita dengan kerabat kita.

Kalau kita sudah penuh damai dalam keluarga kita, pasti kita dapat membawa da­mai kepada orang lain. Kalau kita menyatakan bisa membawa damai kepada orang lain pada hal dalam keluarga kita tidak ada kedamaian, berarti kita menipu diri kita sendiri. Sama halnya kita menya­takan bah­wa kita mengasihi Allah, pada hal kita bermusuhan dengan orang lain, berarti kita menipu diri sendiri. Oleh sebab itu, salah satu makna hakiki hari Natal adalah tumbuh­nya kedamaian di hati seluruh umat manusia, sehingga dapat terhindar dari perpecahan, pertikaian, dan permusuhan yang berakibat kehancuran.

Di tengah masyarakat kita yang hidup dalam keberagaman suku, agama dan bu­daya, maka aspek kedamaian adalah unsur primer dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Perayaan Natal mengajak se­mua umat Kristiani di Indonesia agar selalu menjaga keberagaman itu dalam bingkai NKRI dengan menekankan kehi­dupan yang damai dengan meng­hindarkan diri untuk tidak terlibat dalam pertikaian berbau Sara yang dapat me­ngancam per­pecahan anak bangsa.

Selain itu, perayaan Natal juga menyua­rakan agar kita berdamai dengan alam de­ngan cara hidup serasi dengan alam. Kita adalah mahkota ciptaaan yang diberi wewenang untuk mengelola alam, bukan untuk merusaknya. Sadarlah kita bahwa ter­jadinya peristiwa bencana alam di ber­bagai belahan dunia khususnya di tanah air adalah akibat kita tidak lagi hidup ber­damai dengan alam.

Kita tidak lagi mempunyai etika ling­kungan, merasa manusia bukan unsur alam dan menjadikan alam hanya objek peme­nuhan kebutuhan manusia. Alhasil, alam­pun rusak tak terkendali dan bencana­pun datang silih berganti. Natal mengajak kita agar hidup serasi dan bersahabat dengan alam, karena sesungguhnya alam itu lembut dan baik. Selamat Hari Natal, 25 Desember 2017.***

(Penulis Dosen Tetap di Universitas HKBP Nommensen Medan).

sumber:analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Jumat, 07 Agu 2026 09:55

    Riau Tembus 5 Besar Nasional ADLG Awards 2026, Bukti Transformasi Digital Pemerintahan Makin Melesat

    JAKARTA-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau berhasil menembus lima besar nasional dalam ajang Executive Leadership Panel ADLG Awards 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (6/8/2026). Prestasi tersebut di

  • Jumat, 07 Agu 2026 09:53

    Ulama Hadis Maroko Ziarah ke Siak, Telusuri Jejak Sejarah Islam di Riau

    SIAK-Ikatan keilmuan dan sejarah antara dunia Islam di Afrika Utara dengan khazanah Melayu Nusantara kembali terjalin erat. Ulama hadis asal Tangier, Maroko, Syaikh Dr. Abdul Mun'im bin Abdul Azi

  • Jumat, 07 Agu 2026 09:52

    Bedah Buku Karya Alit, Sejarah Suku Anak Rawa dan Perjuangan Identitas Adat

    PEKANBARU - Penulis sekaligus sarjana pertama dari Suku Asli Anak Rawa, Alit membedah karya tulisnya yang berjudul Menjaga Jejak Budaya: Mengenal Kehidupan Suku Asli Anak Rawa Kamis (6/8/2026). Buku i

  • Jumat, 07 Agu 2026 09:50

    Eks Jampidsus Ajukan Praperadilan, Kejagung: 'Itu Hak Tersangka'

    JAKARTA - Kejaksaan Agung memastikan kesiapannya menghadapi dua gugatan praperadilan yang diajukan oleh mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah di Pengadilan Negeri Jakarta Sel

  • Jumat, 07 Agu 2026 09:48

    Sidang Eks Ketua Ombudsman, Saksi Ungkap Aliran Dana Rp 1 Miliar

    JAKARTA - Sidang kasus dugaan suap yang menyeret mantan Ketua Ombudsman, Hery Susanto kembali mengungkap fakta baru. Direktur PT Dinamika Sejahtera Mandiri (PT DSM), Tjia Peng Tjoan membeberkan adanya

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

    slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki