Opini
Mengenang Pertempuran Heroik Laut Arafuru
Oleh: Suadi
Minggu, 28 Jan 2018 10:55
Menjelang tengah malam tanggal 15 Januari 1962, tiga kapal perang Indonesia berlayar di perairan Laut Arafuru untuk menyusup ke daratan Papua dalam rangka membebaskan Papua (Irian Jaya) dari cengkeraman Belanda. Naasnya, di tengah jalan armada Indonesia tersebut dicegat oleh tiga kapal perang dan dua pesawat Belanda yang beberapa hari sebelumnya diam-diam sudah mengintai dan mengatur posisi strategis siap tempur. Pertempuran pun tak terelakkan. Kekuatan tidak seimbang membuat satu kapal Indonesia KRI Macan Tutul bersama Komodor Yos Sudarso tenggelam ditembak musuh. Tanggal terjadinya peristiwa heroik tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Dharma Samudera atau Hari Laut dan Samudera.
Perairan yang terdiri dari selat, teluk, laut dan samudera menjadi saksi atas ribuan peristiwa yang terjadi di muka bumi. Luas perairan di muka bumi konon jauh lebih luas dibandingkan luas daratan yang terdiri dari benua, pulau besar, pulau-pulau kecil, atol dan karang.
Di atas permukaan perairan tersebut, muncul berbagai peradaban megah dan kekuatan cadas berbasis maritim seperti Inggris yang dikenal bangsa pelaut dan sukses menaklukan seperempat dunia, Bangsa Hispanik (Spanyol dan Portugis) dikenal ulung menjelajahi dunia dengan semangat reconquista, Bangsa Viking dari Skandinavia (Denmark) masyhur dengan sejarah penjelajahan dan penaklukan sampai tanah Iceland dan Greenland. Indonesia di masa lampau juga memiliki sejarah kejayaan maritim oleh Kerajaan Sriwijaya, Samudera Pasai, Gowa-Tallo, Ternate, Tidore dan Majapahit.
Peristiwa-peristiwa di perairan terjadi dari aktivitas biasa seperti sekadar menangkap ikan oleh nelayan, kontak dagang antar saudagar dari berbagai benua, pertukaran budaya, hingga peristiwa kriminal berupa tindak kejahatan perompak dan bajak laut.
Perairan juga menjadi saksi peristiwa heroik seperti perang yang terjadi di Laut Arafuru pada 1962 antara Indonesia versus Belanda, pertempuran Laut Actium pada 31 SM antara Octavianus versus Mark Anthony, pertempuran laut Jutland pada 1916 antara Inggris versus Jerman, pertempuran Laut Jawa pada 1942 antara sekutu (AS, Inggris, Belanda dan Australia) melawan Jepang serta pertempuran Gallipolli pada 1915 di selat Dardanella antara Turki dan Jerman melawan sekutu.
Nostalgia Kejayaan Maritim
Peristiwa heroik yang terjadi di Laut Arafuru tersebut tidak hanya mengingatkan kegagahberanian para pahlawan yang gugur untuk keutuhan NKRI saat merebut Irian Barat, tetapi juga nostalgia kekuatan raksasa angkatan laut Indonesia di masa itu. Presiden Sukarno saat itu memandang laut Indonesia memiliki peran dan potensi yang sangat vital. Hal tersebut berdasarkan fakta bahwa dua pertiga teritori Indonesia adalah perairan dengan garis pantai 95.161 km dan terdiri atas 17.504 pulau.
Secara spesifik, luas perairan Indonesia menurut konvensi hukum laut PBB ke-3 UNCLOS (United Nation Convention on the law of the Sea) seluas 5,9 juta km2 . Tidak berlebihan bila Indonesia dijuluki sebagai negeri maritim, bahari, kepulauan (archipelago) dan lekat dengan citra laut.
Maka tidak mengagetkan bila Presiden Sukarno di masa itu amat bersungguh-sungguh menjaga kedaulatan teritori perairan Indonesia dengan memperkuat angkatan laut dan angkatan udara agar mudah mengawasi dan mengamankan seluruh wilayah NKRI secara cepat, efektif dan efisien. Sayangnya, belum sempat cita-cita tokoh proklamator tersebut terwujud sudah keburu lengser dan digantikan oleh rezim orde baru yang cenderung agraris dan memudarkan mimpi menjadi negeri maritim yang kuat, tangguh, makmur dan disegani.
Di masa pemerintahan tokoh proklamator tersebut, terutama sewaktu gegap gempita seruan Trikora merebut Irian Barat pada 1962, kekuatan militer laut dan udara Indonesia sangat sangar. Kekuatan militer Belanda yang waktu itu termasuk pemenang perang dunia ke-2 terlihat sangat kecil di hadaan militer Indonesia bagaikan tikus di hadapan gajah.
Hal tersebut tidak terlepas dari hubungan mesra Indonesia dengan salah satu negara adidaya Uni Sovyet. Uni Sovyet tercatat memberikan bantuan senjata militer, pesawat, kapal perang, kapal selam dan peralatan militer lainnya dengan kualitas canggih dan mutakhir kepada Indonesia senilai US$2,5 miliar.
Salah satu bantuan tersebut adalah kapal perang penjelajah Sverdlov dengan bobot 16.640 ton dan 1270 awak, sebuah kapal tercanggih di zamannya dan oleh Uni Sovyet belum pernah diberikan kepada negara manapun. Di samping itu, Indonesia juga dilengkapi ratusan kapal tempur berbagai jenis diantaranya kelas corvette, 12 kapal selam dan didukung 100 pesawat perang canggih. Bantuan lainnya adalah 12 kapal selam, puluhan kapal korvet, serta 100 unit pesawat mutakhir di era tersebut seperti MIG-21 Fishbed, MIG-15, MIG-17 dan supersonic MIG-19 serta deretan helikopter canggih MI-16 dan MI-4 (Viva.co.id).
Atas banyak pertimbangan, terutama militer dan desakan AS, Belanda jadi kecut, minder, mundur teratur dan mau kooperatif menyelesaikan masalah Irian Jaya lewat diplomasi PBB dan menggelar penentuan pendapat rakyat (Pepera) secara demokratis.
Kini, nostalgia kejayaan maritim tersebut tinggal kenangan. Kekuatan mengerikan angkatan laut dan udara Indonesia kini malah terbalik kerap dipandang remeh negara lain. Seperti peristiwa Ambalat di mana kapal perang Malaysia melintasi batas perairan tanpa izin.
Kapal dan pesawat Australia yang kerap melanggar batas di bagian selatan Indonesia. Serta ribuan kapal penangkap ikan asing dengan mesin dan peralatan canggih yang merajalela keluar masuk melanggar batas teritori untuk mencuri ikan-ikan Indonesia.
Untunglah, terobosan Menteri Susi Pudjiastuti sedikit banyak mengubah mindset orang asing untuk segan dan jangan coba-coba mencuri ikan di perairan Indonesia.
Heroiesme Arafuru
Heroisme yang berlandaskan sejarah peristiwa pertempuran di Laut Arafuru patut menjadi saksi sejarah betapa gagahnya para patriot Indonesia berjuang mempertahankan kedaulatan negeri ini. Heroisme tersebut tidak cukup hanya sebatas seremonial, tetapi juga diikuti langkah konkret elit eksekutif pemerintahan untuk mengembalikan kedigdayaan Indonesia di lautan baik di bidang militer maupun pemanfaatan kekayaan yang terkandung di dalamnya secara mandiri.
Pemerintah Indonesia belakangan ini juga mencanangkan semangat kembali menghidupkan kejayaan maritim. Fakta perairan adalah bagian hidup NKRI sejak berabad-abad silam menjadi penegasan bahwa perairan (laut, selat dan samudera) adalah masa depan yang harus dijaga, dikelola dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.***
Penulis alumnus UMSU S1 & UNNES S2
sumber:analisadaily.com
Prabowo Akan Bangun Kota-Kota Baru, Tiap Wilayah Ada 100 Ribu Rumah untuk Buruh
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto akan membuat kota-kota baru di Indonesia, dimana setiap kota akan ada 100 ribu rumah. Rencana ini untuk memenuhi kebutuhan hunian untuk buruh.Demikia
Bawa Replika Rudal, Massa Buruh Geruduk Gedung DPR
JAKARTA - Massa buruh mulai mendatangi depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, pada Hari Buruh Internasional, Jumat (1/5/2026) siang. Bahkan, di antara massa, ada yang rudal dan roket ke de
May Day Kondusif, Polres Inhu Tetap Siagakan Personel Dan Patroli Objek Vital
INHU - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) tahun ini berlangsung dalam suasana aman dan kondusif. Tidak adanya aksi yang berpotensi mengganggu ketertiba
Harga Minyak Dunia Hari Ini Anjlok Usai Cetak Rekor Tertinggi Kemarin
Penurunan ini terjadi setelah laporan menyebutkan bahwa militer Amerika Serikat (AS) akan memberikan masukan kepada Presiden Donald Trump. Harga minyak mengalami penurunan pada hari Kamis (Jumat wakt
Vivo T5 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Intip Spesifikasi dan Harganya
JAKARTA �" vivo mambawa kembali lini T Series di Indonesia dengan menghadirkan vivo T5 Series dalam dua model: T5 dan T5 Pro. Lini T Series baru ini diposisikan sebagai perangkat all-roun