Jumat, 01 Mei 2026
  • Home
  • Opini
  • Mengenang Pertempuran Heroik Laut Arafuru

Opini

Mengenang Pertempuran Heroik Laut Arafuru

Oleh: Suadi
Minggu, 28 Jan 2018 10:55
internet
Ilustrasi

Menjelang tengah malam tang­gal 15 Januari 1962, tiga kapal perang Indonesia berlayar di perairan Laut Arafuru untuk menyusup ke da­ratan Papua dalam rangka membe­bas­kan Papua (Irian Jaya) dari ceng­ke­ra­man Belanda. Naasnya, di tengah ja­lan armada Indonesia tersebut di­cegat oleh tiga kapal perang dan dua pesawat Belanda yang beberapa hari sebelumnya diam-diam sudah meng­intai dan mengatur posisi strategis siap tempur. Pertempuran pun tak ter­elak­kan. Kekuatan tidak seimbang mem­buat satu kapal Indonesia KRI Ma­can Tutul bersama Komodor Yos Su­darso tenggelam ditembak musuh. Tang­gal terjadinya peristiwa heroik tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Dharma Samudera atau Hari Laut dan Samudera.

Perairan yang terdiri dari selat, teluk, laut dan samudera menjadi sak­si atas ribuan peristiwa yang terjadi di muka bumi. Luas perairan di muka bumi konon jauh lebih luas diban­ding­kan luas daratan yang terdiri dari be­nua, pulau besar, pulau-pulau kecil, atol dan karang.

Di atas permukaan perairan terse­but, muncul berbagai peradaban me­gah dan kekuatan cadas berbasis ma­ritim seperti Inggris yang dikenal bang­sa pelaut dan sukses menaklukan se­perempat dunia, Bangsa Hispanik (Spa­nyol dan Portugis) dikenal ulung men­jelajahi dunia dengan semangat reconquista, Bangsa Viking dari Skandinavia (Denmark) masyhur dengan sejarah penjelajahan dan penaklukan sampai tanah Iceland dan Greenland. Indonesia di masa lampau juga memiliki sejarah kejayaan maritim oleh Kerajaan Sriwijaya, Sa­mu­dera Pasai, Gowa-Tallo, Ternate, Tidore dan Majapahit.

Peristiwa-peristiwa di perairan terjadi dari aktivitas biasa seperti sekadar menangkap ikan oleh nela­yan, kontak dagang antar saudagar dari berbagai benua, pertukaran bu­daya, hingga peristiwa kriminal berupa tindak kejahatan perompak dan bajak laut.

Perairan juga menjadi saksi peristi­wa heroik seperti perang yang terjadi di Laut Arafuru pada 1962 antara Indonesia versus Belanda, pertempuran Laut Actium pada 31 SM antara Oc­tavianus versus Mark Anthony, per­tem­puran laut Jutland pada 1916 an­tara Inggris versus Jerman, pertem­pu­ran Laut Jawa pada 1942 antara se­kutu (AS, Inggris, Belanda dan Aus­tra­lia) melawan Jepang serta per­tem­puran Gallipolli pada 1915 di selat Dar­danella antara Turki dan Jerman melawan sekutu.

Nostalgia Kejayaan Maritim

Peristiwa heroik yang terjadi di Laut Arafuru tersebut tidak hanya mengingatkan kegagahberanian para pahlawan yang gugur untuk keutuhan NKRI saat merebut Irian Barat, tetapi juga nostalgia kekuatan raksasa ang­kat­an laut Indonesia di masa itu. Pre­siden Sukarno saat itu memandang laut Indonesia memiliki peran dan po­tensi yang sangat vital. Hal tersebut ber­­dasarkan fakta bahwa dua pertiga te­ritori Indonesia adalah perairan de­ngan garis pantai 95.161 km dan ter­diri atas 17.504 pulau.

Secara spesifik, luas perairan Indonesia menurut konvensi hukum laut PBB ke-3 UNCLOS (United Nation Con­­vention on the law of the Sea) se­luas 5,9 juta km2 . Tidak berlebihan bila Indonesia dijuluki sebagai negeri ma­ritim, bahari, kepulauan (archipe­lago) dan lekat dengan citra laut.

Maka tidak mengagetkan bila Presiden Sukarno di masa itu amat bersungguh-sungguh menjaga kedau­la­t­an teritori perairan Indonesia de­ngan memperkuat angkatan laut dan angkatan udara agar mudah meng­awa­si dan mengamankan seluruh wila­yah NKRI secara cepat, efektif dan efisien. Sayangnya, belum sem­pat cita-cita tokoh proklamator terse­but terwujud sudah keburu lengser dan digantikan oleh rezim orde baru yang cenderung agraris dan memu­dar­kan mimpi menjadi negeri maritim yang kuat, tangguh, makmur dan di­segani.

Di masa pemerintahan tokoh prok­lamator tersebut, terutama sewaktu gegap gempita seruan Trikora mere­but Irian Barat pada 1962, kekuatan mi­liter laut dan udara Indonesia sa­ngat sangar. Kekuatan militer Belanda yang waktu itu termasuk pemenang perang dunia ke-2 terlihat sangat kecil di hadaan militer Indonesia bagaikan tikus di hadapan gajah.

Hal tersebut tidak terlepas dari hubungan mesra Indonesia dengan salah satu negara adidaya Uni Sovyet. Uni Sovyet tercatat memberikan ban­tu­an senjata militer, pesawat, kapal pe­rang, kapal selam dan peralatan mi­liter lainnya dengan kualitas canggih dan mutakhir kepada Indonesia se­nilai US$2,5 miliar.

Salah satu bantuan tersebut adalah kapal perang penjelajah Sverdlov dengan bobot 16.640 ton dan 1270 awak, sebuah kapal tercanggih di za­mannya dan oleh Uni Sovyet belum per­nah diberikan kepada negara ma­napun. Di samping itu, Indonesia juga dilengkapi ratusan kapal tempur berbagai jenis diantaranya kelas corvette, 12 kapal selam dan didukung 100 pesawat perang canggih. Bantuan lain­­nya adalah 12 kapal selam, pu­lu­han kapal korvet, serta 100 unit pe­sa­wat mutakhir di era tersebut seperti MIG-21 Fishbed, MIG-15, MIG-17 dan supersonic MIG-19 serta deretan helikopter canggih MI-16 dan MI-4 (Viva.co.id).

Atas banyak pertimbangan, teru­ta­ma militer dan desakan AS, Belanda jadi kecut, minder, mundur teratur dan mau kooperatif menyelesaikan masa­lah Irian Jaya lewat diplomasi PBB dan menggelar penentuan pendapat rakyat (Pepera) secara demokratis.

Kini, nostalgia kejayaan maritim ter­sebut tinggal kenangan. Kekuatan me­ngerikan angkatan laut dan udara Indonesia kini malah terbalik kerap dipandang remeh negara lain. Seperti peristiwa Ambalat di mana kapal perang Malaysia melintasi batas perairan tanpa izin.

Kapal dan pesawat Australia yang kerap me­lang­gar batas di bagian selatan Indonesia. Ser­ta ribuan kapal penangkap ikan asing dengan mesin dan peralatan canggih yang merajalela keluar masuk melanggar batas teritori untuk mencuri ikan-ikan Indonesia.

Untunglah, terobosan Menteri Susi Pudjiastuti sedikit banyak mengubah mindset orang asing untuk segan dan ja­ngan coba-coba mencuri ikan di perairan Indonesia.

Heroiesme Arafuru

Heroisme yang berlandaskan sejarah peristiwa pertempuran di Laut Arafuru pa­tut menjadi saksi sejarah betapa gagahnya para patriot Indonesia berjuang mem­per­ta­hankan kedaulatan negeri ini. Heroisme tersebut tidak cukup hanya sebatas sere­monial, tetapi juga diikuti langkah konkret elit eksekutif pemerintahan untuk me­ngembalikan kedigdayaan Indonesia di lautan baik di bidang militer maupun pe­manfaatan kekayaan yang terkandung di dalamnya secara mandiri.

Pemerintah Indonesia belakangan ini juga mencanangkan semangat kembali menghidupkan kejayaan maritim. Fakta perairan adalah bagian hidup NKRI sejak berabad-abad silam menjadi penegasan bahwa perairan (laut, selat dan samudera) adalah masa depan yang harus dijaga, dikelola dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.***

Penulis alumnus UMSU S1 & UNNES S2

sumber:analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Jumat, 01 Mei 2026 16:21

    Prabowo Akan Bangun Kota-Kota Baru, Tiap Wilayah Ada 100 Ribu Rumah untuk Buruh

    JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto akan membuat kota-kota baru di Indonesia, dimana setiap kota akan ada 100 ribu rumah. Rencana ini untuk memenuhi kebutuhan hunian untuk buruh.Demikia

  • Jumat, 01 Mei 2026 16:18

    Bawa Replika Rudal, Massa Buruh Geruduk Gedung DPR

    JAKARTA - Massa buruh mulai mendatangi depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, pada Hari Buruh Internasional, Jumat (1/5/2026) siang. Bahkan, di antara massa, ada yang rudal dan roket ke de

  • Jumat, 01 Mei 2026 16:17

    May Day Kondusif, Polres Inhu Tetap Siagakan Personel Dan Patroli Objek Vital

    INHU - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) tahun ini berlangsung dalam suasana aman dan kondusif. Tidak adanya aksi yang berpotensi mengganggu ketertiba

  • Jumat, 01 Mei 2026 15:26

    Harga Minyak Dunia Hari Ini Anjlok Usai Cetak Rekor Tertinggi Kemarin

    Penurunan ini terjadi setelah laporan menyebutkan bahwa militer Amerika Serikat (AS) akan memberikan masukan kepada Presiden Donald Trump. Harga minyak mengalami penurunan pada hari Kamis (Jumat wakt

  • Jumat, 01 Mei 2026 10:39

    Vivo T5 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Intip Spesifikasi dan Harganya

    JAKARTA ï¿½" vivo mambawa kembali lini T Series di Indonesia dengan menghadirkan vivo T5 Series dalam dua model: T5  dan T5 Pro. Lini T Series baru ini diposisikan sebagai perangkat all-roun

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.