Kamis, 06 Agu 2026
  • Home
  • Opini
  • Merawat Kebhinnekaan, Menuai Kedamaian

Opini

Merawat Kebhinnekaan, Menuai Kedamaian

Oleh: Samsul AR
Senin, 12 Des 2016 08:40
Internet
Ilustrasi

Indonesia sedang diuji kekuatan persatuan kebhinnekaan bangsa. Hal ini terlihat semakin kuatnya isu SARA dan beberapa insiden yang mengatas namakan agama, ras, dan idealogi tertentu. Insiden unjuk rasa pada tang­gal 14 November (411) dan 02 De­sember (212) 2016 menuntut Guber­nur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Pur­nama atau Ahok untuk ditetapkan se­bagai tersangka merupakan puncak geliatnya isu SARA di negeri ini.

Ratusan ribu orang di suluruh Indonesia menuju Jakarta hanya untuk tujuan me­nuntut keadilan atas penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Ahok. Ber­bagai kalangan ikut berpartisipasi pada in­siden unjuk rasa damai tersebut. Mulai dari petani, pedagang, politisi, polisi, pemuda, santri, tokoh masyarakat, dan kiai pun ikut menjadi bagian pada momen ber­sejarah sepanjang masa. Berbagai orga­nisasi yang berafiliasi pada orga­ni­sasi ke-islam-an ikut serta pada momen ter­sebut seperti FPI, HMI, IMM, dan lain sebagainya juga berpartisipasi.

Tentu saja unjuk rasa pada 411 dan 212 menyisakan dua sisi yang saling ber­kaitan untuk dianalisis. Satu sisi per­nyatann Ahok di Pulau Seribu pada saat berkampanye (27/09/16) telah menjadi viral di dunia maya yang berdampak pada gejolak umat islam di bumi Nu­san­tara ini untuk menuntut keadilan karena Ahok merupakan tokoh sekaligus men­jadi calon Gubernur untuk periode 2017-2022. Di sisi yang lain Ahok merupakan warga menoritas yang me­miliki keper­ca­yan berbeda dengan umat islam dan ber­bicara di luar ke­mam­puannya se­hingga menjadikan umat is­lam ber­ge­jolak untuk menuntut ke­adilan. Ditambah lagi bersamaan dengan mo­men pilkada yang rentan dengan po­litisasi semua per­setujuan, tindakan, dan ucapan sang pe­mimpin terlebih sebagai calon kepada dae­rah. Sebagai seorang pe­­mimpin, ten­tu­nya mengucapkan hal yang belum di­ketahui seharusnya tidak dilakukan se­hingga apa yang diucapkan tidak menjadi boo­merang bagi dirinya sen­diri terlebih pada orang lain. Sebagai­mana pepatah arab menyebutkan " ada­mul ilmi adu'wwun (ketidak tahuan me­ru­pakan mu­suh bagi hambanya). Hal ini pula yang terjadi pada Ahok yang pada akhir­nya ditetapkan sebagai tersangka.

Insiden 411 dan 212 telah menja­di­kan seluruh rakyat Indonesia terkotak. Se­tidaknya, rakyat Indonesia terbagi men­jadi 3 kelompok, sebagaimana pen­dapatnya Abdus Syukur pada kolom Opini Jawa Pos yaitu kelompok pertama ada­lah orang yang pro pada Ahok yang meng­anggap Ahok tidak bersalah karena mengucapakan hal yang tidak diketahui.

Kelompok kedua adalah orang yang kontra yang menganggap Ahok bersalah karena dianggap telah melecehkan al-Qur'an yang berujung pada insiden unjuk rasa, dan kelompok ketiga kelompak netral yang tidak mengikuti isu-isu ke-nasional-an. (JawaPos, 16, 2016).

Terbentuknya kelompok-kelompok ini telah meniadakan kebhinnekaan ka­rena kelompok yang satu dengan ke­lom­pok yang lain saling serang baik melalui opini, argumen­tasi, dan lain-lain untuk saling menguatkan dan saling menjatuh­kan. Perang opini ini baik di dunia nyata maupun di dunia maya telah menjadikan persatuan dan kesatuan bangsa ini mulai retak hanya karena adanya perbedaaan. Padahal perbe­daan merupakan sunna­tullah yang dianu­ngrah­kan kepada umat manusia untuk dirawat, dijaga, dibudi­da­yakan, dikem­bang, dan dipertahankan agar supaya per­damaian dan kedamaian bangsa Indonesia terus terjaga.

Allah dalam al-Qur'an berfirman da­lam surat al-Maidah ayat 48 yang artinya " kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tet­api Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah terhadap kebaikan".

Tentu saja keanekaragaman dan ke­bhinnekaan ini merupakan suatu yang unik dan menarik untuk saling mengisi kekurang dan saling memberi kelebihan dari masing-masing untuk kebaikan umat manusia.

Selain itu Tuhan menciptakan manu­sia bersuku-suku, berbangsa-bangsa, ber­beda-beda warna kulit, berbeda ke­per­cayaan. Ada yang menyembah Tuhan melalui sholat di Masjid atau Musholla, ada pula yang menyembah Tuhan melalui pergi ke Candi, Pure, dan Gereja dan lain merupakan keunikan dan keindahan yang harus dirawat untuk saling mengenal an­tara yang satu dengan yang lain (al-Hujurat,13). Dari saling mengenal inilah timbul rasa kasih sayang, saling me­nguatkan, saling memberi, saling men­cintai, dan saling membantu untuk kesa­tuan bangsa Indonesia. Pun juga ke­mer­dekaan Indonesia bukanya hanya atas perjuangan satu orang satu, satu etnis saja, satu agama saja tetapi seluruh rakyat Indonesia turut serta berjuang hanya untuk kemerdekaan Indonesia.

Satu bangsa, sejuta keunikan

Persatuan dan kesatuan bangsa dalam bing­kai kebhinnekaan meru­pakan se­gala-galanya. Tidak terban­tahkan bahwa In­donesia merupakan bangsa yang unik dan menarik dari berbagai sendi kehidupan. Hal ini terlihat dari jumlah pulau di Indonesia sebanya 13.667, 358 suku, 200 subsuku. Kemudian diperkuat pula dengan jumlah pemeluk agama yang me­nurut BPS Nasional pada tahun 2010 pemeluk agama Kristen dan Katolik se­banyak 9,78 persen, agama Hindu 1.69 per­sen, agama Budha 0.72 persen, agama Kung­hucu 0,05 persen, agama dan ke­per­cayaan lain sebanyak 0,5 persen. Agam Islam merupakan agama terbesar di negeri tercinta ini sebanyak 87,18 persen.

Sedangkan jumlah bahasa yang di­gunakan oleh rakyat Indonesia kurang le­bih sebanyak 768 jenis seperti bahasa Jawa, papua, melayu, Dayak, Sunda, Ma­dura, dan lain akan tetapi bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu bangsa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan saudara sebangsa.

Realitas inilah yang menjadikan In­done­sia bangsa yang unik dan menarik di satu sisi tetapi di sisi lain keunikan inilah rentan menimbulkan konflik yang sangat besar jika tidak disikapi dengan bijak dan menjunjung tinggi nilai-nilai pluralitas, toleransi, dan persatuan.

Oleh karena itu, persatuan dan ke­sa­tu­an bangsa Indonesia merupakan ba­gian tu­juan utama untuk diperjuang­kan oleh se­luruh rakyat Indonesia se­ba­gai­ma­na per­juangan para pahlawan pada masa lalu yang mementingkan ke­mer­de­kaan dan per­satuan bangsa Indonesia ser­ta me­nge­sam­ping­kan perbedaan dan ke­penti­ngan individu maupun  kelompok tertentu. ***

Penulis adalah Penggiat Duta Damai Dunia Maya Regional Yogyakarta.

sumber:harian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Rabu, 05 Agu 2026 19:38

    Panglima TNI dan Menhan RI Yakinkan Kesiapan Interoperabilitas TNI

    Kepri-Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto bersama Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto, Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi R., serta para Kepala

  • Rabu, 05 Agu 2026 19:35

    Wakil Panglima TNI dan Sejumlah Pejabat Negara Terima Warga Kehormatan dan Brevet Korps Marinir

    Kepri-Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi R., Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, Ketua Komisi I DPR RI Utut Adianto, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, dan Kep

  • Rabu, 05 Agu 2026 19:28

    KKN Kelompok 17 Universitas Abdurrab Siap Sukseskan Perayaan HUT ke-81

    Tapung Hulu-Semangat kebersamaan dan gotong royong mulai terasa di Desa Senama Nenek, Kecamatan Tapung Hulu, melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN Kelompok 17 Universitas Abdurrab dan Karang Taruna

  • Rabu, 05 Agu 2026 16:50

    Termasuk Bapenda Riau, 8 OPD Raih Penghargaan Kearsipan Pemprov

    PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau memberikan penghargaan kearsipan internal kepada delapan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dengan predikat Sangat Memuaskan. Penghargaan tersebut diserahkan di Pek

  • Rabu, 05 Agu 2026 16:28

    Plt Gubri Usulkan Jembatan Siak V dan Flyover Garuda Sakti ke Menteri PU

    PEKANBARU â€" Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, menyampaikan sejumlah usulan pembangunan infrastruktur strategis kepada Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, saat melakukan pert

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

    slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki