Opini
Merawat Kebhinnekaan, Menuai Kedamaian
Oleh: Samsul AR
Senin, 12 Des 2016 08:40
Indonesia sedang diuji kekuatan persatuan kebhinnekaan bangsa. Hal ini terlihat semakin kuatnya isu SARA dan beberapa insiden yang mengatas namakan agama, ras, dan idealogi tertentu. Insiden unjuk rasa pada tanggal 14 November (411) dan 02 Desember (212) 2016 menuntut Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok untuk ditetapkan sebagai tersangka merupakan puncak geliatnya isu SARA di negeri ini.
Ratusan ribu orang di suluruh Indonesia menuju Jakarta hanya untuk tujuan menuntut keadilan atas penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Ahok. Berbagai kalangan ikut berpartisipasi pada insiden unjuk rasa damai tersebut. Mulai dari petani, pedagang, politisi, polisi, pemuda, santri, tokoh masyarakat, dan kiai pun ikut menjadi bagian pada momen bersejarah sepanjang masa. Berbagai organisasi yang berafiliasi pada organisasi ke-islam-an ikut serta pada momen tersebut seperti FPI, HMI, IMM, dan lain sebagainya juga berpartisipasi.
Tentu saja unjuk rasa pada 411 dan 212 menyisakan dua sisi yang saling berkaitan untuk dianalisis. Satu sisi pernyatann Ahok di Pulau Seribu pada saat berkampanye (27/09/16) telah menjadi viral di dunia maya yang berdampak pada gejolak umat islam di bumi Nusantara ini untuk menuntut keadilan karena Ahok merupakan tokoh sekaligus menjadi calon Gubernur untuk periode 2017-2022. Di sisi yang lain Ahok merupakan warga menoritas yang memiliki kepercayan berbeda dengan umat islam dan berbicara di luar kemampuannya sehingga menjadikan umat islam bergejolak untuk menuntut keadilan. Ditambah lagi bersamaan dengan momen pilkada yang rentan dengan politisasi semua persetujuan, tindakan, dan ucapan sang pemimpin terlebih sebagai calon kepada daerah. Sebagai seorang pemimpin, tentunya mengucapkan hal yang belum diketahui seharusnya tidak dilakukan sehingga apa yang diucapkan tidak menjadi boomerang bagi dirinya sendiri terlebih pada orang lain. Sebagaimana pepatah arab menyebutkan " adamul ilmi adu'wwun (ketidak tahuan merupakan musuh bagi hambanya). Hal ini pula yang terjadi pada Ahok yang pada akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.
Insiden 411 dan 212 telah menjadikan seluruh rakyat Indonesia terkotak. Setidaknya, rakyat Indonesia terbagi menjadi 3 kelompok, sebagaimana pendapatnya Abdus Syukur pada kolom Opini Jawa Pos yaitu kelompok pertama adalah orang yang pro pada Ahok yang menganggap Ahok tidak bersalah karena mengucapakan hal yang tidak diketahui.
Kelompok kedua adalah orang yang kontra yang menganggap Ahok bersalah karena dianggap telah melecehkan al-Qur'an yang berujung pada insiden unjuk rasa, dan kelompok ketiga kelompak netral yang tidak mengikuti isu-isu ke-nasional-an. (JawaPos, 16, 2016).
Terbentuknya kelompok-kelompok ini telah meniadakan kebhinnekaan karena kelompok yang satu dengan kelompok yang lain saling serang baik melalui opini, argumentasi, dan lain-lain untuk saling menguatkan dan saling menjatuhkan. Perang opini ini baik di dunia nyata maupun di dunia maya telah menjadikan persatuan dan kesatuan bangsa ini mulai retak hanya karena adanya perbedaaan. Padahal perbedaan merupakan sunnatullah yang dianungrahkan kepada umat manusia untuk dirawat, dijaga, dibudidayakan, dikembang, dan dipertahankan agar supaya perdamaian dan kedamaian bangsa Indonesia terus terjaga.
Allah dalam al-Qur'an berfirman dalam surat al-Maidah ayat 48 yang artinya " kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah terhadap kebaikan".
Tentu saja keanekaragaman dan kebhinnekaan ini merupakan suatu yang unik dan menarik untuk saling mengisi kekurang dan saling memberi kelebihan dari masing-masing untuk kebaikan umat manusia.
Selain itu Tuhan menciptakan manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa, berbeda-beda warna kulit, berbeda kepercayaan. Ada yang menyembah Tuhan melalui sholat di Masjid atau Musholla, ada pula yang menyembah Tuhan melalui pergi ke Candi, Pure, dan Gereja dan lain merupakan keunikan dan keindahan yang harus dirawat untuk saling mengenal antara yang satu dengan yang lain (al-Hujurat,13). Dari saling mengenal inilah timbul rasa kasih sayang, saling menguatkan, saling memberi, saling mencintai, dan saling membantu untuk kesatuan bangsa Indonesia. Pun juga kemerdekaan Indonesia bukanya hanya atas perjuangan satu orang satu, satu etnis saja, satu agama saja tetapi seluruh rakyat Indonesia turut serta berjuang hanya untuk kemerdekaan Indonesia.
Satu bangsa, sejuta keunikan
Persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai kebhinnekaan merupakan segala-galanya. Tidak terbantahkan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang unik dan menarik dari berbagai sendi kehidupan. Hal ini terlihat dari jumlah pulau di Indonesia sebanya 13.667, 358 suku, 200 subsuku. Kemudian diperkuat pula dengan jumlah pemeluk agama yang menurut BPS Nasional pada tahun 2010 pemeluk agama Kristen dan Katolik sebanyak 9,78 persen, agama Hindu 1.69 persen, agama Budha 0.72 persen, agama Kunghucu 0,05 persen, agama dan kepercayaan lain sebanyak 0,5 persen. Agam Islam merupakan agama terbesar di negeri tercinta ini sebanyak 87,18 persen.
Sedangkan jumlah bahasa yang digunakan oleh rakyat Indonesia kurang lebih sebanyak 768 jenis seperti bahasa Jawa, papua, melayu, Dayak, Sunda, Madura, dan lain akan tetapi bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu bangsa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan saudara sebangsa.
Realitas inilah yang menjadikan Indonesia bangsa yang unik dan menarik di satu sisi tetapi di sisi lain keunikan inilah rentan menimbulkan konflik yang sangat besar jika tidak disikapi dengan bijak dan menjunjung tinggi nilai-nilai pluralitas, toleransi, dan persatuan.
Oleh karena itu, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia merupakan bagian tujuan utama untuk diperjuangkan oleh seluruh rakyat Indonesia sebagaimana perjuangan para pahlawan pada masa lalu yang mementingkan kemerdekaan dan persatuan bangsa Indonesia serta mengesampingkan perbedaan dan kepentingan individu maupun kelompok tertentu. ***
Penulis adalah Penggiat Duta Damai Dunia Maya Regional Yogyakarta.
sumber:harian.analisadaily.com
Ratusan Mahasiswa Demo Depan Kantor Pemprov Lampung, Bawa 6 Tuntutan
Lampung- Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Lampung Tarik Mandat menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Pemerintah Provinsi Lampung, Senin (15/6/2026). Dalam aksi tersebut, mereka menyu
Pemimpin Dunia Sambut Baik Kesepakatan Damai AS-Iran
Teheran - Dukungan internasional terhadap kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran terus mengalir. Sejumlah pemimpin dunia dan organisasi internasional menyambut positif terobosan diplomatik
Warga Minas Rajut Kemandirian Ekonomi Lewat Budidaya Lele
Minas Jaya-Memasuki masa pensiun sering kali mendatangkan kecemasan tersendiri bagi sebagian orang. Terutama terkait kepastian sumber pendapatan untuk menopang kebutuhan keluarga setelah tidak lagi me
3 Sekolah Rakyat Berhasil Raih Penghargaan Top 100 Excellence Award 2026
Jakarta - Tiga Sekolah Rakyat berhasil meraih penghargaan pada ajang TOP 100 BUMD, Education, Leader, BPR Excellence Award 2026 yang digelar di Surabaya, Jawa Timur (Jatim). 3 sekolah itu di antaranya
Sosok Eddy Tansil: Dicari Sejak 1996, Aset Miliaran Disita Negara
Eddy Tansil, buron legendaris sejak 1996 yang sampai detik ini belum diketahui rimbanya. Namun aset-asetnya sudah ditelusuri dan diserahkan ke negara.Dirangkum detikcom, Senin (15/6/2026), Eddy Tansil