Opini
Pendidikan Gempa dan Audit Gedung Bertingkat
Oleh: Djoko Subinarto
Minggu, 28 Jan 2018 11:15
Gempa bumi berkekuatan 6,1 skala Richter mengguncang lima provinsi yakni Banten, Jakarta, Lampung, Jawa Barat danJawa Tengah, Selasa (23/1/2018) lalu. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di sekitar Samudera Hindia, di ke dalaman 64 kilometer, barat daya Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.
Meskipun tidak sampai menimbulkan korban jiwa, menyusul gempa tersebut, ratusan rumah di wilayah Banten dan Jawa Barat dilaporkan rusak. Sementara itu, di Jakarta, para karyawan yang berkantor di gedung-gedung bertingkat berhamburan keluar dengan panik karena khawatir bangunan ambruk lantaran tidak kuat menahan guncangan gempa.
Sangat boleh jadi, secara teoritis, episode gempa bumi di negeri ini masih akan terus berlanjut. Harap maklum, sebagai negara yang berada di antara tiga lempeng bumi yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik, Indonesia memang menjadi salah satu kawasan yang rawan gempa bumi. Indonesia bahkan disebut-sebut sebagai salah satu negara yang memiliki titik gempa bumi paling banyak di dunia. Dengan pemahaman seperti ini, mestinya penduduk negeri ini harus selalu siap-fisik maupun psikis -menghadapi setiap kemungkinan terjadinya gempa bumi.
Namun, faktanya, dibandingkan penduduk sejumlah negeri lain yang juga berada di kawasan rawan gempa bumi, seperti Amerika Serikat, Jepang, Romania maupun Selandia Baru misalnya, kebanyakan penduduk kita tampaknya senantiasa kurang siap dalam menghadapi kemungkinan terjadinya gempa bumi.
Salah satu penyebabnya adalah minimnya pendidikan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam yang diperuntukkan untuk anak-anak sekolah maupun yang diperuntukkan untuk masyarakat umum secara luas. Ujung-ujungnya bisa ditebak, masih banyak penduduk kita yang tidak mengetahui cara bertindak yang tepat saat terjadi bencana alam. Padahal, memiliki pengetahuan yang mumpuni ihwal kesiapsiagaan menghadapi bencana alam sangat penting untuk mengurangi risiko yang lebih buruk ketika terjadinya bencana alam.
Dalam konteks pendidikan di sekolah, secara pribadi, saya sangat setuju dengan pendapat Hamid Hasan, salah seorang anggota tim inti pengembangan kurikulum 2013, yang menyatakan bahwa kurikulum pendidikan kita minim berorientasi kepada kehidupan. Padahal, justru kurikulum pendidikan yang berorientasi kepada kehidupanlah yang sebaiknya lebih banyak diajarkan di sekolah-sekolah kita.
Dengan melihat fakta bahwa negeri ini sebagian besar wilayahnya berada dalam kawasan rawan gempa bumi, maka sudah selayaknya pendidikan gempa bumi menjadi salah satu pelajaran yang perlu lebih banyak diajarkan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana alam.
Sebagai sebuah mata pelajaran yang berorientasi pada kehidupan nyata, pendidikan gempa bumi idealnya bisa diajarkan mulai dari tingkat pendidikan dasar hingga tingkat pendidikan menengah di sekolah-sekolah kita. Tidak harus membuat mata pelajaran baru bagi pendidikan gempa bumi di sekolah. Pendidikan gempa bumi dapat diberikan lewat mata pelajaran yang sudah ada, misalnya mata pelajaran geografi ataupun sains.
Di negara-negara lain pun pendidikan gempa bumi juga tidak diberikan sebagai pelajaran yang berdiri sendiri, melainkan diintegrasikan dengan pelajaran lain. Sebagai contoh, di Jepang pelajaran ini diajarkan dalam pelajaran geosains (chigaku ). Sedangkan di Selandia baru, pelajaran ini diajarkan dalam pelajaran geografi.
Apa fokus utama pendidikan gempa bumi di sekolah? Pertama, untuk mengetahui dan memahami dasar-dasar ilmu gempa bumi (seismologi) berikut segala fenomena yang berkaitan dengannya dan kedua, untuk mengetahui dan memahami berbagai dampak gempa bumi bagi kehidupan manusia. Selain diberikan di bangku sekolah, pendidikan gempa bumi sebaiknya diberikan pula bagi kalangan masyarakat umum, terutama bagi mereka yang bertempat tinggal di kawasan-kawasan rawan gempa bumi.
Dalam hal ini, agaknya kita bisa berkaca pada apa yang dilakukan pemerintah Romania. Menyusul gempa bumi dahsyat yang terjadi di kawasan Vrancea tahun 1990 silam, pemerintah Romania segera berinisiatif meluncurkan program nasional pendidikan gempa bumi bagi publik secara berkala dan berkesinambungan. Untuk menunjang program ini, pemerintah Romania menerbitkan buku panduan praktis gempa bumi untuk para orangtua, anak-anak, para guru, staf sekolah, tenaga medis dan berbagai kategori profesi lainnya serta masyarakat luas yang berada di daerah-daerah rawan gempa bumi.
Diharapkan dengan adanya pendidikan gempa bumi kepada para siswa dan masyarakat umum lainnya ini semakin banyak warga yang kian paham bagaimana belajar hidup dan bertahan hidup di kawasan yang rawan gempa bumi, mampu bertindak rasional dan efisien sebelum dan ketika terjadi gempa bumi, mampu mencegah bencana/petaka lebih jauh tatkala gempa bumi berlangsung dan mampu bekerjasama serta mengambil langkah tepat bagi proses pemulihan setelah gempa bumi terjadi.
Selain pendidikan gempa bumi, yang tidak kalah krusial adalah tindakan audit terhadap gedung-gedung bertingkat, seperti gedung-gedung perkantoran. Seperti kita ketahui, di kota-kota besar, telah lumrah dijumpai gedung-gedung menjulang tinggi yang dijadikan pusat bisnis dan perkantoran. Berbagai aktivitas bisnis dan aktivitas perkantoran berlangsung di satu gedung. Dengan demikian, gedung-gedung perkantoran ini ditempati oleh beragam perusahaan dan menampung ratusan pekerja. Tindakan audit untuk gedung-gedung bertingkat ini sangat penting dilakukan untuk memastikan kelayakan gedung, terutama dikaitkan dengan antisipasi apabila terjadi guncangan akibat gempa bumi. Audit perlu dilakukan secara berkala. Selain itu, audit juga perlu dilakukan pasca gempa berlangsung.
Problemnya di negeri ini adalah, hingga saat ini, belum ada aturan yang mengikat bahwa pasca gempa berlangsung, gedung-gedung harus segera diaudit. Padahal, menurut Ketua Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), Davy Sukamta, yang dikutip laman kompas.com, Selasa (23/1/2018), di Amerika Serikat, khususnya pantai barat yang merupakan kawasan rawan gempa, setiap gedung besar sudah menunjuk konsultan yang akan datang pasca gempa dengan kontrak per tahun.
Nah, mengingat bahwa sebagian besar wilayah negeri ini rawan gempa, tampaknya pemerintah kita perlu segera menerbitkan aturan yang mewajibkan para pemilik atau pengelola gedung untuk segera melakukan audit pasca gempa. Hal ini untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk yang dapat terjadi selama dan setelah gempa berlangsung.***
Penulis adalah kolumnis, alumnus Universitas Padjadjaran.
sumber:analisadaily.com
Capaian SLHS SPPG di Riau Baru 87 Persen, Masih Banyak Dapur MBG Belum Sertifikasi Higiene
PEKANBARU - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau terus memacu kesiapan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui percepatan penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi Satuan Pe
Indosat, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA Luncurkan Zankore by Indosat
JAKARTA-Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat atau IOH) meluncurkan Zankore by Indosat, yang merupakan kolaborasi bersama Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA untuk membangun infrastruktur AI generasi terbar
Kejari Inhu Pulihkan Rp1,86 Miliar dari Kasus Korupsi BPR Indra Arta, Ini Pesan Wabup Hendrizal
INHU-Upaya pemulihan keuangan negara dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi di BPR Indra Arta memasuki babak baru. Kejaksaan Negeri (Kejari) Indragiri Hulu (Inhu) secara simbolis menyerahkan penge
Komisi I DPRD Riau Gelar UKK Calon Komisioner KI dan KPID Pekan Depan
PEKANBARU-Proses seleksi calon anggota Komisi Informasi (KI) dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Riau memasuki tahapan penting.Komisi I DPRD Riau resmi menetapkan pelaksanaan Uji Kel
Wakil Ketua DPRD Pekanbaru: Sekdako Baru Harus Jadi Motor Penggerak Birokrasi
PEKANBARU - Pelantikan Zulhelmi Arifin atau yang akrab disapa Ami sebagai Sekretaris Daerah Kota (Sekdakoko) definitif Pekanbaru diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kinerja birokrasi sekaligu