Jumat, 01 Mei 2026
  • Home
  • Opini
  • Semoga Bukan karena Pilkada DKI Jakarta

Opini

Semoga Bukan karena Pilkada DKI Jakarta

Oleh: Amin Multazam
Minggu, 12 Feb 2017 07:18
koranbisnis indonesia
Iluistrasi

BELAKANGAN ini, sensitifitas serta emosionalitas Ma­sya­rakat di Indonesia sedang tinggi. Ya, Tak jauh beda dengan harga cabai di pasar yang juga sedang melambung tinggi. Tu­ding menuding, hujat menghujat hingga salah menyalahkan se­pertinya jadi satu menu wajib bagi masyarakat dalam be­be­rapa bulan belakangan. Bayangkan, arus informasi baik dari media massa maupun media sosial saban hari diriuh kan oleh aksi saling debat, saling klaim, dan saling sindir antar kelompok. Hal ini setidaknya tercermin dari silang sengkarut wacana yang secara sederhana me­nge­rucut pada dua arus besar. Satu, kelompok pembela Ahok serta para individu yang ke­rap mengklaim diri sebagai penjaga toleransi, kebhine­kaan dan 100% pengamal pancasila. Kedua, kelompok pembela agama. Mereka dipersatukan omongan Ahok yang dituduh me­nistakan Islam serta bumbu-bumbu kekecewaan terhadap rezim pemerintahan Jokowi. Selain dianggap melindungi Ahok, rezim ini juga dinilai belum mampu menjawab harapan ma­syarakat. Saling sikut ini dikemas apik melalui perantara media massa.

Jika dalam level masyarakat masih sebatas saling nyindir di Media Sosial, dilevel para elit pertarungan tidak hanya se­ba­­tas sindir dan saling tuding. Lebih dari itu, sudah mema­suki ranah hukum yang ditandai dari fase saling lapor melaporkan kepihak kepolisian. Habib Rizieq berulang kali dilaporkan baik dalam persoalan penistaan agama karena isi ceramah­nya hingga terkait penghinaan terha­dap Kapolda Metro Jaya dan para Hansip. Mantan Presi­den Megawati Soekarnoputri juga dilaporkan kare­na dituding menodai agama saat berpidato dalam acara HUT PDI-P. Sylviana Murni, calon wakil Guber­nur DKI Jakarta yang berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono sudah diperik­sa sebagai saksi atas dugaan korupsi pemba­ngunan Mas­jid Al Fauz di Wali Kota Jakarta Pusat (Jakpus) Tahun 2010-2011. Mantan Presiden SBY tak mau ka­lah, mengancam akan melaporkan pihak-pihak yang diduga melakukan penyadapan atas dirinya. Seperti biasa, beliau merasa terdzo­limi, saat dituduh mengintruk­sikan KH. Ma'ruf Amin untuk mengeluar­kan fatwa MUI atas kasus Ahok. Tentu data demikian jika benar ada, didapat lewat hasil penyada­pan yang tidak bisa diterima.

Bak jamur dimusim hujan, feno­mena hoax tumbuh subur memper­keruh isi kepala masyarakat yang ka­dung sensitif. Masing-masing pihak melalui perantara media saling melahirkan pencitraan-pencitraan bahwa kelompok mereka paling benar. Sebaliknya, kelompok lawan dicitrakan se­de­mikian busuk sebagai penista, penipu, pembohong, peram­pok, pencuri, pencoleng, otoriter dan perusak kondusifitas bangsa. Segala cara dilakukan untuk mempengaruhi, merebut hati dan sim­pati publik. Bermunculan berita aneh bin ajaib yang seketika viral seperti rekaman percakapan "tak pantas" antara seorang yang diduga Habib Rizieq dengan seorang wanita berinisal FH. Siapa paling benar? Mana paling nyata? Sulit untuk ditentukan. Me­nga­cu pada istilah Jean Baudrillard, ba­rang­kali inilah fenomena Hiperrea­litas. Ya, suatu keadaan di mana kepalsuan bersatu dan saling bercam­pur baur dengan keaslian. Fakta bersimpang siur dengan rekayasa, sedangkan tanda melebur dengan realitas, disisi lain dusta bersenyawa dengan kebenaran.

Para antropolog bahkan menya­takan fenomena demikian se­bagai satu kondisi darurat Ke-indonesiaan. Beberapa peris­tiwa belakangan semakin nyata memperlihatkan adanya ke­lom­pok-kelompok yang mempertajam perbedaan dengan melakukan politik identitas, pemak­saan kehendak atas mereka yang dianggap berbeda ada juga upaya yang justru mene­gas­kan perbedaan, menarik garis batas antara yang satu dan yang lainnya serta mengucilkan yang berbeda. Apakah statemen tersebut juga bermuatan politis dalam rangka menguntungkan salah satu kelompok? Entah. Sekali lagi, feno­mena hiperrea­litas menjadikan dusta dan kebenaran telah bersenyawa.

Saya hanya berharap, semoga saja masyarakat Indonesia yang kadung ikut bertarung dan terjerumus dalam pertarungan antar kelompok tadi bukanlah korban sebenarnya, bukan pula sebenar-benarnya korban. Ya, korban dari para elit yang bukan sedang bertarung mempertahakan prinsip maupun nilai ideologis. Tapi hanya sekedar berebut "kue" atau bentuk protes atas tidak ratanya bagi-bagi "kue" bernama kekuasaan. Ter­lalu sok paten serta terkesan Suudzon jika menyatakan kekisruhan level akut ini erat kaitannya dengan pilkada DKI Jakarta. Ah, ma­na mung­kin demikian. Bisa-bisa sauda­ra-saudara saya yang sedang gencar-gencarnya berkon­solidasi guna me­nangkap Ahok yang dituduh menis­takan agama Islam jadi tersing­gung. Serendah itu menakar kadar keima­nan mereka jika hanya diukur sebatas jadi alat politik jelang pilkada. Toh fenomena tersebut menyi­ratkan beberapa sisi positif yang bisa dirasakan. Contoh kecil, banyak teman-teman (khususnya di medsos) yang mendadak jadi Islami, lebih dekat dengan ulama, dan menyadari bahwa umat Islam harus bersatu melawan ke­tidak­adilan sosial. De­ngan fenomena Ahok, banyak umat Islam tersa­dar, meskipun (cuma sebatas) di dinding facebook masing-masing itu soal lain. Yang pasti ini pertanda baik. Jangan takut, ajaran Islam adalah rahmatan lil alamin yang jika diamalkan secara benar, maka akan menjadi rahmat untuk semesta alam.

Namun, apakah gerakan dan spirit kebangkitan umat Islam akan terus menyatu pasca selesai pilkada? Akan­kah ahlak dan moral umat Islam (khususnya peserta aksi) yang berjum­lah ratusan ribu orang terus berbenah menuju akhlakul karimah. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Saya tidak ingin menu­ding dan ikut-ikutan emosi tinggi. Cukuplah harga cabai yang tinggi dipasaran. Salam damai Indonesia. ***

sumber:harian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Jumat, 01 Mei 2026 16:21

    Prabowo Akan Bangun Kota-Kota Baru, Tiap Wilayah Ada 100 Ribu Rumah untuk Buruh

    JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto akan membuat kota-kota baru di Indonesia, dimana setiap kota akan ada 100 ribu rumah. Rencana ini untuk memenuhi kebutuhan hunian untuk buruh.Demikia

  • Jumat, 01 Mei 2026 16:18

    Bawa Replika Rudal, Massa Buruh Geruduk Gedung DPR

    JAKARTA - Massa buruh mulai mendatangi depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, pada Hari Buruh Internasional, Jumat (1/5/2026) siang. Bahkan, di antara massa, ada yang rudal dan roket ke de

  • Jumat, 01 Mei 2026 16:17

    May Day Kondusif, Polres Inhu Tetap Siagakan Personel Dan Patroli Objek Vital

    INHU - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) tahun ini berlangsung dalam suasana aman dan kondusif. Tidak adanya aksi yang berpotensi mengganggu ketertiba

  • Jumat, 01 Mei 2026 15:26

    Harga Minyak Dunia Hari Ini Anjlok Usai Cetak Rekor Tertinggi Kemarin

    Penurunan ini terjadi setelah laporan menyebutkan bahwa militer Amerika Serikat (AS) akan memberikan masukan kepada Presiden Donald Trump. Harga minyak mengalami penurunan pada hari Kamis (Jumat wakt

  • Jumat, 01 Mei 2026 10:39

    Vivo T5 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Intip Spesifikasi dan Harganya

    JAKARTA ï¿½" vivo mambawa kembali lini T Series di Indonesia dengan menghadirkan vivo T5 Series dalam dua model: T5  dan T5 Pro. Lini T Series baru ini diposisikan sebagai perangkat all-roun

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.