Opini
Semoga Bukan karena Pilkada DKI Jakarta
Oleh: Amin Multazam
Minggu, 12 Feb 2017 07:18
BELAKANGAN ini, sensitifitas serta emosionalitas Masyarakat di Indonesia sedang tinggi. Ya, Tak jauh beda dengan harga cabai di pasar yang juga sedang melambung tinggi. Tuding menuding, hujat menghujat hingga salah menyalahkan sepertinya jadi satu menu wajib bagi masyarakat dalam beberapa bulan belakangan. Bayangkan, arus informasi baik dari media massa maupun media sosial saban hari diriuh kan oleh aksi saling debat, saling klaim, dan saling sindir antar kelompok. Hal ini setidaknya tercermin dari silang sengkarut wacana yang secara sederhana mengerucut pada dua arus besar. Satu, kelompok pembela Ahok serta para individu yang kerap mengklaim diri sebagai penjaga toleransi, kebhinekaan dan 100% pengamal pancasila. Kedua, kelompok pembela agama. Mereka dipersatukan omongan Ahok yang dituduh menistakan Islam serta bumbu-bumbu kekecewaan terhadap rezim pemerintahan Jokowi. Selain dianggap melindungi Ahok, rezim ini juga dinilai belum mampu menjawab harapan masyarakat. Saling sikut ini dikemas apik melalui perantara media massa.
Jika dalam level masyarakat masih sebatas saling nyindir di Media Sosial, dilevel para elit pertarungan tidak hanya sebatas sindir dan saling tuding. Lebih dari itu, sudah memasuki ranah hukum yang ditandai dari fase saling lapor melaporkan kepihak kepolisian. Habib Rizieq berulang kali dilaporkan baik dalam persoalan penistaan agama karena isi ceramahnya hingga terkait penghinaan terhadap Kapolda Metro Jaya dan para Hansip. Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri juga dilaporkan karena dituding menodai agama saat berpidato dalam acara HUT PDI-P. Sylviana Murni, calon wakil Gubernur DKI Jakarta yang berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono sudah diperiksa sebagai saksi atas dugaan korupsi pembangunan Masjid Al Fauz di Wali Kota Jakarta Pusat (Jakpus) Tahun 2010-2011. Mantan Presiden SBY tak mau kalah, mengancam akan melaporkan pihak-pihak yang diduga melakukan penyadapan atas dirinya. Seperti biasa, beliau merasa terdzolimi, saat dituduh mengintruksikan KH. Ma'ruf Amin untuk mengeluarkan fatwa MUI atas kasus Ahok. Tentu data demikian jika benar ada, didapat lewat hasil penyadapan yang tidak bisa diterima.
Bak jamur dimusim hujan, fenomena hoax tumbuh subur memperkeruh isi kepala masyarakat yang kadung sensitif. Masing-masing pihak melalui perantara media saling melahirkan pencitraan-pencitraan bahwa kelompok mereka paling benar. Sebaliknya, kelompok lawan dicitrakan sedemikian busuk sebagai penista, penipu, pembohong, perampok, pencuri, pencoleng, otoriter dan perusak kondusifitas bangsa. Segala cara dilakukan untuk mempengaruhi, merebut hati dan simpati publik. Bermunculan berita aneh bin ajaib yang seketika viral seperti rekaman percakapan "tak pantas" antara seorang yang diduga Habib Rizieq dengan seorang wanita berinisal FH. Siapa paling benar? Mana paling nyata? Sulit untuk ditentukan. Mengacu pada istilah Jean Baudrillard, barangkali inilah fenomena Hiperrealitas. Ya, suatu keadaan di mana kepalsuan bersatu dan saling bercampur baur dengan keaslian. Fakta bersimpang siur dengan rekayasa, sedangkan tanda melebur dengan realitas, disisi lain dusta bersenyawa dengan kebenaran.
Para antropolog bahkan menyatakan fenomena demikian sebagai satu kondisi darurat Ke-indonesiaan. Beberapa peristiwa belakangan semakin nyata memperlihatkan adanya kelompok-kelompok yang mempertajam perbedaan dengan melakukan politik identitas, pemaksaan kehendak atas mereka yang dianggap berbeda ada juga upaya yang justru menegaskan perbedaan, menarik garis batas antara yang satu dan yang lainnya serta mengucilkan yang berbeda. Apakah statemen tersebut juga bermuatan politis dalam rangka menguntungkan salah satu kelompok? Entah. Sekali lagi, fenomena hiperrealitas menjadikan dusta dan kebenaran telah bersenyawa.
Saya hanya berharap, semoga saja masyarakat Indonesia yang kadung ikut bertarung dan terjerumus dalam pertarungan antar kelompok tadi bukanlah korban sebenarnya, bukan pula sebenar-benarnya korban. Ya, korban dari para elit yang bukan sedang bertarung mempertahakan prinsip maupun nilai ideologis. Tapi hanya sekedar berebut "kue" atau bentuk protes atas tidak ratanya bagi-bagi "kue" bernama kekuasaan. Terlalu sok paten serta terkesan Suudzon jika menyatakan kekisruhan level akut ini erat kaitannya dengan pilkada DKI Jakarta. Ah, mana mungkin demikian. Bisa-bisa saudara-saudara saya yang sedang gencar-gencarnya berkonsolidasi guna menangkap Ahok yang dituduh menistakan agama Islam jadi tersinggung. Serendah itu menakar kadar keimanan mereka jika hanya diukur sebatas jadi alat politik jelang pilkada. Toh fenomena tersebut menyiratkan beberapa sisi positif yang bisa dirasakan. Contoh kecil, banyak teman-teman (khususnya di medsos) yang mendadak jadi Islami, lebih dekat dengan ulama, dan menyadari bahwa umat Islam harus bersatu melawan ketidakadilan sosial. Dengan fenomena Ahok, banyak umat Islam tersadar, meskipun (cuma sebatas) di dinding facebook masing-masing itu soal lain. Yang pasti ini pertanda baik. Jangan takut, ajaran Islam adalah rahmatan lil alamin yang jika diamalkan secara benar, maka akan menjadi rahmat untuk semesta alam.
Namun, apakah gerakan dan spirit kebangkitan umat Islam akan terus menyatu pasca selesai pilkada? Akankah ahlak dan moral umat Islam (khususnya peserta aksi) yang berjumlah ratusan ribu orang terus berbenah menuju akhlakul karimah. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Saya tidak ingin menuding dan ikut-ikutan emosi tinggi. Cukuplah harga cabai yang tinggi dipasaran. Salam damai Indonesia. ***
sumber:harian.analisadaily.com
Tewas Bersimbah Darah, Warga Pekanbaru diduga Dibunuh Mantan Suami
PEKANBARU - Warga kelurahan Air Putih, Kecamatan Tuah Madani, Pekanbaru digegerkan dengan ditemukannya Rosdiana dengan kondisi bersimbah darah di rumahnya yang berdiri di Jalan Surya Jumat (07/08/26).
Gedung Bapenda DKI Terbakar, Lantai 11 Diduga Jadi Titik Api
JAKARTA - Insiden kebakaran melanda Gedung Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI Jakarta, Jumat (7/8/2026) malam. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 21.30 WIB tersebut mengharuskan petugas pemadam k
PM Thailand Serahkan Medali Kehormatan Angkatan Bersenjata kepada Prabowo
Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul menyampaikan penghormatan tinggi kepada Presiden RI Prabowo Subianto. PM Anutin membawa langsung medali kehormatan dari Angkatan Bersenjata Thailand u
Waketum MUI Tekankan Pentingnya Pemimpin Adaptif Digital di Era Transformasi
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Marsudi Syuhud, menegaskan pentingnya adaptasi pemimpin terhadap transformasi digital. Pernyataan ini disampaikan dalam acara penting di Jakarta, men
Bahlil Ungkap Alasan Indonesia Kalah dari Vietnam Saat Perang Dagang AS-China
Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa perang dagang antara China dan Amerika Serikat mulai terlihat pada 2016-2017 dan turut berdampak pada Indon