Opini
Tahun Politik dan Orang-orang Licik
Oleh: Hidayat Banjar
Minggu, 28 Jan 2018 11:23
Pada masa monarki, kekuasaan raja cenderung mutlak. Kata-kata raja adalah fatwa. Raja adalah kebenaran.Telunjuk raja adalah titah.
Perlahan zaman bergulir, dikenallah demokrasi yang merupakan kekuasaan rakyat. Dari, oleh dan untuk rakyat. Tapi, apakah demokrasi di Indonesia sudah sebagaimana yang kita harapkan?
Demokrasi bukanlah sesuatu yang instan, sebagaimana makanan instan - yang begitu diseduh air panas - langsung dapat dinikmati. Demokrasi adalah perjuangan dan terkadang memerlukan waktu sangat panjang, yang - uniknya - tiap zaman seolah memiliki bentuknya sendiri.
Rezim Orla yang dilakoni Soekarno malah berusaha mengawetkan kekuasaannya lewat pernyataan majelis yang mengaku perwakilan rakyat sebagai "presiden seumur hidup". Orba juga tak jauh beda, meskipun Soeharto bukan presiden seumur hidup, pun melakoni apa yang disebut orang pintar sebagai oligarki eksekutif. Selama 32 tahun kekuasaan Orba berhasil mensubordinasi lembaga-lembaga yang ada.
Perbuatan Zalim
Masuklah kita di era (orde) reformasi. Pun menurut penulis, era reformasi tetap juga terjadi yang seharusnya tak terjadi. Ironis sekali, sudah dideklarasikan untuk menjadi calon gubernur tetapi diingkari. Lalu - terpaksa atau tidak, hanya Tuan itulah yang tahu - ikut mengantarkan pasangan lain mendaftar sebagai calon. Padahal Tuan itulah Ketua Pimpinan Wilayah partai pengusung. Demokrasikah ini? Tidakkah ini perbuatan zalim? Biarlah para ahli yang menjawabnya.
Begitu juga dengan hadirnya sosok calon yang tidak berasal dari Sumut, di media-media sosial ramai ungkapan "kenapa sampah itu dikirim ke Sumut?" Masya Allah, teganya mereka mengatakan manusia sebagai sampah.
Padahal sejatinya Pilkada, Pileg maupun Pilpres, merupakan aktualisasi napas dan perjalanan demokrasi yang harus dilalui Indonesia. Rakyat secara langsung memilih figur-figur personal dengan harapan besar, dapat menjadi penyambung aspirasi, memperjuangkan kepentingan-kepentingan rakyat, serta mengubur dalam-dalam kepentingan diri-pribadi maupun golongan.
Akan tetapi, dalam Pilkada, Pileg maupun Pilpres yang sudah berlalu, masyarakat Indonesia (khususnya Sumut) dijejali penampakan 'kurang dewasa' dari politisi-politisi parpol. Mereka asyik dengan permainan yang sarat upaya menonjolkan diri (narsis) dan pembangunan kesan baik pada partai atau golongannya masing-masing. Apakah pada Tahun Politik 2018 dan 2019 nanti hal-hal yang menunjukkan kita tidak dewasa dalam berpolitik, harus terulang kembali?
Spirit Antipati
Seperti virus demagogi - yang diidap orang-orang licik - dijadikan pemicu spirit antipati kepada pihak-pihak lain, haruskah terulang kembali? Sama kita ketahui, para demagog dalam Pilkada, Pileg dan Pilpres di tahun-tahun lalu menciptakan atmosfer persaingan yang tidak sehat. Mereka berebut klaim, mendiskreditkan, hingga wacana pengelompokan kekuatan politik yang berbau SARA (Suku, Agama dan Ras, kelompok nasionalis-agamis, pembunuhan karakter pribadi, dan lain-lain). Kesadaran kita (rakyat) hendaknya mampu mewaspadai bahwa virus demagogi merupakan ancaman serius bagi demokrasi Indonesia di era baru yang bernama Reformasi ini.
Demagogi atau hasutan berasal dari bahasa Yunani Kuno, demos (orang) dan agein (untuk memimpin). Demagogi adalah strategi (hasutan) untuk mendapatkan kekuasaan politik dengan menarik prasangka, emosi, ketakutan dan pengharapan dari retorika publik. Virus demagogi biasanya ditebarkan melalui spirit dan propaganda, dan acap menggunakan semangat nasionalis, populis atau tema religius. Pokoknya apa yang dapat menarik hati dan empati digunakan oleh sang Demagog (orang yang melakukan hasutan).
Pengidap virus demagogi enggan melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Apalagi membangun budaya kritisisme dan obyektif untuk mencari akar permasalahan secara holistik, jauh panggang dari api. Virus demagogi akan bermutasi menjadi lebih kuat dan membahayakan jika ada media massa yang ikut terinfeksi.
Pengidap virus demagogi senantiasa bersenjata wacana ad hominem (menyerang pribadi seseorang) dan wacana antipati kelas. Dengan wacana ini, pengidap virus demagogi berupaya membangun opini publik bahwa seorang figur politisi tidak bisa lepas dari lingkungan dan kelas di mana dia berada dan dari mana dirinya berasal. Dengan kata lain, pengidap virus demagogi cenderung mudah menyeragamkan identitas paradigma seseorang atau kelompok menjadi sesuatu yang mutlak
Mengkarantina
Pendiskreditan seseorang atau kelompok pada latar belakang agama, partai, atau etnis tertentu, diupayakan oleh pengidap-pengidap virus demagogi untuk mengkarantina kelompok lain dari bentuk-bentuk simpati dan solidaritas. Dengan demikian kelompok lain tersebut akan selalu dicurigai dan diharamkan untuk berkembang atau menjadi pemenang pada Pilkada (2018), Pileg dan Pilpres pada 2019 nanti.
Pengidap virus demagogi biasanya juga piawai dalam membuat rancang bangun dan rekayasa skematisasi. Mekanisme yang disebut skematisasi adalah upaya menyederhanakan suatu gagasan pemikiran agar bisa memiliki efektivitas sosial. Pemikiran atau gagasan itu harus bisa menjadi opini yang membentuk keyakinan. Dari keyakinan tinggal satu langkah untuk sampai pada tindakan.
Sekadar mengingatkan, pada 6 Juni 2018 nanti kita akan kembali menyelenggarakan Pilkada. Apakah rakyat masih memberi tempat untuk para demagog berkuasa? Mari sama kita ingatkan rakyat untuk memilih berdasarkan hati nurani, bukan karena 30 kg beras, sekardus mie instan dan sejenisnya. Dengan demkiam, terselenggaralah fox populi fox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Semoga. ***
* Penulis Pemerhati Masalah Sosial Budaya dan Politik.
sumber;analisadaily.com
Prabowo Akan Bangun Kota-Kota Baru, Tiap Wilayah Ada 100 Ribu Rumah untuk Buruh
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto akan membuat kota-kota baru di Indonesia, dimana setiap kota akan ada 100 ribu rumah. Rencana ini untuk memenuhi kebutuhan hunian untuk buruh.Demikia
Bawa Replika Rudal, Massa Buruh Geruduk Gedung DPR
JAKARTA - Massa buruh mulai mendatangi depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, pada Hari Buruh Internasional, Jumat (1/5/2026) siang. Bahkan, di antara massa, ada yang rudal dan roket ke de
May Day Kondusif, Polres Inhu Tetap Siagakan Personel Dan Patroli Objek Vital
INHU - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) tahun ini berlangsung dalam suasana aman dan kondusif. Tidak adanya aksi yang berpotensi mengganggu ketertiba
Harga Minyak Dunia Hari Ini Anjlok Usai Cetak Rekor Tertinggi Kemarin
Penurunan ini terjadi setelah laporan menyebutkan bahwa militer Amerika Serikat (AS) akan memberikan masukan kepada Presiden Donald Trump. Harga minyak mengalami penurunan pada hari Kamis (Jumat wakt
Vivo T5 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Intip Spesifikasi dan Harganya
JAKARTA �" vivo mambawa kembali lini T Series di Indonesia dengan menghadirkan vivo T5 Series dalam dua model: T5 dan T5 Pro. Lini T Series baru ini diposisikan sebagai perangkat all-roun