Jumat, 01 Mei 2026
  • Home
  • Opini
  • Tahun Politik dan Orang-orang Licik

Opini

Tahun Politik dan Orang-orang Licik

Oleh: Hidayat Banjar
Minggu, 28 Jan 2018 11:23
analisadaily.com
Ilustrasi
Kekuasaan memang demiki­an menggoda dan banyak orang yang tidak sanggup untuk mengendalikan­nya. Alih-alih dia menjadi pengendali ke­kuasaan, sering kali seorang pe­nguasa menjadi budak kekuasaan. Ke­kuasaan sering mendo­rong sese­orang untuk melakukan tindakan-tin­dakan jahat dan kejam bukan dia lawan, malah dia turuti karena diang­gap sebagai kesempatan.

Pada masa monarki, kekuasaan raja cenderung mutlak. Kata-kata raja adalah fatwa. Raja adalah kebena­ran.Telunjuk raja adalah titah.

Perlahan zaman bergulir, dikenal­lah demokrasi yang meru­pakan ke­kuasaan rakyat. Dari, oleh dan untuk rak­yat. Tapi, apakah demokrasi di In­do­nesia sudah sebagaimana yang kita harapkan?

Demokrasi bukanlah sesuatu yang ins­tan, sebagaimana makanan instan - yang begitu diseduh air panas - lang­sung da­pat dinikmati. Demokrasi adalah perjuangan dan terkadang me­merlukan waktu sangat panjang, yang - uniknya - tiap zaman seolah memili­ki bentuknya sendiri.

Rezim Orla yang dilakoni Soekar­no malah berusaha mengawetkan ke­kuasaannya lewat pernyataan majelis yang mengaku perwakilan rakyat se­bagai "presiden seumur hidup". Orba juga tak jauh beda, meskipun Soehar­to bukan presiden seumur hidup, pun me­lakoni apa yang disebut orang pin­tar sebagai oligarki eksekutif. Selama 32 tahun kekuasaan Orba berhasil men­subordinasi lembaga-lembaga yang ada.

Perbuatan Zalim

Masuklah kita di era (orde) refor­masi. Pun menurut penulis, era refor­masi tetap juga terjadi yang seharus­nya tak terjadi. Iro­nis sekali, sudah dideklarasikan untuk menjadi calon gu­bernur tetapi diingkari. Lalu - terpaksa atau tidak, hanya Tuan itulah yang tahu - ikut mengantarkan pasa­ngan lain mendaftar sebagai calon. Padahal Tuan itulah Ketua Pimpinan Wilayah partai pengusung. Demokra­si­kah ini? Tidakkah ini perbuatan zalim? Biarlah para ahli yang menja­wab­nya.

Begitu juga dengan hadirnya sosok ca­lon yang tidak berasal dari Sumut, di media-media sosial ramai ungka­pan "kenapa sampah itu dikirim ke Su­­mut?" Masya Allah, teganya mere­ka mengatakan manusia sebagai sam­pah.

Padahal sejatinya Pilkada, Pileg mau­pun Pilpres, merupakan aktuali­sasi napas dan perjalanan demokrasi yang harus dilalui Indonesia. Rakyat secara langsung memilih figur-figur per­sonal dengan harapan besar, dapat menjadi penyambung aspi­rasi, mem­per­juangkan kepentingan-kepenti­ngan rakyat, serta mengubur dalam-dalam kepentingan diri-pribadi mau­pun golongan.

Akan tetapi, dalam Pilkada, Pileg maupun Pilpres yang sudah berlalu, masyarakat Indonesia (khususnya Sumut) di­jejali penampakan 'kurang de­wasa' dari politisi-politisi parpol. Me­reka asyik dengan permainan yang sarat upaya menonjol­kan diri (narsis) dan pembangunan kesan baik pada partai atau golongannya masing-masing. Apakah pada Tahun Politik 2018 dan 2019 nanti hal-hal yang me­nunjukkan kita tidak dewasa dalam berp­olitik, harus terulang kembali?

Spirit Antipati

Seperti virus demagogi - yang diidap orang-orang licik - dija­dikan pemicu spirit antipati kepada pihak-pihak lain, harus­kah terulang kem­bali? Sama kita ketahui, para dema­gog dalam Pilkada, Pileg dan Pilpres di tahun-tahun lalu menciptakan at­mos­fer persaingan yang tidak sehat. Me­reka berebut klaim, mendis­kre­dit­kan, hingga wacana penge­lom­po­kan kekuatan politik yang berbau SARA (Suku, Agama dan Ras, kelompok na­sionalis-agamis, pembunuhan karak­ter pribadi, dan lain-lain). Kesadaran kita (rakyat) hendaknya mampu me­was­­padai bahwa virus demagogi me­ru­pakan ancaman serius bagi de­mo­krasi Indonesia di era baru yang bernama Reformasi ini.

Demagogi atau hasutan berasal dari bahasa Yunani Kuno, demos (orang) dan agein (untuk memimpin). De­magogi adalah strategi (hasutan) un­tuk mendapatkan kekuasaan politik de­ngan menarik prasangka, emosi, ke­takutan dan pengharapan dari re­to­rika publik. Virus demagogi biasa­nya ditebarkan mela­lui spirit dan pro­pa­ganda, dan acap menggunakan se­ma­ngat nasionalis, populis atau tema re­ligius. Pokoknya apa yang dapat me­narik hati dan empati digunakan oleh sang Demagog (orang yang melakukan hasutan).

Pengidap virus demagogi enggan me­lakukan pendidikan politik kepada ma­syarakat. Apalagi membangun bu­daya kri­tisisme dan obyektif untuk men­cari akar permasalahan secara ho­lis­tik, jauh panggang dari api. Virus demagogi akan bermu­tasi menjadi lebih kuat dan membahayakan jika ada media massa yang ikut terinfeksi.

Pengidap virus demagogi senan­tiasa bersenjata wacana ad hominem (me­nyerang pribadi seseorang) dan wacana antipati kelas. Dengan waca­na ini, pengidap virus demagogi ber­upaya membangun opini publik bah­wa seorang figur politisi tidak bisa le­pas dari lingkungan dan kelas di mana dia berada dan dari mana dirinya ber­asal. Dengan kata lain, pengidap virus de­magogi cenderung mudah menye­ra­gamkan identitas para­digma se­se­orang atau kelompok menjadi sesuatu yang mutlak

Mengkarantina

Pendiskreditan seseorang atau kelompok pada latar bela­kang agama, partai, atau etnis tertentu, diupayakan oleh peng­idap-pengidap virus dema­go­gi untuk mengkarantina kelompok lain dari bentuk-bentuk simpati dan so­lidaritas. Dengan demi­kian kelom­pok lain tersebut akan selalu dicurigai dan diha­ramkan untuk berkembang atau menjadi pemenang pada Pil­kada (2018), Pileg dan Pilpres pada 2019 nanti.

Pengidap virus demagogi biasanya juga piawai dalam mem­buat rancang ba­ngun dan rekayasa skematisasi. Me­kanisme yang disebut skematisasi adalah upaya menyederhanakan suatu ga­gasan pemikiran agar bisa memiliki efektivitas sosial. Pemikiran atau ga­gasan itu harus bisa menjadi opini yang mem­bentuk keyakinan. Dari ke­yakinan tinggal satu langkah untuk sampai pada tindakan.

Sekadar mengingatkan, pada 6 Juni 2018 nanti kita akan kembali me­nye­lenggarakan Pilkada. Apakah rak­yat masih memberi tempat untuk para demagog berkuasa? Mari sama kita ingatkan rakyat untuk memilih berda­sar­kan hati nurani, bukan karena 30 kg beras, sekardus mie instan dan se­je­nisnya. Dengan demkiam, ter­se­leng­garalah fox populi fox dei (suara rak­yat adalah suara Tuhan). Semoga. ***

* Penulis Pemerhati Masalah Sosial Budaya dan Politik.

sumber;analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Jumat, 01 Mei 2026 16:21

    Prabowo Akan Bangun Kota-Kota Baru, Tiap Wilayah Ada 100 Ribu Rumah untuk Buruh

    JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto akan membuat kota-kota baru di Indonesia, dimana setiap kota akan ada 100 ribu rumah. Rencana ini untuk memenuhi kebutuhan hunian untuk buruh.Demikia

  • Jumat, 01 Mei 2026 16:18

    Bawa Replika Rudal, Massa Buruh Geruduk Gedung DPR

    JAKARTA - Massa buruh mulai mendatangi depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, pada Hari Buruh Internasional, Jumat (1/5/2026) siang. Bahkan, di antara massa, ada yang rudal dan roket ke de

  • Jumat, 01 Mei 2026 16:17

    May Day Kondusif, Polres Inhu Tetap Siagakan Personel Dan Patroli Objek Vital

    INHU - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) tahun ini berlangsung dalam suasana aman dan kondusif. Tidak adanya aksi yang berpotensi mengganggu ketertiba

  • Jumat, 01 Mei 2026 15:26

    Harga Minyak Dunia Hari Ini Anjlok Usai Cetak Rekor Tertinggi Kemarin

    Penurunan ini terjadi setelah laporan menyebutkan bahwa militer Amerika Serikat (AS) akan memberikan masukan kepada Presiden Donald Trump. Harga minyak mengalami penurunan pada hari Kamis (Jumat wakt

  • Jumat, 01 Mei 2026 10:39

    Vivo T5 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Intip Spesifikasi dan Harganya

    JAKARTA ï¿½" vivo mambawa kembali lini T Series di Indonesia dengan menghadirkan vivo T5 Series dalam dua model: T5  dan T5 Pro. Lini T Series baru ini diposisikan sebagai perangkat all-roun

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.