Liputan6.com
Menkominfo Rudiantara saat ditemui di Kampus Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta, Rabu (21/3/2018). Liputan6.com/ Agustin Setyo Wardani
Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menegaskan pemerintah tidak segan menutup platform Facebook
apabila media sosial terbesar di dunia tersebut menjadi tempat
penyebaran berita bohong, seperti yang terjadi pada etnis Rohingya.
"Saya mengambil posisi, saya mengancam menutup Facebook dan
pemerintah tidak mempunyai keraguan apabila harus menutup Facebook kalau
digunakan untuk yang hoaks," ujar Rudiantara di Gedung Kemkominfo,
Jakarta, Kamis 5 April 2018.
Setelah Facebook mengakui dijadikan alat propaganda anti-Rohingya di
Myanmar, Rudiantara mengatakan tidak ingin hal serupa terjadi di
Indonesia.
Selain itu, indikasi kebocoran satu juta data pengguna dari Indonesia
dalam kasus Cambridge Analytica juga membutuhkan sikap kooperatif dari Facebook dalam menindaklanjuti permintaan dari Kemkominfo.
Rudiantara menuturkan, pihaknya tidak akan asal mengambil tindakan
untuk menutup platform media sosial, melainkan melalui proses dan dengan
alasan yang tepat.
Meskipun ia menilai selama ini Facebook
termasuk dari tiga platform yang kurang kooperatif, yakni hanya
memenuhi 50 persen permintaan Kemkominfo menutup konten yang dinilai
tidak sesuai norma sejak dua tahun lalu.
"Ini yang ingin saya sampaikan kepada publik, bahwa inilah
keadaannya, saya secara pribadi tidak punya intensi untuk menutup
sembarang seperti itu, harus dijaga untuk kepentingan negara dan
masyarakat," tutur Rudiantara seperti dikutip Antara.
Menkominfo
menegaskan semua media sosial harus mau turut menjaga stabilitas Tanah
Air apabila ingin berbisnis di Indonesia. Apabila justru membuat tidak
stabil di Indonesia, pemerintah akan bertindak tegas.
Ada pun pengguna Facebook di Indonesia yang mengakses media sosial
itu setiap bulan lebih dari 115 juta orang, dari 2,07 miliar orang yang
mengakses Facebook setiap bulan seluruh dunia.
(Liputan6.com)
Peristiwa