Liputan6.com
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyambangi Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu, (16/5). Kedatangan Prabowo untuk membahas perkembangan politik terkini termasuk adanya serangkaian teror.
Serang - Hasil lembaga survei Charta Politica menyebutkan, elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo
Subianto unggul di Banten dibandingkan Joko Widodo. Pengurus Gerindra
menilai hal tersebut bukti nyata kerja keras para kadernya.
"Merupakan hal mutlak kalau kami berada di tengah-tengah masyarakat,
berarti masyarakat bisa menilai," ucap Ketua DPD Gerindra Banten Desmon J
Mahesa di kediamannya, usai acara bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng, di
Kota Serang, Banten, Kamis (7/6/2018).
Dia pun mengkritik kinerja DPD Gerindra di Jawa Barat yang tidak bisa mempertahankan raihan suara Prabowo pada Pilpres 2014.
"Kalau kita bicara perbandingannya, harusnya Jawa Barat dan Banten
saja, yang kalau hari ini Jokowi menang di Jabar, berarti pengurus di
Jabar harus introspeksi," kata mantan aktivis Reformasi 98 ini.
Dia pun yakin, saat Pilpres 2019, Prabowo Subianto akan kembali berjaya di Bumi Jawara.
"Intinya adalah pengurus partai di daerah ini (Banten), bisa menjaga
kekompakan nya, menjaga kepercayaan masyarakat, menjaga apa yang dinilai
masyarakat," ujar Ketua DPD Gerindra Banten ini.
Survei Charta Politika
Sebelumnya,
Charta Politika mengungkap tentang preferensi politik masyarakat di
empat provinsi di Pulau Jawa, yakni Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan
Jawa Timur, pada Pilpres 2019.
Hasilnya, mayoritas responden di Banten mantap memilih Prabowo
Subianto menjadi presiden. Charta Politika mengungkap, 28,5 persen dari
800 responden menyatakan akan memilih Prabowo. Sementara, 26,9 persen
yang memilih Joko Widodo atau Jokowi.
Di Jawa Tengah, Jokowi menang telak dengan 53,1 persen. Hanya 7,7 persen yang memilih Prabowo.
Sedangkan di Jawa Timur, Jokowi juga unggul jauh dengan 47,7 persen suara dari responden. Prabowo mendapat 24,5 persen.
Margin of error pada survei ini berkisar 2,83 persen pada tingkat
kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan sistem
wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner terstruktur.
(Liputan6.com)
Politik