Liputan6.com
Presiden Joko Widodo didampingi Ketum PPP Romahamurmuziy dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo tiba Bandara Internasional Juanda Jawa Timur, Sabtu (3/2).
Jakarta - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy mengungkapkan, Joko Widodo atau Jokowi pernah
berkeinginan untuk menggandeng Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo
Subianto sebagai calon wakil presiden. Prabowo pun menindaklanjuti hal
ini dengan menemui Jokowi.
Namun, keinginan Jokowi itu tak bisa terwujud, lantaran pemimpin partai-partai koalisi pendukung Jokowi tidak setuju.
Menurut Romi sapaan Romahurmuziy, Jokowi ingin menggandeng Prabowo menjadi cawapres untuk menjaga keutuhan NKRI.
Jokowi, kata Romi, berkaca dari pengalaman Pemilihan Gubernur DKI
Jakarta 2017 lalu, yang dipenuhi sikap intoleran dan berujung konflik.
"Demi NKRI, beliau menyampaikan, bayangkan gaduhnya republik ini. DKI
Jakarta saja yang satu provinsi luar biasa gaung perbedaannya. Kemudian
intoleransi meningkat dengan simpul-simpul agama," kata Romi saat
Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama PPP di Hotel Patrajasa, Semarang,
Jawa Tengah, Jumat 13 April 2018.
Apalagi, kata Romi, dalam ajang Pemilu 2019 yang diikuti sekitar 32
ribu calon legislatif dan mengkampanyekan Jokowi atau Prabowo, potensi
perpecahan bukan tidak mungkin akan lebih besar.
"Akan ada 320 ribu caleg yang masing-masing mengampanyekan hanya dua kutub, Jokowi atau Prabowo. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya. Dan itu tak terjadi pada Pilpres 2014 karena pileg duluan," tegasnya.
Sebelumnya,
Romi nenyebut Jokowi sempat menawarkan Prabowo sebagai cawapres Pilpres
2019 mendatang. Jokowi menanyakan perihal rencana itu kepada Romi. Saat
itu, Romi langsung mengatakan setuju.
"Saya langsung bilang setuju," tegas Romi.
Namun, semua pimpinan partai pendukung Jokowi tak ada yang setuju dengan rencana tersebut.
Prabowo sendiri merasa terhormat karena mendapatkan tawaran dari
Jokowi untuk menjadi cawapres. Menurut Romi, Prabowo merespons positif
tawaran Jokowi itu.
(Liputan6.com)
Politik