Herman Abdullah, Pemimpin Peka Yang Dicintai Rakyat, Catatan Seorang Jurnalis
Admin
Senin, 28 Feb 2022 08:42
PEKANBARU- Waktu sudah menunjukkan pukul 21.10 WIB. Saya masih berada di Jalan Tol Pekanbaru-Dumai hendak menuju Medan Sumatera Utara.
Sejumlah pesan berantai masuk melalui akun media sosial saya dan istri. ''Innalillahi Wainna Iliahi Rojiuun...Bapak Herman Abdullah mantan Wali Kota Pekanbaru meninggal dunia''.
Dengan cepat ruang media sosial warga Kota Pekanbaru maupun Riau dipenuhi dengan ungkapan duka dan belasungkawa atas berpulangnya Herman Abdullah.
Barangkali, hampir sebagian besar masyarakat Riau, khususnya warga Kota Pekanbaru masih sangat mengenal sosok Herman Abdullah.
Meski telah 10 tahun tak lagi menjabat sebagai Wali Kota Pekanbaru, namun nama Herman Abdullah tetap harum dan dikenang.
Sosok leader kebapakan di jajaran pemerintahan kelahiran 18 Juli 1950 ini namanya seolah tak pernah lekang dari memori masyarakat Riau. Padahal, dia tak pernah menjabat sebagai Gubernur Riau.
Begitu pun bagi saya, konon lagi istri saya yang memang setiap harinya dulu selalu mengabdi untuk membantu perjuangan Herman Abdullah untuk mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Riau.
Kabar duka kepergian Herman Abdullah ini seolah menggurat kembali tentang sosok lelaki pekerja keras, guru bagi para praja namun selalu dekat dengan rakyatnya itu.
Kami pun memutuskan kembali ke Pekanbaru guna melayat ke rumah duka di Jalan Thamrin Pekanbaru.
Bagi saya, Herman bukan saja sosok seorang leader di pemerintahan, dia juga seorang politisi ulung yang disegani kawan ataupun lawan.
Seorang pemimpin yang tegas dan keras saat menjalankan tugas, namun juga bisa lembut, bersahabat dan kebapakan bagi siapa pun yang mengenalnya.
Sikap-sikapnya yang demikian itu membuat dia demikian disegani bawahan. Bila Herman Abdullah telah berkata, maka itulah yang akan berlaku hingga ke bawahannya.
Namun ada kalanya juga, Herman Abdullah sungguh suka bersenda gurau dengan bawahannya, termasuk orang-orang di sekitarnya.
Herman juga bukan seorang pejabat yang gila dihormati. Karena, tak jarang, dia sendiri yang langsung menghampiri dan menyapa warganya bila bertemu.
''Eh.. apa kabar, lama tak nampak. Istri, anak, bagaimana sekarang?'' kalimat-kalimant tersebut adalah bahasa sehari-hari yang kerap diucapkan Herman saat bertemu dengan kerabat atau masyarakat yang pernah dia kenal.
Walau terlupa nama, namun Herman tak pernah melupakan wajah. Dia selalu mendahului untuk menyapa, apalagi untuk mereka yang lebih tua darinya. Herman sangatlah menghormati. Tak segan pula dia memanggil untuk sekedar memberikan rezekinya kepada orang-orang yang dia temui.
Hal tersebut jua yang tampaknya membuat siapapun yang pernah bertemu, bercengkerama, bekerja, demikian sulit untuk melupakan sosok Herman Abdullah.
Bahkan, bagi istri saya, Herman Abdullah itu ibaratkan seorang ayah ketimbang seorang pejabat.
''Bapak itu orangnya sangat perhatian pada bawahan. Walau sibuk, dia tak pernah lupa menanyakan apakah sudah makan, kalau capek istirahat saja, kalau kerja kemalaman jangan lagi pulang ke rumah, tidur di kamar di Posko. Bahkan, Herman lah yang setahu saya sangat memperhatikan hal-hal detail tentang bawahannya. Sehingga, bila menjauh, pasti akan demikian terasa perhatian Herman Abdullah. Bapak itu seperti orang tua sendiri,'' ungkap istri saya sembari menyeka air mata begitu mengenang kepergian Herman Abdullah.
Saya pun lantas kembali mengingat masa-masa saat masih bertugas di lapangan meliput aktivitas Herman Abdullah di Kantor Wali Kota Pekanbaru pada kurun 2006-2011.
Di bawah kepemimpinan Herman Abdullah, Pekanbaru berkembang pesat. Sejumlah kawasan yang awalnya masih sepi menjadi sentra pertumbuhan baru. Salah satunya yang tak mungkin saya lupa adalah berkembangnya Kecamatan TampDi zaman Herman Abdullah, Kecamatan Tampan demikian maju dan berkembang. Sentra pertumbuhan kota Pekanbaru pun berubah, tidak hanya di pusat kota, seperti Sudirman, Sukajadi, namun juga Tampan, Bukitraya, Rumbai dan beberapa kawasan lainnya.
Namun, karena saya tinggal di sekitaran kecamatan Tampan yang kini sudah dimekarkan menjadi dua kecamatan, tentu saja saya masih mengingat kalau dahulu jalan HR Soebrantas hanyalah lintasan jalan selebar 6 meter yang membentang hingga perbatasan Pekamnbaru Kampar di Garuda Sakti.
Begitupun Jalan Soekarno Hatta yang dulunya dikenal dengan nama Jalan Arengka,. yang dulunya juga hanya jalan selebar 6 meter, disulap menjadi jalan beberapa lajur dan jalur.
Begitu pun dengan Jalan SM Amin, yang dulunya sempit dan sepi, disulap menjadi jalan uouter ring road Pekanbaru dari arah Kubang menuju Palas Rumbai.
Herman demikian piawai dalam membuat penataan dan pengembangan kawasan. Koordinasi dengan pemerintah provinsi berlangsung tetap baik, walau ada riak-riak politik yang mewarnai. Sisi hubungan yang baik itu juga yang membuat banyak kemajuan Pekanbaru juga terdukung oleh kebijakan Pemprov Riau.
Karena kemajuan yang demikian kentara dari perkembangan Kota Pekanbaru di masa pemerintahan Herman Abdullah, menyebabkan banyak orang Pekanbaru tetap menghormati karya-karya pembangunan yang dilakukan Herman Abdullah.
Bagi kalangan olahraga, Herman juga bukan sosok yang asing dengan olahraga, khususnya sepak bola. PSPS adalah klub besar di Indonesia yang sempat mengenyam pasa kejayaan bertabur pemain bintang. Itu terjadi saat Herman Abdullah menjadi pembinanya.
Herman ingin menjadikan PSPS sebagai ikon Pekanbaru. Sebagai sarana promosi daerah. Dan itu berhasil mencuri perhatian publik nusantara dengan keberhasilan menggaet bintang sepak bola ternama berlabuh di Stadion Rumbai.
Lantas, apakah dengan karakternya yang bersahabat, lantas Herman Abdullah tak bisa bertindak tegas?
Ternyata tidak. Herman dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan konsisten dengan keputusannya.
Bayangkan, di masa Herman Abdullah, pengawasan pembangunan pemukiman demikian dikawal ketat. Pengembang tak bisa sembarang membangun. Harus sesuai dengan tata ruang wilayah yang sudah ditetapkan pemerintah, harus memperhatikan sumur resapan.
Di sekitaran Jalan Sudirman, khususnya arah bandara, Herman Abdullah tak memperkenankan berdirinya pusat perbelanjaan dan mal. Pertimbangannya, karena Herman sudah memprediksi, sesuai dengan petumbuhan penduduk, bila kawasan itu diizinkan untuk berdirinya mal, maka aktivitas lalu lintas akan crowded, macet total.
Begitu pun di Jalan Arifin Achmad, Herman Abdullah tak memperkenankan pembangunan gedung-gedung bertingkat yang dikhawatirkan akan mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Syarif Kasim.
Saat itu, tentu saja, wacana pemindahan bandara dan studi kelayakan pengembangan bandara baru di Provinsi Riau masih dalam angan-angan, yang bahkan hingga hari ini tak kunjung terwujud.
Yang lebih sederhana lagi, Herman adalah sosok pemimpin yang tegas. Dia tak pernah mengizinkan aktivitas berjualan bagi pedagang kaki lima yang bisa merusak ketertiban dan wajah Kota Pekanbaru. an.
Tak jarang, karena sikap tersebut Herman mendapat kritikan dari pedagang maupun legislatif. Namun, Herman konsisten dengan sikapnya untuk menata Pekanbaru yang bersih dan tertib.
Karena itulah, di zaman Herman Abdullah, Pasar Bawah yang dulunya kerap becek dan kucel sebagai destinasi wisata belanja dibangun dengan pola kerja sama dengan pihak ketiga, tak lagi becek dan lecah.
Begitu pun dengan Pasar Sukaramai yang dulunya bernama Pasar Pusat di bangun menjadi pasar modern.
Di Zaman Herman Abdullah, para pedagang kaki lima diberikan tempat berjualan di lapak-lapak pasar Kodim agar Jalan Teratai tidak kumuh. Herman Ingin Pekanbaru bersih dan rapi.
Apa yang menjadi keinginan Herman Abdullah itu terbayar dengan keberhasilan Kota Pekanbaru menjadi kota terbersih di Indonesia dan nyaris tak pernah lepas dari torehan Piala Adipura.
Siapapun Warga Pekanbaru tentunya pasti sangat mengingat sekali kalau Pekanbaru adalah kota menuju metropolitan yang bersih dan rapi. Kawasan protokolnya dipenuhi pepohonan hijau yang membuat Pekanbaru menjadi asri.
Siapapun tamu yang datang ke Pekanbaru akan terpukau melihat asrinya landmark Kota Pekanbaru seperti kawasan Sudirman dan Jalan DIponegoro.
Nah, dalam menjalankan tugas pemerintahannya, Herman Abdullah juga tidak sepenuhnya berada di jalan mulus. Banyak juga kritikan dari masyarakat dan tokoh, seperti permasalahan penataan drainase dan penanganan banjir.
Namun, bukan berarti Herman tak memperhatikan keluhan masyarakat yang sampai ke telinganya.
Herman Abdullah adalah sosok yang sangat peka dan sangat perasa. Sedikit saja keluhan warga muncul di koran, tayang di radio (karena saat itu belum tenar media online,red), Herman langsung meradang.
Saya selalu mengingat Herman punya kebiasaan yang patut untuk dicontoh oleh siapapun pemimpin di daerah ini, yakni tidak anti kritik.
Herman memang marah, kalau ada warga yang mengkritik kinerja pemerintahannya. Namun, dia tak marah kepada masyarakat, melainkan kepada para bawahannya.
Tak jarang Herman memanggil bawahannya tersebut untuk memberikan klarifikasi atas surat pembaca di koran atau apa yang dia dengar di radio.
''Awak datang kesini, jelaskan kepada teman-teman wartawan di sini, apa yang sudah dilakukan dan kenapa masih ada keluhan masyarakat,'' itulah kalimat yang paling sering diungkapkan Herman saat wartawan menanyainya tentang keluhan masyarakat.
Sikap tegas dan kerasnya itu juga yang membuat alur koordinasi pemerintahan di zaman Herman Abdullah, khususnya di Kota Pekanbaru demikian padu dan tegas searah.
Sebenarnya, ada cukup banyak kenangan tentang Herman Abdullah dalam perpektif dan pandangan mata saya selaku jurnalis, sehingga apa yang masih terekam dari sosok Herman Abdullah adalah benar-benar merupakan hal kesehariannya.
Hingga pukul 01.45 WIB dinihari ini, saya masih mencoba menulis dan mengingat kembali sosok Herman Abdullah yang kharismatik ini sembari menyaksikan bagaimana warga silih berganti mendatangi rumah kediamannya di Jalan Thamrin Pekanbaru.
Banyak yang terkejut dengan 'kepergiannya'. Namun, mereka mengikhlaskan kepergian Herman menghadap Sang Khaliq, Allahu Rabbi.
Semoga amal ibadah, keikhlasan memberikan yang terbaik untuk masyarakat, pengabdian kepada sesama akan menempatkanmu bersama-sama orang-orang terpuji lagi mulia.
Selamat Jaalan Pak Herman Abdullah, baktimu akan selalu dikenang sepanjang masa.