Ekonomi
Industri Kelapa Sawit Perlu Bentuk Koalisi Berkelanjutan
Kamis, 14 Feb 2019 11:07
JAKARTA – Sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia dinilai perlu memiliki sebuah platform multistake holder dan membentuk koalisi kelapa sawit berkelanjutan.
Platform tersebut mempertimbangkan luas pengembangan sawit keberlanjutan dengan menciptakan nilai-nilai bersama melalui berbagi praktik dan pelajaran terbaik. Koalisi dibutuhkan karena industri kelapa sawit Indonesia kerap diserang isu-isu negatif, termasuk diantaranya tata kelola lingkungan yang kurang baik dan isu deforestasi. Country Director The Nature Conservancy (TNC) Indonesia Rizal Algamar mengatakan, koalisi berkelanjutan kelapa sawit berbasis luas dapat menjadi tempat dialog konstruktif yang penting bagi masa depan minyak kelapa sawit Indonesia berkelanjutan.
"Membuat sektor minyak kelapa sawit berkelanjutan sementara mengabaikan keberlanjutan sektor-sektor ekonomi lainnya akan menjadi sia-sia. Diperlukan pendekatan holistik untuk memastikan keberlanjutan lintas sektor dan lintas wilayah geografis yang lebih luas," kata dia dalam keterangan tertulisnya kemarin. Rizal mengatakan, saat ini ada pendekatan praktis dengan pengembangan disertai desain yang disebut dengan istilah development by design (DBD). Skema ini memperhitungkan mata pencaharian berkelanjutan dan konservasi.
"Pendekatan DBD sedang diujicobakan di daerah-daerah seperti di
Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dan secara luas di Provinsi
Kalimantan Timur, melalui Green Growth Compact," sebutnya. Dia
menjelaskan, kunci dari cakupan luas yurisdiksi (lanskap) DBD adalah
penyeimbangan pilihan terkait dengan mata pencaharian ekonomi dan
kepentingan konservasi. Adapun perimbangan dilakukan melalui tiga
langkah pendekatan mitigasi hierarki dan sekuensial dengan menghindari
dampak, meminimalkan dampak, serta mengimbangi dampak apabila ada dampak
negatif yang tidak dapat di hindari.
"Program DBD saat ini diujicobakan di Berau dan Kalimantan Timur, dapat ditingkatkan ke tingkat nasional. Setelah diterapkan pada skala nasional, lintasan berkelanjutan baru yang memperhitungkan ekonomi dan ekologi dapat dimulai," ujar Rizal yang juga Ketua Pengurus Yayasan Konservasi Alam Nusantara ini. Dia menambahkan, Pemerintah Indonesia telah menjadikan kebijakan sektor minyak kelapa sawit sebagai persoalan kepentingan nasional.
Sebagai contoh, pada awal 2018, Kedutaan Besar Indonesia di Brussels mengeluarkan pernyataan yang memprotes kebijakan Parlemen Uni Eropa yang dipandang tidak adil dan proteksionis terhadap minyak kelapa sawit.
(Yanto Kusdiantono)
Sumber: okezone.com
Ekbis
Pengungkapan di Belilas, Satresnarkoba Sita 7 Paket Sabu dan Ringkus Satu Pelaku
INHU - Seorang pria yang diduga sebagai pengedar narkotika jenis sabu berhasil diringkus jajaran Satuan Reserse Narkoba Polres Indragiri Hulu dalam penggerebekan di wilayah Belilas, Kecamatan Seberida
Pee Wee Gaskins Resmi Gabung Wecord Evermore Indonesia, Fans Tak Sabar Album Baru!
JAKARTA - Kabar menggembirakan datang dari skena musik Tanah Air. Band legendaris, Pee Wee Gaskins, resmi bergabung dengan Wecord Evermore Indonesia. Bergabungnya PWG menandai babak baru dalam pe
Madonna Tiba-Tiba Muncul di Panggung Sabrina Carpenter, Bikin Heboh Coachella 2026
JAKARTA - Penampilan Sabrina Carpenter di Coachella 2026 semakin meriah karena adanya kejutan dari Madonna. Pasalnya, ratu pop dunia itu tiba-tiba muncul di panggung saat Sabrina Carpenter sedang
Lisa BLACKPINK Tuai Reaksi Beragam usai Tampil di Coachella 2026, Kurang Persiapan?
JAKARTA - Penampilan Lisa BLACKPINK di panggung Coachella 2026 kembali menjadi sorotan. Kali ini ia tampil mengusung konsep “Bad Angel” yang memicu perdebatan di kalangan netizen.Aksi panggun
Mitos atau Fakta, Pasien Diabetes Tak Boleh Konsumsi Gula
JAKARTA - Diabetes masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Jumlah penyandang diabetes pada 2024 mencapai 20,4 juta orang dan menempatkan Indonesia di posisi