Kamis, 30 Apr 2026
  • Home
  • Ekbis
  • Darmin: Lebih Mahal Bawa Barang ke Papua dari Pada China

Darmin: Lebih Mahal Bawa Barang ke Papua dari Pada China

Minggu, 20 Sep 2015 20:54
JAKARTA - Mahalnya biaya logistik di Indonesia diyakini akibat tidak adanya perencanaan yang baik. Pasalnya, biaya logistik ke dalam negeri lebih mahal dibandingkan ke luar negeri.

Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, masyarakat Indonesia selalu mengeluh mahalnya biaya logistik. Untuk itu, perlu adanya peraturan pemerintah mengenai pusat logistik berikat demi mengurangi biaya tersebut.

"Mau bawa barang dari ini ke Papua, itu lebih mahal daripada ke China. Karena sebetulnya kita tidak pernah merancang dengan baik standar kita bekerja," kata Darmin di kantornya, Jakarta, Jumat (18/9/2015).

Menurutnya, banyak aturan-aturan yang tidak jelas di Indonesia. Hal inilah yang menjadi alasan Singapura mampu kaya lebih dahulu dibandigkan Indonesia.

"Ini yang saya cerita kenapa kok kita yang hasilkan hasil bumi banyak, tapi yang kaya Singapura. Padahal tadinya ekspornya sama, karet juga padahal bukan penghasil karet," katanya.

Dia menjelaskan, sudah sejak lama industri dalam negeri tidak didorong ke sektor pengolahan dan penciptaan produk yang sesuai dengan standar internasional. Produk mentah cenderung diekspor ke Singapura untuk diolah kembali, dan kemudian diekspor Singapura ke negara lain.

"Tapi bedanya kita ekspor standarnya enggak jelas, dia mungkin sudah beda, standarnya di sana dia mungkin ada campuran apa, surat untuk katakan kadar dari segala macam. Harganya lain," tambah dia.

Melihat kesuksesan Singapura, Darmin mengatakan salah satunya terletak pada pusat logistik berikat atau yang dikenal dengan nama gudang berikat. Berbagai fasilitas dan kelonggaran aturan diberikan agar pihak swasta membangun di negaranya.

Dengan adanya pusat logistik berikat, Darmin mengatakan, biaya logistik dalam negeri mampu diturunkan menjadi lebih rendah. Sebab, saat ini banyak pihak selalu mengeluh mahalnya logistik dalam negeri dibanding luar negeri.

(okezone)
Ekbis
Berita Terkait
  • Jumat, 17 Apr 2026 09:18

    Menuju Pasar Ekspor: Kisah Sukses Kolaborasi Pucuk Rebung - PHR Berdayakan UMKM Riau

    PEKANBARU-Transformasi besar tengah berlangsung pada geliat ekonomi lokal Provinsi Riau. Pelaku UMKM yang sebelumnya bergerak sendiri-sendiri tanpa kepastian arah kini berhasil naik kelas melalui wada

  • Rabu, 08 Apr 2026 17:49

    PHR Dorong Pengembangan Migas Non-Konvensional Sebagai Game Changer Ketahanan Energi Nasional

    Jakarta- Sebagai langkah strategis, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mendorong pengembangan Migas Non-Konvensional (MNK) guna menjaga keberlanjutan produksi. Berpotensi menjadi game changer memperkuat po

  • Rabu, 18 Mar 2026 16:28

    Bulog Kantor Cabang Rengat Salurkan Bantuan Pangan Alokasi Februari-Maret 2026, Ini Jenis Bantuannya

    RENGAT - Pemerintah resmi melaksanakan launching penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng untuk alokasi bulan Februari dan Maret 2026 di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Rabu, (18/3/20

  • Rabu, 18 Mar 2026 15:28

    Malaysia Batalkan Perjanjian Dagang dengan AS

    JAKARTA - Malaysia membatalkan perjanjian dagang timbal balik alias Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat (AS). Dengan demikian tarif impor Malaysia ke AS 19% tidak berlaku lagi u

  • Rabu, 18 Mar 2026 15:25

    Bansos Pangan Cair ke 33,2 Juta Penerima, Dapat 20 kg Beras dan 4 Liter Minyak Goreng

    JAKARTA - Bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng mulai disalurkan ke seluruh wilayah Indonesia untuk alokasi Februari dan Maret 2026. Bantuan diberikan kepada lebih dari 33,2 juta penerima manf

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.