Indonesia Berpotensi Raup Rp900 Triliun dari Freeport
Jumat, 20 Nov 2015 11:54
Meski demikian, diperpanjang atau tidak jadi diperpanjangnya kontrak, lantas tak semata-mata lantas membuat negara kaya terhadap melimpahnya sumber daya alam di Bumi Cenderawasih, Papua tersebut.
Direktur Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara mengatakan, akan kaya atau miskinnya negara, ditentukan dari seberapa besarnya nilai cadangan yang terbukti masih ada di bumi Timika tersebut.
Dia mengandaikan, bila cadangan emas, tembaga maupun perak yang terbukti senilai USD100 miliar atau Rp1.400 triliun, maka pemerintah bisa saja akan mendapatkan sekitar Rp800 triliun-Rp900 triliun setelah dipangkas biaya produksi yang sekiranya mencapai 30 persen.
"Itu tergantung berapa nilainya cadangan terbukti di sana, paling sekitar USD100 miliar misalnya. Tapi itu masih pendapatan kotor. Mungkin biaya produksi, anggap 30 persen. Artinya, potensi keuntungan sekitar Rp800 triliun-Rp900 triliun," ucapnya kepada Okezone, Jakarta, Jumat (20/11/2015).
Marwan melanjutkan, nilai tersebut tak semata-mata akan berlangsung hanya untuk kurun waktu singkat, akan tetapi nilai tersebut akan berlangsung untuk dalam jangka waktu yang panjang hingga sekitar 20-30 tahun.
Bila perhitungan menurutnya tersebut tepat, maka nilai tersebut dianggap cukup besar untuk suatu cadangan pertambangan.
"Seberapa kayanya, sebetulnya nilai kotor dari potensi pendapatan cadangan tadi menjadi aset. Saya kira diakumulasikan bisa mendapatkan kita Rp500 triliunan untuk sekian lama misalnya 20-30 tahun. Untuk tambang ya Rp300 triliunan besar. Saya enggak bisa sebutkan spesifik, karena seberapa bagus kontrak yang akan diterbitkan," jelas dia.
Sementara itu, dia mengemukakan, peningkatan potensi pendapatan negara bisa didapatkan dari faktor-faktor lain. Misalnya, bila PT Freeport Indonesia jadi melakukan IPO dan pemerintah Indonesia menjadi pemegang mayoritas saham. Ataupun, bisa saja pemerintah melakukan negosiasi guna meningkatkan royalti.
"Jadi, faktor-faktor itu masih belum bisa menjadi dasar hitung potensi pendapatan. Dalam negosiasi, kita harus maksimalkan apa yang kita peroleh. Kita harus ajukan syarat supaya persyaratan baru bisa dapatkan manfaat lebih banyak," pungkasnya.
Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional
JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone
Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta
JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad
Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur
JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat
Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait
JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran
Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang
JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal