Rabu, 29 Apr 2026
  • Home
  • Ekbis
  • OPEC Yakin Harga Minyak Rebound Tahun Depan

OPEC Yakin Harga Minyak Rebound Tahun Depan

Kamis, 17 Des 2015 08:45
Reuters
Ilustrasi
JAKARTA - Harga minyak mentah dunia sempat berada pada posisi terendah dalam tujuh tahun. Namun, hal ini diyakini tidak akan berlanjut dan dapat menguat dalam waktu satu tahun.

Sekretaris Jenderal negara pengekspor minyak (OPEC) Abdullah al-Badri mengatakan siklus harga minyak rendah dapat membuat beberapa produsen melakukan pemotongan produksi. Seperti diketahui, harga minyak saat ini menyentuh angka di atas USD36 per barel.

Sebagian besar analis justru tidak dapat memprediksi kembalinya harga minyak ke USD100 hingga 2017 dengan alasan produsen akan terus memompa minyak lebih banyak.

"Saya menekuni bisnis minyak sepanjang hidupku dan melihat enam siklus. Saya melihat harga yang sangat tinggi, saya melihat harga rendah, dan ini adalah salah satu dari mereka ini tidak akan berlanjut," kata Badri seperti dikutip CNBC, Kamis (17/12/2015).

"Dalam beberapa bulan atau satu tahun atau lebih ini akan berubah," katanya.

Dia mengatakan, OPEC tidak memiliki target harga tapi sedang mencari nilai wajar. Hal ini berarti negara anggota dapat memiliki penghasilan yang layak dan juga dapat berinvestasi untuk memberikan lebih pasokan ke konsumen.

Padahal, dunia sudah memproduksi minyak hingga dua juta barel per hari dengan OPEC yang terus memompa produksi minyaknya agar produsen lainnya seperti Amerika Serikat (AS) dapat keluar dari pasar.

Sementara itu, menurut Badan Energi Internasional (IEA), pertumbuhan pasokan minyak dari negara non-OPEC menyusut ke bawah 300 ribu barel per hari pada November dari 2,2 juta barel per hari pada awal tahun ini.

Produksi minyak dapat menurun dalam dua sampai tiga tahun akibat harga rendah telah membuat pemotongan rencana investasi USD130 miliar. Badri menambahkan, pasokan minyak non-OPEC ditetapkan menurun sekira 400 ribu barel per hari tahun depan.

Badri mengaku, OPEC bertekad untuk terus memompa minyak meskipun terjadi ketegangan keuangan. Dia mengatakan, bahkan jika pemerintah Amerika Serikat mulai melakukan ekspor lebih dari minyak mentah, harga tidak akan melemah lebih lanjut dan OPEC dapat terus menghasilkan produksinya seperti saat ini.

(okezone.com)
Ekbis
Berita Terkait
  • Selasa, 28 Apr 2026 22:18

    Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional

    JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:15

    Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta

    JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:12

    Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur

    JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:10

    Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait

    JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:08

    Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang

    JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.