Utang RI Naik Lagi ke Rp3.074,82 T
Selasa, 22 Des 2015 09:55
Seperti dilansir dari situs resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Senin (22/12/2015), 75,7 persen pinjaman berasal dari Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp2.329,15 triliun.
SBN tersebut, terdiri atas SBN dengan denominasi valas sebesar Rp611 triliun. Sementara untuk SBN dengan denominasi Rupiah sebesar Rp1.718,15 triliun.
Selain itu, peningkatan utang juga terjadi untuk pinjaman luar negeri menjadi Rp741,76 triliun. Adapun pinjaman luar negeri bulan sebelumnya, adalah Rp725,64 triliun.
Pinjaman dalam negeri juga tercatat meningkat tipis menjadi Rp3,91 triliun setelah sebelumnya berada pada angka Rp3,86 triliun. Pinjaman ini menduduki 0,1 persen porsi dari posisi utang pemerintah.
Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional
JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone
Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta
JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad
Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur
JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat
Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait
JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran
Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang
JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal