- Home
- Internasional
- 160 Orang Tewas dalam Kerusuhan Kazakhstan
160 Orang Tewas dalam Kerusuhan Kazakhstan
Admin
Senin, 10 Jan 2022 10:48
Lebih dari 160 orang tewas dan 5.000 lainnya ditangkap di Kazakhstan setelah kerusuhan mengguncang negara terbesar di Asia Tengah itu pekan lalu.
Kementerian Dalam Negeri, dikutip media lokal pada Minggu, mengatakan perkiraan awal kerusakan properti sekitar USD 198 miliar setelah kekerasan mematikan tersebut.
Kementerian Dalam Negeri juga menyampaikan, lebih dari 100 perusahaan dan bank diserang dan dijarah dan sekitar 400 kendaraan dirusak.
Total korban tewas sebanyak 164 orang, termasuk dua anak-anak, menurut Sputnik News mengutip Kementerian Dalam Negeri pada Minggu.
Disebutkan 103 orang tewas di kota utama Kazakhstan, Almaty, di mana kekerasan terburuk berlangsung.
"Hari ini situasinya terkendali di semua wilayah negara," kata Menteri Dalam Negeri, Erlan Turgumbayev, dikutip dari Al Jazeera, Senin (10/1).
Turgumbayev menambahkan: "Operasi penanggulangan teroris berlanjut untuk menciptakan kembali ketertiban."
Wartawan Al Jazeera, Robin Forestier-Walker yang melaporkan dari ibu kota Georgia, Tbilisi, mengatakan korban tewas diperkirakan bertambah.
"Kami sedang menunggu penghitungan jumlah jasad akan meningkat berdasarkan skala pertempuran, kekerasan, dan penembakan - tembakan senapan mesin berat dan ledakan yang berlangsung selama berjam-jam pada 5 dan 6 Januari," lapornya.
Forestier-Walker juga menambahkan, apa yang disebut operasi anti-terorisme masih berlanjut di seluruh negeri, sebagai upaya pemerintah mengambil alih kendali situasi.
Di Almaty, tampak telah mulai berangsur tenang, di mana polisi terkadang menembak ke udara untuk menghentikan massa mendekati alun-alun.
Sampai saat ini, 5.135 orang telah ditangkap untuk diperiksa sebagai bagian 125 penyelidikan terpisah terkait kerusuhan, menurut Kementerian Dalam Negeri.
Negara kaya sumber energi berpenduduk 19 juta jiwa itu diguncang kekerasan setelah Presiden Kassym-Jomart Tokayev mengeluarkan perintah penembakan untuk mengakhiri kerusuhan yang dia sebut dilakukan "para bandit dan teroris".
Demonstrasi dipicu kenaikan harga BBM sepekan yang lalu di wilayah provinsi bagian barat tapi kemudian massa meluas ke kota-kota besar.
Atas undangan Presiden Tokayev, CSTO (Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif) yang dipimpin Rusia mengirimkan pasukan untuk mengembalikan ketertiban, intervensi yang dilakukan di saat meningkatnya ketegangan Rusia-Amerika Serikat menjelang perundingan bar terkait krisis Ukraina.