Minggu, 03 Mei 2026
  • Home
  • Internasional
  • AS: Suriah dan Rusia Berusaha Hilangkan Bukti Serangan Senjata Kimia

Internasional

AS: Suriah dan Rusia Berusaha Hilangkan Bukti Serangan Senjata Kimia

Jumat, 20 Apr 2018 13:52
Liputan6.com
Kondisi bangunan Pusat Penelitian Ilmiah Suriah yang hancur parah usai diserang oleh AS dan sekutunya di Barzeh, Damaskus (14/4). AS dan sekutunya, yakni Inggris dan Perancis menyerang Suriah melalui serangan udara pada Sabtu malam. (AP/Hassan Ammar)

Washington, DC - Amerika Serikat mengklaim memiliki informasi yang dapat dipercaya bahwa Rusia dan Suriah tengah berusaha "membersihkan" lokasi dugaan terjadinya serangan senjata kimia. Hal tersebut disampaikan oleh pihak Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, Heather Nauert mengatakan, tim inspektur dari Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) belum diberikan akses ke lokasi dugaan terjadinya serangan senjata kimia di Douma. Serangan dikabarkan terjadi pada 7 April 2018.

"Kami memiliki informasi kredibel yang menunjukkan bahwa para pejabat Rusia bekerja sama dengan rezim Suriah untuk menolak dan menunda tim inspektur mendapatkan akses ke Douma," ungkap Nauert seperti dikutup dari News.com.au pada Jumat, (20/4/2018).

"Para pejabat Rusia telah bekerja sama dengan rezim Suriah, kami yakini, untuk membersihkan lokasi dugaan serangan dan menghilangkan barang bukti yang memberatkan terkait penggunaan senjata kimia," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nauert juga menegaskan kembali sikap Amerika Serikat yang meyakini bahwa Suriah bertanggung jawab atas serangan senjata kimia di Douma. Menurutnya, Washington memiliki informasi yang dapat dipercaya yang menyebutkan bahwa "orang-orang di lokasi telah ditekan oleh Rusia dan Suriah untuk mengubah pengakuan mereka".

Nauert menyatakan kekhawatiran pihaknya bahwa barang bukti akan semakin "memburuk" seiring dengan penundaan pemberian akses terhadap tim investigasi. "Itu sangat memprihatinkan kami.

Negara-negara Barat mengklaim sejumlah orang tewas dalam dugaan serangan senjata kimia tersebut. Namun, segala tudingan Barat dibantah Suriah dan Rusia.

Adapun Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis telah melancarkan serangan balasan untuk merespons dugaan serangan senjata kimia tersebut. Washington dan sekutunya meluncurkan lebih dari 100 rudal ke Suriah pada Sabtu, 14 April 2018.

 (Liputan6.com)

Internasional
Berita Terkait
  • Senin, 08 Sep 2025 16:24

    Rusia Kembangkan Vaksin Kanker Baru, Pengujian Awal Diklaim 100% Sukses

    Rusia telah meluncurkan EnteroMix, sebuah vaksin perawatan kanker baru yang dilaporkan menunjukkan efikasi 100 persen dalam uji klinis awal. EnteroMix dikembangkan dengan teknologi yang mirip dengan v

  • Senin, 08 Sep 2025 16:09

    Transformasi Wanita AS usai Operasi Peninggi Badan, dari 117 Cm Jadi 151 Cm

    Chandler Crews (31) di Maryland, Amerika Serikat menceritakan pengalamannya menjalani operasi peninggi badan yang kontroversial. Crews lahir dengan kondisi genetik langka anchondroplasia, yang membuat

  • Senin, 08 Sep 2025 13:37

    Badai Dahsyat Tapah Dekati Hong Kong Picu Penutupan Bisnis dan Sekolah

    Hong Kong menutup sekolah dan banyak bisnis pada Senin (8/9/2025) karena Badai Tropis Tapah yang membawa angin kencang dan hujan lebat, mendekati wilayah tersebut dalam jarak 170 km. Badai itu memenga

  • Senin, 08 Sep 2025 10:40

    Jepang Gelar Upacara Perayaan Usia Dewasa Pangeran Hisahito

    Jepang menyelenggarakan upacara perayaan usia dewasa bagi Pangeran Hisahito, anggota keluarga kekaisaran pria pertama yang resmi mencapai usia dewasa dalam 40 tahun terakhir.Pangeran Hisahito, yang me

  • Senin, 08 Sep 2025 09:32

    Trump Keluarkan ‘Peringatan Terakhir’ untuk Hamas Soal Kesepakatan Sandera

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas terhadap Hamas, mendesak kelompok militan Palestina itu agar menerima kesepakatan pembebasan sandera dari Gaza.“Israel telah mener

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.