Liputan6.com
Melbourne - Banyak di antara kita yang masih ingat saat diperingatkan untuk menonton televisi terlalu dekat saat masih kecil.
Menurut dokter mata asal Australia, Helen Summers, orangtua zaman now pun seharusnya memperingatkan anak-anak mereka agar tidak menonton video online dari layar kecil, seperti layar ponsel, terlalu dekat.
Dokter Summers memperingatkan menonton terlalu dekat di layar kecil
dalam waktu lama bisa menyebabkan gangguan pengelihatan bagi generasi
mendatang, demikian dikutip dari laman AustralianPlus Indonesia, Rabu (14/2/2018).
"Kita menghadapi tsunami miopi atau rabun jauh," ujarnya kepada ABC Radio Darwin.
"Di Australia ada 4 juta orang yang tidak bisa melihat jauh, di tahun 2050 jumlahnya akan mencapai 22 juta," tambahnya.
Sejumlah peneliti sebelumnya menemukan meningkatnya rabun jauh bukan disebabkan oleh penggunaan video online di ponsel, melainkan karena masalah terkait kurangnya aktivitas di luar ruangan.
Tapi dokter Summers mengatakan, dampak dari jumlah waktu melihat video online layar telah meluas dan jarak pandang ke layar menjadi faktornya.
Sama dengan kurangnya waktu di luar ruangan, penyebab lainnya adalah
postur yang tidak baik saat menonton dan kurangnya pergerakan mata
karena kita menatap layar hingga berjam-jam.
"Kita ingin manfaatkan teknologi untuk belajar, jadi ada iPad,
barang-barang eletronik dan komputer di sekolah kita, di kantor, dan
saat kembali ke rumah ini menjadi berlebihan. Inilah yang jadi masalah,"
jelas Dr Summers.
"Saat kita menggunakan jejaring sosial, bersandar di sofa, menonton Netflik di iPad, ini yang menyebabkan jadi berlebihan."
Dr Summers, yang sudah membuka klinik mata di kota Darwin sejak tahun
1998, mengatakan dampak dari menatap layar ini sudah terlihat di ruang
kelas sekolah.
"Kita juga melihat peningkatan besar dari pengelihatan yang stress,
sensitif terhadap cahaya, dan bagi anak-anak kita, ada perubahan yang
berdampak pada perkembangan membaca dan kemampuan belajar."
Anak-anak paling berisiko
Layar memiliki peranan penting dalam kehidupan kita sehari-hari, tapi
Dr Summers menjelaskan cara kita menggunakannya memiliki peran yang
signifikan pada dampaknya.
"Kebanyakan tempat kerja diatur secara ergonomik," katanya.
"Saat kita duduk, ada banyak layar di depan kita, tapi kita mengalihkan pandangan, kita tidak menatapnya."
Di rumah, hal ini bisa jadi berbeda, terutama bagi anak-anak.
"Saya tahu ini adalah alat untuk menenangkan anak... tapi kita harus
menggunakannya berhati-hati, tidak untuk waktu yang lama," ujarnya.
"Mereka menatapnya dan tidak menggunakan kemampuan untuk fokusnya dengan benar."
"Jadi saat mereka mulai sekolah, jika mereka banyak menatap dengan
jarak dekat, akan berdampak pada mengontrol gerakan mata kiri ke kanan."
Di
Australia, 'twenty-twenty' adalah istilah yang sering digunakan oleh
para dokter mata untuk menjelaskan pengelihatan yang sempurna. Tapi Dr
Summers mulai menggunakan istilah ini untuk mengatur bagaimana cara kita
mengkonsumsi media lewat layar.
"Jika kita menggunakan iPad selama 20 menit, pastikan duduk tegak dan istirahat juga selama 20 menit.
"Jika kita menggunakan telepon, buatlah menjadi 10/10, jadi kalau
menggunakan layar telepon 10 menit, matikan juga selama 10 menit."
"Jadi lebih banyak beristirahat dan membuatnya tidak telalu sering.
"Pilihan yang lebih baik lagi, menurutnya, adalah mengalihkan
pandangan ke televisi dengan jarak tiga meter lebih jauh agar mencegah
menatap jarak dekat terlalu lama."
Jika tak mungkin, kita juga bisa memegang layar lebih jauh, tidak terlalu dekat dari jarak lengan ke mata, ujar Dr Summers.
"Atau jika kita meluruskan lengan, setengah antara siku dan panjang tangan, jangan lebih dekat dari itu."
Beristirahat dengan menghabiskan waktu di luar rumah adalah pilihan yang sudah teruji karena alasannya.
"Kita harus memiliki mata dengan pandangan yang mencapai seluruh penjuru, tidak dibatasi seukuran layar ponsel atau iPad."
(Liputan6.com)
Internasional