- Home
- Internasional
- Gedung Putih Mulai Habis Kesabaran Hadapi Presiden Venezuela
Internasional
Gedung Putih Mulai Habis Kesabaran Hadapi Presiden Venezuela
Rabu, 06 Feb 2019 10:34
WASHINGTON - Gedung Putih mulai kehabisan kesabaran dengan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Amerika beberapa minggu lalu telah mengakui pemimpin kelompok oposisi Juan Guaido sebagai pemimpin sah negara itu dan mendesak Maduro untuk mengundurkan diri.
Pemerintah Trump memberlakukan sanksi-sanksi terhadap BUMN minyak PDVSA dan bahkan mengisyaratkan sedang mempertimbangkan opsi militer untuk menyelesaikan apa yang digambarkan sebagai bencana kemanusiaan akibat gagalnya kebijakan sosialis pemerintah Venezuela selama dua puluh tahun terakhir.
Rusia telah mengutuk sanksi-sanksi Amerika itu dan menuduh Washington "telah secara terbuka membuka jalan terjadinya perubahan rezim secara ilegal."
Dugaan salah kelola dan merajalelanya korupsi yang dilakukan pemerintah sosialis Hugo Chavez dan kemudian dilanjutkan oleh Nicolas Maduro telah menjerumuskan Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, ke dalam kemiskinan dan kekacauan ekonomi.
Pakar politik di Atlantic Council, Jason Marczak, mengatakan, "Menyelesaikan krisis kemanusiaan merupakan hal fundamental bagi seluruh belahan bumi ini. Nicolas Maduro merupakan pusat masalah itu, misalnya saja terkait perdagangan ilegal di seluruh dunia: perdagangan narkoba ilegal, perdagangan emas ilegal, perdagangan senjata ilegal dan penyelundupan manusia."
Badan PBB urusan pengungsi UNHCR mengatakan tiga juta warga Venezuela telah melarikan diri dari krisis di tanah air mereka dan kini tinggal di luar negeri. Banyak yang meninggalkan negara itu sejak tahun 2015. Eksodus ini dipicu oleh aksi kekerasan, hiper-inflasi yang mencapai 80.000 persen pada tahun 2018, dan kekurangan makanan serta obat-obatan.
Beberapa tahun terakhir ini Rusia telah mendukung Venezuela sebagai pemberi pinjaman "terakhir" yang menopang perekonomian negara yang hampir hancur itu. Rusia menyebut sanksi-sanksi Amerika terhadap Venezuela sebagai tindakan ilegal dan mengingatkan untuk tidak mengambil aksi militer apapun.
"Mengapa Rusia begitu peduli? Rusia peduli karena mereka menjual senjata api ke Nicolas Maduro dan karena investasi luar biasa Rosneft, perusahaan minyak raksasa Rusia," ujar Jason.
Reuters melaporkan pada tahun 2016 Maduro menandatangani perjanjian yang memberikan 49,9% saham anak perusahaan subsidi Venezuela yang berkantor di Amerika "Citgo" kepada BUMN minyak Rusia "Rosneft" sebagai jaminan atas pinjaman 1,5 miliar dolar uang tunai yang sangat dibutuhkan Venezuela.
Antara tahun 2006 – 2017 Rusia telah mendorong kemajuan Venezuela
dengan memberikan pinjaman dan bantuan kredit sedikitnya 17 miliar
dolar, menjadikannya sebagai sponsor terbesar di Venezuela, setelah
China. Sebagian analis mengatakan sanksi-sanksi Amerika itu akan memutus
urat nadi keuangan pemerintah Venezuela. Tetapi mereka juga
mengingatkan bahwa langkah-langkah itu akan menimbulkan penderitaan
lebih besar bagi rakyat Venezuela.
Sumber: okezone.com
Lebih Cepat dari Target, Tim Penyelaras PWI Pusat Tuntaskan AD/ART
Jakarta - Tim Penyelaras Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Kode Etik Jurnalistik (KEJ), dan Kode Perilaku Wartawan (KPW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat berhasil menuntaskan
Mengenal Kanker Prostat yang Dialami Benjamin Netanyahu
JAKARTA - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengabarkan telah menjalani pengobaran kanker prostat yang dideritanya. Dikabarkan Netanyahu telah melakukan rangkaian pera
Penurunan Kualitas Otak di Usia Produktif Kini Jadi Sorotan, Bukan Sekadar Penyakit!
JAKARTA â€" Di tengah optimisme bonus demografi, Indonesia menghadapi ancaman yang jarang disadari: penurunan kapasitas berpikir pada usia produktif. Fenomena ini dikenal sebagai silent cogn
Harga Pangan Hari Ini Naik, Minyak Goreng Tembus Rp23.709 per Liter
JAKARTA - Harga pangan nasional terpantau mengalami pergerakan pada awal pekan ini, Senin (27/4/2026). Sejumlah komoditas utama mengalami kenaikan, namun tidak sedikit juga yang mengala
Purbaya Targetkan IHSG Tembus 28.000, Airlangga: Kita Kejar Pertumbuhan 20%
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyambut positif proyeksi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menargetkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menem