Senin, 27 Apr 2026
  • Home
  • Kesehatan
  • Penurunan Kualitas Otak di Usia Produktif Kini Jadi Sorotan, Bukan Sekadar Penyakit!

Sehat

Penurunan Kualitas Otak di Usia Produktif Kini Jadi Sorotan, Bukan Sekadar Penyakit!

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Senin, 27 Apr 2026 17:59
Okezone.com

JAKARTA â€" Di tengah optimisme bonus demografi, Indonesia menghadapi ancaman yang jarang disadari: penurunan kapasitas berpikir pada usia produktif. Fenomena ini dikenal sebagai silent cognitive crisis, yaitu penurunan fungsi kognitif yang terjadi perlahan dan tidak selalu terdiagnosis sebagai penyakit.

Isu ini mengemuka dalam Rapat Kerja Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI), ketika Koeshartanto Koeswiranto, Presiden Komisaris Indonesia Cahaya Cendekiawan (ICC), mengajak para neurolog untuk melihat peran mereka secara lebih strategis.

Menurut Koeshartanto, yang terjadi saat ini bukan sekadar meningkatnya penyakit saraf, tetapi penurunan kualitas fungsi berpikir yang berlangsung diam-diam.

“Yang kita hadapi bukan hanya penyakit yang terlihat, tetapi penurunan kapasitas berpikir yang terjadi secara diam-diam,” ujarnya.

Tekanan hidup modern, beban kerja tinggi, serta disrupsi digital dinilai mempercepat penurunan fokus, perhatian, dan kualitas pengambilan keputusan.

Indonesia tengah menikmati peningkatan jumlah usia produktif. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis menjamin kualitas SDM.

Justru di sinilah muncul paradoks: jumlah penduduk meningkat, tetapi kapasitas berpikir belum tentu ikut bertumbuh. Jika tidak dikelola dengan tepat, bonus demografi berpotensi berubah menjadi beban demografi.

Otak dan Daya Saing Bangsa

Koeshartanto menekankan bahwa kesehatan otak kini harus dilihat sebagai isu strategis. Dalam perspektif neuroeconomics, fungsi otak menentukan kualitas keputusan manusia, yang berdampak langsung pada produktivitas dan kinerja ekonomi.

“Brain health is not only a clinical issue. It is a measurable economic and national capacity issue,” tegasnya.

Perspektif tersebut mendapatkan penguatan kuat dalam pemaparan Dr. dr. Dodik Tugasworo Pramukarso, Sp.N, Subsp.NIIOO(K), M.H., yang mengangkat tema besar “The Future of PERDOSNI” dengan pendekatan yang tajam, sistemik, dan berorientasi jangka panjang.

Dalam paparannya, Dr. Dodik menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang tidak hanya memahami kompleksitas tantangan neurologi saat ini (mulai dari ketimpangan distribusi tenaga, perubahan epidemiologi menuju penyakit degeneratif, hingga meningkatnya gangguan kesehatan mental), tetapi juga mampu merumuskan arah strategis organisasi ke depan secara terstruktur dan visioner.

Ia menempatkan kesehatan otak sebagai salah satu fondasi utama dalam menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia, terutama dalam momentum bonus demografi yang tengah berlangsung.

Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana PERDOSNI tidak hanya bergerak dalam ranah klinis, tetapi juga semakin mengambil posisi sebagai aktor strategis dalam pembangunan kualitas manusia Indonesia.

Dalam kerangka tersebut, Dr. Dodik memaparkan roadmap PERDOSNI menuju 2045 yang menggambarkan kesiapan organisasi dalam menjawab tantangan masa depan.

Arah pengembangan yang disampaikan mencerminkan upaya berkelanjutan dalam memperkuat layanan neurologi yang merata, meningkatkan kualitas pendidikan dan riset, serta mendorong pemanfaatan teknologi dalam pelayanan kesehatan.

Paparan tersebut sekaligus menunjukkan kesiapan PERDOSNI untuk terus memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak dalam mengawal kesehatan otak sebagai bagian penting dari pembangunan manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam konteks inilah, berbagai inisiatif kolaboratif, termasuk yang diinisiasi melalui Gerakan Sehat Otak Indonesia (GESOI), diharapkan dapat menjadi ruang sinergi antara tenaga medis, akademisi, pemerintah, dan masyarakat.

Pendekatan yang dibangun menekankan bahwa perubahan tidak terjadi secara parsial, melainkan bergerak dari individu ke sistem yang lebih luas. Kolaborasi dan penguatan peran strategis ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa bonus demografi benar-benar dapat dioptimalkan.

Indonesia mungkin tidak kekurangan tenaga kerja. Namun, tanpa kapasitas berpikir yang optimal, daya saing akan sulit tercapai. Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh jumlah manusianya, tetapi oleh kualitas cara berpikirnya.


Sumber: https://women.okezone.com/read/2026/04/27/482/3214950/penurunan-kualitas-otak-di-usia-produktif-kini-jadi-sorotan-bukan-sekadar-penyakit?page=4

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.