- Home
- Internasional
- Mengapa Wilayah Timur Ukraina Lebih Pro-Rusia?
dunia
Mengapa Wilayah Timur Ukraina Lebih Pro-Rusia?
Admin
Jumat, 22 Apr 2022 16:52
Tujuh minggu setelah Wali Kota Kreminna yang pro Kremlin ditemukan tewas dengan luka tembak, pasukan Rusia merebut kota Ukraina itu pada Selasa sebagai bagian serangan baru di wilayah timur Ukraina.
Volodymyr Struk, sopir truk yang beralih menjadi pemilik pabrik bir, dulunya seorang anggota parlemen dari Partai Daerah, pasukan pro Rusia terbesar Ukraina, dari 2012 sampai 2014, di wilayah Luhansk di tenggara.
Setelah kelompok separatis mengubah sebagian wilayah itu menjadi "Republik Rakyat" yang didukung Moskow, Struk pindah ke sana dari Kreminna, kota yang dikuasai Ukraina berpenduduk 18.000 jiwa di dekat Luhansk.
Jaksa Ukraina mendakwa Struk dengan separatisme, tapi dia kembali ke Kreminna - dan terpilih sebagai wali kota pada November tahun lalu dengan hampir 52 persen suara.
Walaupun menghadapi dua perintah penangkapan, pria 57 tahun itu dengan bangganya memakai simbol Moskow yang dilarang - pita hitam dan jingga.
Hari-hari sebelum kematiannya, Struk mengatakan penjajah Rusia disambut di Kreminna. Lalu sekelompok pria tak dikenal yang menyamar menculik Struk dari rumahnya, dan pada 1 Maret, jasadnya ditemukan.
"Seluruh aparat negara Ukraina - SBU (badan intelijen), Kementerian Dalam Negeri, jaksa, pengadilan - tidak bisa melakukan apapun dengan Struk yang seorang separatis terbuka selama delapan tahun karena dia punya banyak uang. Kemungkinan besar dukungan dari Federasi Rusia," jelas Anton Heraschenko, ajudan menteri dalam negeri, di Telegram pada 2 Maret, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (21/4).
Heraschenko mengatakan, Struk "dieksekusi patriot tak dikenal sebagai seorang pengkhiat", disertai foto jasad Struk di unggahannya itu.
Siapa orang Ukraina yang pro Rusia di wilayah timur?
Antara 2014, ketika pemberontakan separatis pro Rusia mulai dan 24 Februari 2022, ketika Rusia meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina, lebih dari 13.000 orang terbunuh dalam konflik antara dua negara itu.
Jutaan orang mengungsi, dan wilayah Donetsk dan Luhanks yang dikuasai pemberontak, menjadi proto-negara totaliter, di mana ratusan orang dipenjara dan disiksa karena pro Ukraina.
Menurut pengamat, ada mentalitas dominan di rustbelt, wilayah tambang batu bara, pabrik baja, dan pabrik kimia berbahasa Rusia, "jenis paternalisme khusus yang muncul dari inti industri kawasan itu," kata analis yang berbasis di Kyiv, Aleksey Kushch kepada Al Jazeera.
Penduduknya terbiasa dengan manfaat era Soviet seperti perawatan kesehatan dan pendidikan gratis, dan sekarang merasa ditinggalkan oleh pemerintah pusat yang kekurangan uang.
Dia mengatakan partai-partai Ukraina "tengah" tidak mampu memenuhi kebutuhan penduduk dan kekuatan "oligarkis" seperti Partai Daerah dan keturunan politiknya mengisi ceruk.
"Pemilih kami pro-Rusia," kata Sergey Vaganov, pensiunan fotografer berusia 63 tahun dari Mariupol kepada Al Jazeera.
"Tidak ada partai besar Ukraina yang mencoba bekerja di sini, jujur saja. Tidak ada yang berjuang untuk para pemilih."
Mariupol, kota paling selatan di Donetsk, pernah diduduki separatis sebentar pada 2014 dan menjadi ibu kota administratif de-facto Donetsk ketika Ukraina mengambil alih kembali wilayah itu, tapi gagal memenangkan hati masyarakat.
Nostalgia era komunis
Mengingat sikap apatis yang meluas, jumlah pemilih umumnya rendah di seluruh Ukraina, dan warga Ukraina kelahiran Soviet yang berusia lanjut termasuk di antara pemilih yang paling rajin; suara mereka mendorong Struk memenangkan kursi wali kota.
Nostalgia masa muda era Komunis mereka, mereka menonton siaran televisi Rusia dan perbatasan Rusia hanya beberapa jam jauhnya dari hampir semua tempat di Donbas