Kamis, 23 Apr 2026

Internasional

Nestapa di Kota Terpanas Dunia, Suhu Capai 51 Derajat Celcius

admin
Selasa, 17 Mei 2022 18:03
AFP
Seorang warga di Jacobabad, Pakistan memompa air dari sebuah sumur di tengah gelombang panas yang me

Ketika Said Ali, seorang bocah di Pakistan tiba di rumah sakit di salah satu kota terpanas di dunia, tubuhnya tak bisa bergerak karena sengatan panas.

Bocah 12 tahun itu pingsan saat berjalan kaki saat pulang sekolah. Sebelumnya dia belajar di kelas tanpa kipas angin.

"Sopir bajaj membawa anak saya ke sini. Dia bahkan tidak bisa jalan," kata ibu Said Ali, Shaheela Jamali kepada AFP.

Said Ali berasal dari Jacobabad, Provinsi Sindh, Pakistan. Daerah itu dilanda gelombang panas dengan suhu terpanas mencapai 51 derajat Celcius pada akhir pekan kemarin.

Kanal-kanal di kota itu mengering. Padahal kanal menjadi sumber irigasi penting bagi petani di wilayah tersebut. Para ahli menyebut gelombang panas ini berkaitan dengan perubahan iklim.

Sebagian besar dari 1 juta populasi Jacobabad dan desa-desa di sekelilingnya hidup dalam kemiskinan akut. Warga juga mengalami kekurangan air dan pemadaman listrik sehingga tidak bisa melawan suhu panas. Penduduk berada dalam dilema yang besar.

Dokter mengatakan kondisi Said Ali kritis, tapi ibunya bersikeras anaknya harus kembali sekolah pekan depan. Shaheela Jamali berkeinginan kuat menyekolahkan anaknya agar keluarganya bisa keluar dari kemiskinan.

"Kami tidak ingin mereka besarnya menjadi buruh," ujarnya, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (17/5).

Sengatan panas atau heatstroke dapat menyebabkan beberapa gejala mulai dari pusing dan mual sampai pembengkakan otak, pingsan, dan bahkan kematian.

Pasien yang terkena sengatan panas yang kondisinya parah juga meningkat, menurut Bashir Ahmed, seorang perawat yang merawat Said Ali.

Ahmed mengatakan biasanya puncak musim panas terjadi pada Juni dan Juli, tapi sekarang maju ke Mei.

Warga Jacobabad sibuk mengatasi ganasnya sengatan matahari.

'Mafia air'

Listrik hanya menyala enam jam sehari di daerah-daerah pinggir kota dan 12 jam di pusat kota.

Di seluruh Pakistan, akses air bersih juga sulit dan mahal karena langka dan masalah infrastruktur.

Keran-keran air yang dipasang pemerintah juga mengering. Tapi "mafia air" lokal mengisi kekosongan pasokan air bersih.

Mereka memanfaatkan cadangan pemerintah untuk menyalurkan air ke titik distribusi mereka sendiri di mana kaleng diisi dan diangkut dengan gerobak keledai untuk dijual dengan harga 20 rupee per 20 liter (sekitar lima galon).

"Jika pabrik air kami tidak ada di sini, akan ada kesulitan besar bagi masyarakat Jacobabad," kata Zafar Ullah Lashari, salah satu orang yang mengoperasikan pasokan air tak berizin ini.

Banyak warga yang memilih meninggalkan Jacobabad saat musim panas mencapai puncaknya. Banyak desa di wilayah itu yang hampir kosong.

Mereka biasanya pindah ke Quetta, yang berjarak tiga jam, di mana suhunya lebih dingin sampai 20 derajat Celcius.

Profesor Nausheen H Anwar, yang meneliti perencanaan kota di kota-kota yang panas, mengatakan pemerintah perlu berpikir jangka panjang.

"Menanggapi gelombang panas dengan serius itu penting, tetapi paparan panas kronis yang berkelanjutan sangat penting," katanya.

Dia melanjutkan, kondisi semakin diperburuk oleh degradasi infrastruktur dan akses air dan listrik, khususnya di wilayah-wilayah seperti Jacobabad.

Sumber: merdeka.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.