Kamis, 23 Apr 2026
  • Home
  • Internasional
  • PBB Kecam Serangan Pasukan Koalisi Saudi di Yaman dan Desak Penyelidikan Segera

PBB Kecam Serangan Pasukan Koalisi Saudi di Yaman dan Desak Penyelidikan Segera

Admin
Senin, 24 Jan 2022 13:54
merdeka.com

Sekjen PBB mengecam serangan udara pasukan koalisi yang dipimpin Saudi di kota Saada, Yaman, dan menyerukan penyelidikan serangan yang menewaskan 70 orang tersebut.

"Sekretaris Jenderal menyerukan penyelidikan segera, efektif, dan transparan atas insiden-insiden ini untuk memastikan pertanggungjawaban," jelas juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, dikutip dari Al Jazeera, Senin (24/1).

Penjara untuk menahan para migran di kota Saada dibom pada Jumat. Juru bicara Palang Merah Yaman, Basheer Omar mengatakan tim SAR terus melakukan pencarian korban selamat. Dia mengatakan lebih dari 100 orang tewas dan terluka, menurut data Palang Merah.

Pemberontak Huthi dan organisasi bantuan pada Sabtu mengklaim jumlah kematian bertambah menjadi 82.

Namun Al Jazeera belum bisa memverifikasi data kematian tersebut.

Organisasi Doctors Without Borders (MSF) menyebut jumlah korban luka sekitar 200. Kepala perwakilan MSF di Yaman, Ahmed Mahat mengatakan, mereka memiliki laporan "banyak jasad masih di TKP serangan udara, banyak orang hilang".

Serangan pasukan koalisi Saudi lainnya berlangsung pada Jumat di kota pelabuhan Hodeidah - yang kemudian dikonfirmasi foto-foto satelit yang dianalisis kantor berita AP - menghantam sebuah pusat telekomunikasi yang menjadi kunci koneksi jaringan internet Yaman. Pada Sabtu pagi, jaringan internet masih terputus.

Menteri Kesehatan Huthi Yaman, Taha al-Motawakel meminta bantuan medis dari komunitas internasional. Dia menuduh koalisi Saudi sengaja menargetkan warga sipil.

"Kami menganggap ini sebuah kejahatan perang kemanusiaan. Dunia harus bertanggung jawab pada momen kritis dalam sejarah manusia ini," jelasnya.

Saluran berita satelit Huthi, Al Masirah TV mengatakan serangan di gedung telekomunikasi itu menewaskan dan melukai sejumlah orang yang belum diketahui jumlahnya. Saluran itu merilis video kekacauan di mana orang-orang berusaha menggali reruntuhan untuk menemukan jasad korban sementara para pekerja organisasi bantuan membantu para penyintas yang penuh darah.

Save the Children mengatakan sedikitnya tiga anak-anak tewas dalam serangan Hodeidah.

Serangan udara juga menghantam ibu kota Yaman, Sanaa, yang dikuasai Huthi sejak akhir 2014. Pada Kamis, sedikitnya 14 orang tewas dalam serangan Saudi di Sanaa.

Serangan udara ini dilakukan setelah Huthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone dan rudal di ibu kota Uni Emirat Arab pekan lalu - eskalasi besar dalam konflik Yaman di mana koalisi yang dipimpin Saudi, dengan UEA sebagai salah satu anggotanya, telah melancarkan serangan udara sejak 2015.

Mantan utusan khusus PBB di Yaman, Jamal Benomar menyampaikan serangan udara terbaru di Yaman adalah serangkaian kejahatan perang yang dilakukan koalisi pimpinan Saudi.

"Tidak ada pertanggungjawaban atau apapun itu sejak awal perang ini. Ini kegagalan tidak hanya Amerika Serikat, tapi anggota permanen Dewan Keamanan (PBB)," jelasnya.

Pasukan koalisi Saudi membantah melakukan serangan di Saada. Juru bicara koalisi, Brigjen Turki al-Maliki menuding Huthi tidak melaporkan tempat yang harus dilindungi dari serangan udara ke PBB atau Komite Internasional Palang Merah.

Koalisi Saudi mengakui melakukan serangan udara di sekitar pelabuhan Hodeidah "untuk menghancurkan kemampuan milisi". Namun pihak koalisi Saudi belum mengonfirmasi soal serangan yang menargetkan gedung telekomunikasi, tapi menyebut Hodeidah adalah hub pembajakan dan penyelundupan senjata Iran ke Huthi.

Iran telah membantah mempersenjati Huthi, walaupun pakar PBB, pengamat independen, dan negara-negara Barat menyodorkan bukti yang menunjukkan kaitan Teheran dengan senjata Huthi.

Sumber: merdeka.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.