- Home
- Internasional
- Peru Catat Kematian Pertama karena Flurona, Kombinasi Flu dan Covid-19
Peru Catat Kematian Pertama karena Flurona, Kombinasi Flu dan Covid-19
Admin
Jumat, 07 Jan 2022 15:11
Kementerian Kesehatan Peru hari ini melaporkan kasus kematian pertama karena "flurona", kombinasi infeksi akibat flu dan Covid-19 terhadap pasien berusia 87 tahun yang belum divaksin karena komorbid.
Korban adalah salah satu dari tiga pasien kasus flurona yang dideteksi di wilayah Amazon, kata Dr Cesar Munayco, peneliti di Kementerian Pusat Nasional Epidemiologi, Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, seperti dilansir laman the Straits Times, Jumat (6/1).
Dua kasus lainnya adalah seorang anak kecil dan pasien 40 tahun yang sudah divaksin penuh Covid019, kata Dr Munayco.
Mereka yang tertular penyakit ini memperlihatkan gejala batuk, sakit tenggorokan, dan badan lesu. Dr Munayco menyerukan warga segera divaksin Covid-19 karena itu bisa mengurangi risiko sakit parah.
"Penting untuk divaksin karena kami saat ini sedang mengalami wabah H3N2 influenza di kawasan hutan, seperti di San Martin, Amazonas, dan Ucayali," kata dia.
Peru mengumumkan gelombang ketiga Covid-19 pada Selasa lalu akibat varian Omicron yang mulai masuk ke negara itu pada Desember. Hingga kini sudah ada 309 kasus Omicron di Peru.
Flurona, penyakit yang terjadi akibat dua infeksi yaitu Covid dan influenza membuat publik khawatir akan gejala yang ditimbulkan.
Istilah flurona menjadi perhatian setelah seorang perempuan hamil berusia 30 tahun dites positif kedua penyakit itu pada 30 Desember di Israel.
Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), baik Covid-19 dan influenza adalah penyakit di saluran pernapasan yang bisa menimbulkan gejala batuk, sakit tenggorokan, hidung tersumbat, demam, dan pening.
Kedua jenis penyakit itu juga bisa menyebar lewat percikan air liur dan uap napas saat seseorang batuk, bersin, atau berbicara.
Perempuan yang tertular dua penyakit itu memperlihatkan gejala ringan, dan dia diberi obat kombinasi untuk Covid-19 dan flu. Dia kemudian dibolehkan pulang pada 30 Desember, menurut perawat di Rumah Sakit Beilinson di Kota Petah Tikva, Israel.