Kamis, 23 Apr 2026
  • Home
  • Internasional
  • Rusia Kirimkan Pasukan Terjun Payung untuk Padamkan Kerusuhan di Kazakhstan

Rusia Kirimkan Pasukan Terjun Payung untuk Padamkan Kerusuhan di Kazakhstan

Admin
Jumat, 07 Jan 2022 11:16
merdeka.com

 Rusia mengirimkan pasukan terjun payung untuk memadamkan kerusuhan di Kazakhstan yang sudah berlangsung selama sepekan terakhir dan kian parah. Kazakhstan, negara bekas sekutu Soviet itu memang yang paling dekat dengan Moskow.

Polisi di Almaty mengatakan mereka telah menewaskan puluhan perusuh semalaman hingga Kamis dini hari. Pihak berwenang mengatakan sedikitnya 18 anggota pasukan keamanan tewas, dua di antaranya ditemukan dalam kondisi terpenggal. Lebih dari 2.000 orang ditangkap.

Setelah terjadi bentrok semalaman antara pengunjuk rasa dan tentara, kediaman presiden di Almaty dan kantor wali kota keduanya dibakar, dan mobil-mobil yang hangus berserakan di kota itu, kata wartawan Reuters, seperti dilansir Antara, Jumat (7/1).

Personel militer menguasai kembali bandara utama yang sebelumnya direbut oleh pengunjuk rasa. Pada Kamis malam terjadi pertempuran baru di alun-alun utama Almaty, yang diduduki secara bergantian oleh pasukan dan ratusan pengunjuk rasa sepanjang hari.

Wartawan Reuters mendengar ledakan dan tembakan ketika kendaraan militer dan sejumlah tentara bergerak maju, meskipun penembakan berhenti lagi setelah malam tiba.

Kantor berita TASS mengutip para saksi yang mengatakan orang-orang tewas dan terluka dalam penembakan itu.

Pengerahan pasukan Rusia menjadi pertaruhan Kremlin bahwa kekuatan militer yang cepat dapat mengamankan kepentingan Rusia di negara Asia Tengah yang memproduksi minyak dan uranium itu, dengan segera menghentikan kekerasan terburuk dalam 30 tahun kemerdekaan Kazakhstan itu.

Internet diputus di seluruh negeri dan mengganggu transaksi bitcoin di salah satu pertambangan kripto terbesar di dunia itu. Terputusnya internet membuat sulit publik untuk menakar besarnya kerusuhan.

Kerusuhan sebesar ini belum pernah terjadi sebelumnya di negara yang diperintah dengan keras sejak era Soviet oleh pemimpin Nursultan Nazarbayev, yang mengundurkan diri sebagai presiden tiga tahun lalu.

Penerus Nazarbayev yang diangkat, Presiden Kassym-Jomart Tokayev, mengatakan dia memanggil aliansi militer yang dipimpin Moskow dari negara-negara bekas Soviet.

Dia menyalahkan terjadinya kerusuhan itu pada teroris terlatih asing yang katanya telah menyita sejumlah bangunan dan senjata.

"Ini adalah serangan pada warga kami yang meminta saya ... untuk menolong mereka segera," katanya.

Moskow mengatakan akan berkonsultasi dengan Kazakhstan dan sekutunya tentang langkah-langkah mendukung "operasi kontra-teroris" di Kazakhstan dan mengulangi pernyataan Tokayev bahwa pemberontakan itu didalangi asing.

Baik Kazakhstan maupun Rusia tidak memberikan bukti untuk mendukung pernyataan itu.

Moskow tidak mengungkapkan berapa banyak pasukan yang dikirim, dan tidak mungkin untuk memastikan apakah ada di antara mereka yang terlibat dalam kerusuhan Kamis.

Sekretaris jenderal aliansi bekas Soviet --Organisasi Perjanjian Keamanan Bersama-- mengatakan kepada kantor berita RIA bahwa pasukan penjaga perdamaian secara keseluruhan akan berjumlah sekitar 2.500 orang dan dapat diperkuat jika perlu.

Pasukan itu diharapkan menjalani misi singkat "beberapa hari atau pekan", katanya seperti dikutip RIA.

"Para penjarah masuk"

Pemberontakan itu, yang dimulai sebagai protes terhadap kenaikan harga bahan bakar di awal Tahun Baru, membesar pada Rabu, ketika pengunjuk rasa yang meneriakkan slogan-slogan menentang Nazarbayev menyerbu dan membakar gedung-gedung publik di Almaty dan kota-kota lain.

Tokayev awalnya menanggapi protes itu dengan membubarkan kabinetnya, membatalkan kenaikan harga bahan bakar dan mengambil jarak dari pendahulunya, termasuk mengambil alih Dewan Keamanan yang diketuai Nazarbayev.

Namun, langkah-langkah itu gagal meredakan massa yang menuduh keluarga Nazarbayev dan sekutunya mengumpulkan kekayaan besar sementara negara berpenduduk 19 juta itu tetap miskin.

Nazarbayev lengser dari kursi kepresidenan pada 2019 sebagai pemimpin Partai Komunis era Soviet terakhir yang masih memerintah negara bekas Soviet. Tapi dia dan keluarganya tetap mempertahankan kekuasaan dan aparat politik di Nur-Sultan, ibu kota yang dibangun khusus dengan menyandang namanya. Dia belum terlihat atau terdengar sejak kerusuhan ini dimulai. 

Sumber: merdeka.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.