Minggu, 03 Mei 2026
  • Home
  • Internasional
  • Ungkit Pembunuhan Rohingya, Jenderal Myanmar: Tentara Tidak Kebal Hukum!

Internasional

Ungkit Pembunuhan Rohingya, Jenderal Myanmar: Tentara Tidak Kebal Hukum!

Jumat, 20 Apr 2018 09:59
okezone.com
Jenderal Myanmar Min Aung Hlaing

YANGON – Jenderal Militer Myanmar, Min Aung Hlaing, mengimbau anak buahnya untuk taat kepada hukum. Pria berkacamata itu menyinggung kasus pembunuhan terhadap 10 orang etnis Rohingya yang dilakukan tujuh anggota tentara Myanmar yang kemudian dijatuhi hukuman penjara.

Dalam pidato di akademi militer, Min Aung Hlaing meminta para tentara untuk mematuhi kode etik militer serta konvensi dan hukum internasional. Ia menyebut tidak ada satu pun orang di Myanmar yang kebal hukum dan segala tindakan akan membawa konsekuensi.

"Tidak ada yang kebal hukum. Tindakan akan dilakukan jika seseorang melanggar hukum. Masalah di Desa Inn Din diselesaikan sesuai dengan Konvensi Jenewa dan langkah hukum sudah diambil kepada prajurit dan yang berpangkat lebih tinggi jika tidak patuh terhadap hukum," ujar Min Aung Hlaing, mengutip dari Reuters, Jumat (20/4/2018). 

Sebagaimana diberitakan, tujuh anggota militer Myanmar dijatuhi hukuman penjara dan kerja paksa atas selama 10 tahun atas pembunuhan terhadap 10 orang etnis Rohingya di Inn Din. Jasad 10 orang etnis Rohingya itu ditemukan di sebuah pemakaman massal pada September 2017.

Media Myanmar, Global Light melaporkan, empat perwira dan tiga pria dari pangkat lainnya dinyatakan bersalah telah terlibat dalam pembunuhan 10 teroris. Ketujuh orang itu dipecat dari militer dan divonis 10 tahun kerja paksa atas kasus pembunuhan tersebut.

Sebagaimana diberitakan, lebih dari 670 ribu orang etnis Rohingya mengungsi dari Rakhine State pada Agustus 2017. Hal itu dilakukan guna menghindari agresi yang dilakukan Tatmadaw, sebutan militer Myanmar, yang kerap disertai kekerasan.

Militer Myanmar berdalih agresi dilakukan untuk memberantas habis teroris ARSA yang bersembunyi di rumah-rumah warga di Rakhine State. Sebab, kelompok militan tersebut beberapa hari sebelumnya menyerang pos-pos perbatasan hingga menyebabkan korban di pihak militer.

Akan tetapi, dunia internasional mengecam apa yang dilakukan Myanmar. PBB dan Amerika Serikat (AS) mengatakan kekerasan di Rakhine State tersebut dapat dikategorikan sebagai genosida dan pembersihan etnis.

(okezone.com)

Internasional
Berita Terkait
  • Senin, 08 Sep 2025 16:24

    Rusia Kembangkan Vaksin Kanker Baru, Pengujian Awal Diklaim 100% Sukses

    Rusia telah meluncurkan EnteroMix, sebuah vaksin perawatan kanker baru yang dilaporkan menunjukkan efikasi 100 persen dalam uji klinis awal. EnteroMix dikembangkan dengan teknologi yang mirip dengan v

  • Senin, 08 Sep 2025 16:09

    Transformasi Wanita AS usai Operasi Peninggi Badan, dari 117 Cm Jadi 151 Cm

    Chandler Crews (31) di Maryland, Amerika Serikat menceritakan pengalamannya menjalani operasi peninggi badan yang kontroversial. Crews lahir dengan kondisi genetik langka anchondroplasia, yang membuat

  • Senin, 08 Sep 2025 13:37

    Badai Dahsyat Tapah Dekati Hong Kong Picu Penutupan Bisnis dan Sekolah

    Hong Kong menutup sekolah dan banyak bisnis pada Senin (8/9/2025) karena Badai Tropis Tapah yang membawa angin kencang dan hujan lebat, mendekati wilayah tersebut dalam jarak 170 km. Badai itu memenga

  • Senin, 08 Sep 2025 10:40

    Jepang Gelar Upacara Perayaan Usia Dewasa Pangeran Hisahito

    Jepang menyelenggarakan upacara perayaan usia dewasa bagi Pangeran Hisahito, anggota keluarga kekaisaran pria pertama yang resmi mencapai usia dewasa dalam 40 tahun terakhir.Pangeran Hisahito, yang me

  • Senin, 08 Sep 2025 09:32

    Trump Keluarkan ‘Peringatan Terakhir’ untuk Hamas Soal Kesepakatan Sandera

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas terhadap Hamas, mendesak kelompok militan Palestina itu agar menerima kesepakatan pembebasan sandera dari Gaza.“Israel telah mener

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.