Senin, 04 Mei 2026

Internasional

Usai Bebaskan Paris, Jenderal Prancis Charles de Gaulle Ditembak

Jumat, 26 Agu 2016 11:27
Famous People
Charles de Gaulle.

PARIS pernah diduduki Jerman semasa Perang Dunia II. Pertempuran pun tak terhindarkan, hal itu terjadi pada 19 Agustus 1944 sampai garisun Nazi menyerah. Penjajahan itu tidak berlangsung lama, karena setelah Amerika Serikat turun tangan pada 25 Agustus 1944, Paris pun diserahkan kembali kepada Prancis.

Tanggal 25 Agustus selanjutnya diperingati sebagai hari pembebasan Paris. Seluruh rakyat bersorak sorai merayakan resminya kota tersebut menjadi Ibu Kota Prancis. Namun sehari setelahnya, mereka dirundung kabar duka.

Tepat 72 tahun yang lalu, sehari setelah Pembebasan Paris, Jenderal Prancis Charles de Gaulle memasuki kota tersebut. Petinggi militer yang satu ini terkenal mahir menyusun taktik, terutama dalam hal mengerahkan kendaraan lapis baja (tank) dan pesawat tempur di medan perang.

Dia juga Pemimpin Gerakan Perancis Merdeka, menjabat pada periode 18 Juni 1940 sampai 3 Juli 1944. Dia berkali-kali terluka dalam pertempuran di Verdun pada Perang Dunia I. Sedikitnya lima kali dia kabur dari kamp tahanan politik perang Jerman hanya untuk tertangkap lagi. Selama PD II, dia bahkan dikenang sebagai kepala pemerintahan pelarian.

Sosoknya yang tinggi menjulang yakni 193,04 sentimeter membuat kehadirannya sangat kentara. Sulit untuknya berlindung dari kejaran musuh. Itulah yang terjadi ketika Paris akhirnya bebas, keesokan harinya dia melangkah ke kota yang diperjuangkannya tetapi berakhir dibidik penembak jitu.

Dilansir History, Jumat (26/8/2016), Gaulle diberondong tembakan saat masuk ke Place de l'Hotel. Pendukungnya, pasukan Gerakan Perancis Merdeka sontak menamengi dia. Beberapa penembak jitu berhasil dilumpuhkan. Nyawa Gaulle terselamatkan.

"Ada banyak momen yang memang bisa terjadi di luar setiap kehidupan kita yang fana ini. Paris diamuk! Paris dipatahkan! Paris dianiaya! Tetapi akhirnya Paris Dibebaskan!" serunya kala itu.

Setelah perang berakhir, De Gaulle membuktikan diri mampu menjadi pemimpin yang kiprahnya diakui dan dihormati bangsa-bangsa lain. Presiden Amerika Serikat Jenderal Dwight Eisenhower bahkan menolak mengakui pemimpin lain untuk Prancis selain de Gaulle.

Alhasil jenderal kelahiran Lille 22 November 1890 itu diangkat jadi Perdana Menteri Prancis pada 1 Juni 1958 sampai 8 Januari 1959. Lalu menjadi kepala pemerintahan sementara sampai dua kali masa jabatan.

Kematiannya terbilang mendadak pada 9 November 1970. Ia tutup usia pada 79 tahun karena pembuluh darah pada otaknya pecah. Meski sudah tiada, jasa-jasanya tetap dikenang. Sebagai bentuk penghormatan, namanya diabadikan menjadi nama Bandara Internasional di Paris. (Okezone.com)

Internasional
Berita Terkait
  • Senin, 08 Sep 2025 16:24

    Rusia Kembangkan Vaksin Kanker Baru, Pengujian Awal Diklaim 100% Sukses

    Rusia telah meluncurkan EnteroMix, sebuah vaksin perawatan kanker baru yang dilaporkan menunjukkan efikasi 100 persen dalam uji klinis awal. EnteroMix dikembangkan dengan teknologi yang mirip dengan v

  • Senin, 08 Sep 2025 16:09

    Transformasi Wanita AS usai Operasi Peninggi Badan, dari 117 Cm Jadi 151 Cm

    Chandler Crews (31) di Maryland, Amerika Serikat menceritakan pengalamannya menjalani operasi peninggi badan yang kontroversial. Crews lahir dengan kondisi genetik langka anchondroplasia, yang membuat

  • Senin, 08 Sep 2025 13:37

    Badai Dahsyat Tapah Dekati Hong Kong Picu Penutupan Bisnis dan Sekolah

    Hong Kong menutup sekolah dan banyak bisnis pada Senin (8/9/2025) karena Badai Tropis Tapah yang membawa angin kencang dan hujan lebat, mendekati wilayah tersebut dalam jarak 170 km. Badai itu memenga

  • Senin, 08 Sep 2025 10:40

    Jepang Gelar Upacara Perayaan Usia Dewasa Pangeran Hisahito

    Jepang menyelenggarakan upacara perayaan usia dewasa bagi Pangeran Hisahito, anggota keluarga kekaisaran pria pertama yang resmi mencapai usia dewasa dalam 40 tahun terakhir.Pangeran Hisahito, yang me

  • Senin, 08 Sep 2025 09:32

    Trump Keluarkan ‘Peringatan Terakhir’ untuk Hamas Soal Kesepakatan Sandera

    Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas terhadap Hamas, mendesak kelompok militan Palestina itu agar menerima kesepakatan pembebasan sandera dari Gaza.“Israel telah mener

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.