life
Tiba-Tiba Panik Lupa Matiin Kompor hingga Kunci Pintu saat Pergi? Ini Penjelasan Medisnya dari Dokter
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Minggu, 21 Jun 2026 12:55
JAKARTA â€" Pernah merasa panik di tengah perjalanan karena tiba-tiba ragu apakah kompor sudah dimatikan atau pintu rumah sudah dikunci? Meski sering dikaitkan dengan gejala pikun, kondisi ini ternyata lebih sering disebabkan oleh otak yang kelelahan akibat beban pikiran dan multitasking yang berlebihan.
Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, menjelaskan bahwa fenomena tersebut umum dialami, terutama oleh orang dewasa yang memiliki banyak tanggung jawab dan aktivitas sehari-hari.
Menurut dr. Aditya, memasuki usia 30-an, otak biasanya harus memproses banyak hal sekaligus, mulai dari pekerjaan, target hidup, kondisi keuangan, keluarga, hingga berbagai notifikasi yang datang tanpa henti. Akibatnya, otak sering bekerja dalam mode autopilot.
“Jadi di usia 30-an, otak biasanya mulai dipenuhi banyak hal sekaligus. Pekerjaan, target hidup, keuangan, keluarga, hubungan, anak, notifikasi non-stop, dan multitasking setiap hari. Jadi bawaannya capek. Akhirnya apa? Otak ini sering bekerja dalam mode autopilot,” kata dr. Aditya.
Ia mencontohkan, seseorang bisa saja mematikan kompor sambil memikirkan rapat, mencabut setrika sambil membalas pesan, atau mengunci pintu sambil terburu-buru. Karena perhatian terpecah, otak gagal merekam aktivitas tersebut dengan baik sehingga muncul keraguan setelahnya.
“Contohnya, kamu mematikan kompor sambil memikirkan meeting, mencabut setrika sambil membalas chat, atau mengunci pintu sambil buru-buru. Akhirnya jadi blank dan lupa,” ujarnya.
Penjelasan Secara Ilmiah
Secara ilmiah, kondisi ini berkaitan dengan proses pembentukan memori jangka pendek. Dalam ilmu neuroscience, perhatian (attention) memiliki peran penting dalam membantu otak menyimpan informasi.
“Dalam ilmu neuroscience, perhatian atau attention sangat penting untuk membentuk memori jangka pendek. Kalau fokus kita terpecah, hipokampus, yaitu bagian otak yang membantu menyimpan memori, tidak merekam aktivitas dengan baik,” jelasnya.
Tak hanya itu, rasa cemas yang muncul setelah melakukan suatu aktivitas juga dapat memperburuk kondisi. Semakin seseorang khawatir telah melupakan sesuatu, semakin besar kemungkinan otaknya meragukan ingatan yang sebenarnya sudah benar.
“Menariknya, semakin kita cemas atau takut lupa, otak justru makin sering meragukan memorinya sendiri. Kalau masih terjadi sesekali, biasanya kondisi ini masih normal,” tutur dr. Aditya.
Namun, jika kejadian tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi itu bisa berkaitan dengan gangguan psikologis tertentu, seperti gangguan kecemasan (anxiety disorder), burnout kronis, gangguan tidur, hingga obsessive-compulsive disorder (OCD).
Menurut dr. Aditya, kurang tidur, stres berkepanjangan, depresi, kelelahan mental, hingga terlalu banyak menghabiskan waktu di depan layar (screen time) juga dapat memperparah gejala tersebut.
“Selain itu, kejadian yang tadi disebutkan bisa diperparah oleh kurang tidur, stres kronis, depresi, kelelahan mental, atau terlalu banyak screen time. Pikiran yang terlalu penuh akhirnya memperburuk kondisi tersebut,” pungkasnya.