Senin, 22 Jun 2026
  • Home
  • Lingkungan
  • Majelis Gajah di Pekanbaru Serukan Perlindungan Gajah sebagai Harga Diri Pulau Sumatera

Lingkungan,

Majelis Gajah di Pekanbaru Serukan Perlindungan Gajah sebagai Harga Diri Pulau Sumatera

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Jumat, 15 Agu 2025 08:43
cakaplah.com
Dalam rangka memperingati Global Elephant Day 2025 (Hari Gajah Sedunia), Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) bersama Nonblok Ekosistem, Sikukeluang, Heal Indonesia, Akar Ilalang, Arasati Hakiki dan Semacam Lab, menggelar Majelis Gajah, sebuah ruang dialog terbuka lintas sektor terkait gajah dengan mengusung tema besar nasional “Gajah Harga Diri Sumatera”, di Rumah Nonblok Ekosistem, Pekanbaru.

Acara dibuka dengan pemutaran film dokumenter “PULANG” produksi FKGI, sebuah potret konflik gajah-manusia, tentang gajah yang kehilangan rumahnya dan tak tahu ke mana arah pulang. Film ini mengajak penonton menyelami kenyataan pahit di lapangan, bahwa alih fungsi hutan memaksa gajah keluar dari jalur jelajahnya.

Setelahnya, hadirin disambut pembacaan puisi oleh Riang Gembira, bocah berusia enam tahun dengan puisinya berjudul Pusat Perhatian Gajah. Puisi tersebut mengalir menceritakan kisah seekor anak gajah bernama Togar yang kakinya pernah terluka parah akibat jerat buatan manusia. 

Togar kemudian ditinggal sendirian oleh ibu dan keluarganya yang ketakutan, hingga akhirnya Togar diselamatkan dan mendapatkan perhatian khusus di Pusat Latihan Gajah Minas. Kini, Togar telah sembuh dan tumbuh menjadi anak gajah yang kuat.

Memasuki sesi diskusi, Yuliantoni dari FKGI memaparkan gajah sebagai barometer ekosistem dan membeberkan fakta-fakta kondisi gajah di Riau, khususnya di kantong habitat Tesso Nilo. Ia menjelaskan bahwa Tesso Nilo adalah salah satu kantong gajah terpenting di Sumatera, namun tekanannya sangat tinggi akibat perambahan hutan dan konflik dengan manusia.

AKBP Nasruddin, dari Kepolisian Daerah Riau, mengungkap bahwa masifnya perambahan hutan menjadi ancaman serius bagi satwa liar.

“Tahun 2025 saja, ada 48 kasus pembukaan lahan di kawasan hutan di Riau. Ini jelas mengancam habitat gajah. Diperlukan sinergi antara kepolisian, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menjaga kawasan hutan sebagai rumah gajah, sehingga gajah dan manusia dapat hidup berdampingan tanpa ada pihak yang dirugikan,” tegasnya.

Ujang Holisudin, dari Balai Besar KSDA Riau juga menambahkan pentingnya membangun narasi publik yang positif. Bahwa gajah bukanlah hama.

“Kerja-kerja konservasi itu punya tantangannya sendiri. Pernah suatu kali saat kami hendak mengembalikan gajah ke habitatnya, justru kami dihadang masyarakat,” ujarnya.

Dari perspektif seni dan budaya, Adhari Donora seniman Nonblok Ekosistem, menafsirkan gajah sebagai simbol kekuatan, kesunyian, dan keteguhan. Ia memandang seni sebagai sarana untuk merawat memori kolektif dan menumbuhkan harapan ekologis.

“Seni bisa menjadi narasi perlawanan yang membentuk kesadaran publik. Gajah dalam karya seni bukan sekadar objek, tetapi subjek yang membawa pesan kehidupan,” ungkapnya.

Sebelum sesi tanya jawab, Ibnu Shem menutup rangkaian dengan membawakan lagu tentang gajah yang mati diracun, dengan sepenggal lirik yang menohok berbunyi “membunuhku memperburuk lingkunganmu, meracuniku tak memperindah kebunmu.”

Diketahui, tahun ini peringatan Hari Gajah Sedunia di Indonesia mengusung tema “Gajah Harga Diri Sumatera”. Tema ini menegaskan bahwa jika gajah terlindungi, maka kehormatan Sumatera sebagai pulau kaya biodiversitas pun terjaga. Sebaliknya, kematian gajah adalah cermin kegagalan kolektif menjaga identitas ekologis pulau ini.

Ketua FKGI, Donny Gunaryadi, menyampaikan bahwa populasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) kini diperkirakan tidak lebih dari 1.000 ekor di alam liar, dengan status Critically Endangered. Dalam satu generasi gajah (50"75 tahun), sekitar 70% habitat potensialnya hilang akibat alih fungsi hutan, pembangunan, dan perburuan.

Ia mengapresiasi langkah pemerintah seperti pengembalian 81.000 hektare kawasan hutan di Taman Nasional Tesso Nilo dan Bukit Tigapuluh untuk habitat gajah. Namun, upaya ini harus terus dikawal karena konservasi gajah adalah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen semua pihak, baik pemerintah, masyarakat, akademisi, sektor swasta, media, hingga generasi muda.

Melalui Majelis Gajah di Pekanbaru, para penyelenggara berharap momentum Global Elephant Day menjadi ruang dialog hangat dan membumi, membangun narasi kolektif bahwa melindungi gajah berarti menjaga masa depan manusia itu sendiri.***(Cakaplah.com)
Sumber: cakaplah.com

Lingkungan
Berita Terkait
  • Minggu, 21 Jun 2026 17:32

    Belanda Pecahkan Rekor Tak Terkalahkan di Piala Dunia Usai Bantai Swedia 5-1

    HOUSTON - Timnas Belanda memecahkan rekor tak terkalahkan terpanjang sepanjang gelara Piala Dunia. Kemenangan 5-1 atas Swedia pada Minggu (21/6/2026) dini hari membuat The Oranje mencetak re

  • Minggu, 21 Jun 2026 17:27

    Respon Keluhan Warga, Pemprov Riau Langsung Perbaiki Jalan Rusak Simpang Perak Pelalawan

    PEKANBARU - Keluhan warga soal jalan rusak dan berlubang di Ruas Simpang Perak, Kabupaten Pelalawan, akhirnya mendapat respons nyata dari Pemerintah Provinsi Riau. Dinas Pekerjaan Umum, Penataan

  • Minggu, 21 Jun 2026 17:21

    200 Peserta Meriahkan Festival Gasing se Riau di Kabupaten Inhu

    RENGAT - Gasing merupakan olahraga tradisional masyarakat Riau. Untuk melestarikan dan mengembangkan permainan gasing di tengah masyarakat, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) menggelar festiva

  • Minggu, 21 Jun 2026 17:18

    Tabrakan Beruntun di Kuansing, Seorang Pelajar Tewas di Lokasi Kejadian

    KUANSING " Kecelakaan lalu lintas beruntun yang melibatkan lima kendaraan terjadi di Jalan Kabupaten, Desa Seberang Cengar, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Sabtu (20/

  • Minggu, 21 Jun 2026 17:16

    Bupati Suhardiman Gandeng Wabup Inhu Tinjau Arena MTQ Riau, Pastikan Kuansing Siap Ukir Sejarah

    KUANSING " Keseriusan Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dalam menyukseskan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-44 tingkat Provinsi Riau terus ditunjukkan.Bupati Kuansing, Suhardiman Am

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.