DPR Minta Pemerintah Ungkap Penyebab Musibah Trigana Air
Laporan :Joko Prasetyo
Kamis, 20 Agu 2015 21:15
Menurut Ketua komisi V DPR Fary Djemy Prancis yang lebih paling adalah pengawasan dan pengamanan bandara di Papua ditingkatkan secara menyeluruh, baik instrument, radar, dan fasilitas penerbangan lainnya. Di satu sisi kita mengapresiasi Tim SAR Gabungan yang telah berhasil mengevakuasi para korban dan menemukan kotak hitam.
"Namun dilain pihak, kita meminta kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan, melalui KNKT supaya mampu mencari dan mengungkapkan penyebab kecelakaan pesawat Trigana Air, karena sebab-musabab kecelakaan pesawat di Indonesia sampai saat ini belum terungkap secara benar, bahkan bisa disebut masih misteri " kata Fary Djemy Prancis kepada wartawan di gedung DPR Jakarta, Kamis (20/8).
Fary mengatakan alasan utama belum diketahuinya penyebab kecelakaan secara cepat karena memeriksa kotak hitam memakan waktu lama, bisa 6 bulan, bahkan satu tahun. Selain itu, keberadaan KNKT yang tidak independen (masih di bawah Kementerian Perhubungan), sehingga segala sesuatu yang ditemukannya harus dilaporkan ke Kementerian Perhubungan. Makanya, dia setuju, KNKT dibawah langsung Presiden RI, bukan melekat di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) .
"Seingat saya, dulu ada peraturan presiden tentang struktur KNKT, tapi sampai sekarang ini belum diketahui bagaimana kelanjutannya. Terkait dengan itu, Komisi V DPR RI akan mempertanyakan kinerja dan pertanggungjawaban dari KNKT terkait penyebab kecelakaan pesawat di Indonesia" ujar Fary Djemi Prancis.
Sementara itu, Suharto AM, pakar transportasi udara dari Universitas Trisakti menyatakan bahwa Indonesia harus memperkuat penerbangan di dalam negeri atau domestik, baik dari aspek infrastruktur, SDM, operator, regulator, dan lain sebagainya.
Sebab, transportasi udara menjadi tulang punggung dalam perekonomian dan pembangunan, khususnya di Papua, agar tidak terjadi ketimpangan, meski perlu juga mempertimbangkan transportasi darat dan laut.
Dia mengakui, di Indonesia masih ada landasan yang bolong-bolong, banyak binatang, dan lain-lain. Tingkat kecelakaan pesawat di Indonesia masuk kategori II, sama seperti Nigeria, Ethiofia, Guyana, sehingga pemerintah harus menyiapkan infrastruktur, termasuk pilot yang jumlahnya masih sangat terbatas. "Biaya "mencetak" pilot sangat besar, bisa mencapai Rp 1 miliar. Namun, karena merupakan kebutuhan yang mendesak, sehingga tetap harus diupayakan, " katanya (tio)
Nusantara
Kapal Perusahaan Prancis Diserang di Selat Hormuz, Awak Luka-luka.
Paris - Sebuah kapal milik perusahaan Prancis menjadi target serangan di Selat Hormuz. Serangan yang sumbernya belum diketahui itu, memicu kerusakan pada kapal dan menyebabkan sejumlah awak luka-luka.
Polisi Buka Posko Pengaduan Korban Pemerkosaan Pendiri Ponpes di Pati
Jakarta - Polisi membuka posko pengaduan terkait kasus dugaan pemerkosaan oleh pendiri pondok pesantren AS (52) di Pati. Langkah ini dilakukan karena diduga masih ada korban lain yang belum melapor.Wa
Dari 634 Titik, 27 Lokasi di Aceh Masih Tertimbun Lumpur
Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra mengatakan progres pembersihan lumpur sudah hampir tuntas.Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana
Geng Motor Kembali Bikin Ulah di Makassar, Bacok dan Tabrak Warga Melintas
Empat pelaku ditangkap polisi setelah mendapat laporan warga.Teror geng motor di Kota Makassar tak ada habisnya. Kali ini, seorang warga Jalan Pongtiku, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, dibacok dan
I.League Pastikan Persija vs Persib Digelar dengan Penonton, Tapi Bobotoh Tetap Tak Boleh Hadir
Jakarta - Direktur Utama I.League, Ferry Paulus memastikan status pertandingan Persija Jakarta vs Persib Bandung tetap dengan penonton. Artinya The Jakmania diperbolehkan hadir mendukung Macan Kemayor