Senin, 22 Jun 2026
  • Home
  • Nusantara
  • Sudah 107 Tahun Warga Kampung Adat Cireundeu Tidak Makan Beras Padi

Nusantara,

Sudah 107 Tahun Warga Kampung Adat Cireundeu Tidak Makan Beras Padi

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Kamis, 17 Jul 2025 09:09
Berita satu.com
Abah Widi, salah satu sesepuh Kampung Adat Cireundeu, di Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, mengatakan, warga Kampung Adat Cireundeu tidak pernah makan beras padi sejak 107 tahun silam.

Menurut Abah Widi, tradisi konsumsi rasi sudah berlangsung sejak 1918. Saat itu, Aki Ali, tokoh masyarakat setempat, mulai menggagas penggunaan umbi-umbian sebagai pangan alternatif di tengah penjajahan dan sulitnya akses menanam padi karena kondisi geografis perbukitan.

“Hampir 107 tahun kami tidak makan beras padi. Rasi adalah solusi, terutama di tengah naiknya harga beras dan merebaknya isu beras oplosan,” ujar Abah Widi di Cimahi, Rabu (16/7/2025).

Menurutnya, sekitar 60 keluarga di Kampung Adat Cireundeu masih bertahan dengan rasi atau beras singkong sebagai sumber utama pangan. Bagi mereka, rasi bukan hanya makanan pokok, tetapi juga simbol kemandirian, identitas budaya, dan solusi alternatif di tengah ketidakpastian pangan nasional.

Oleh karena itu, di tengah merebaknya isu beras oplosan yang mencemaskan masyarakat, warga Kampung Adat Cireundeu justru tetap tenang. Pasalnya, mereka tidak mengonsumsi beras padi, melainkan rasi atau beras singkong sebagai makanan pokok.

Selama lebih dari satu abad, masyarakat Cireundeu konsisten mengonsumsi rasi yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Entis Sutisna (48), generasi keempat yang masih melestarikan tradisi ini. Ia memperlihatkan hasil olahan singkong yang telah dikeringkan menjadi rasi bertekstur kasar dan padat, berwarna putih seperti terigu.

“Dari kecil memang sudah dibiasakan makan rasi. Sampai sekarang pun saya dan keluarga tetap mengonsumsinya,” ujar Entis.

Dalam sekali produksi, Entis mengolah sekitar 2 kuintal singkong dan menghasilkan 30 kilogram beras singkong. Proses panennya dilakukan bergiliran dari enam hingga tujuh kebun yang ia miliki karena tidak ada panen raya. Umur singkong pun bervariasi antara dua hingga enam bulan sebelum dipanen.

Hasil produksi tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dalam beberapa bulan. Jika ada kelebihan stok, Entis menjual rasi ke masyarakat luar kampung. “Biasanya ada yang fobia nasi, mereka pilih beras singkong. Saya jual Rp 12.000 per kilogram,” tambahnya.

Proses pembuatan rasi sendiri cukup sederhana. Singkong dikupas, digiling, lalu diperas dan dikeringkan selama dua hingga tiga hari hingga menjadi granul siap tanak.

Entis percaya rasi memiliki banyak manfaat kesehatan dan bernilai budaya tinggi. Ia bahkan tidak pernah mengonsumsi nasi, begitu pula anak-anaknya yang tetap membawa bekal rasi ke sekolah. “Ini bukan sekadar tradisi, tetapi ada khasiat di dalamnya,” tuturnya.***(Berita Satu.com)
Sumber: Berita satu.com

Nusantara
Berita Terkait
  • Minggu, 21 Jun 2026 17:32

    Belanda Pecahkan Rekor Tak Terkalahkan di Piala Dunia Usai Bantai Swedia 5-1

    HOUSTON - Timnas Belanda memecahkan rekor tak terkalahkan terpanjang sepanjang gelara Piala Dunia. Kemenangan 5-1 atas Swedia pada Minggu (21/6/2026) dini hari membuat The Oranje mencetak re

  • Minggu, 21 Jun 2026 17:27

    Respon Keluhan Warga, Pemprov Riau Langsung Perbaiki Jalan Rusak Simpang Perak Pelalawan

    PEKANBARU - Keluhan warga soal jalan rusak dan berlubang di Ruas Simpang Perak, Kabupaten Pelalawan, akhirnya mendapat respons nyata dari Pemerintah Provinsi Riau. Dinas Pekerjaan Umum, Penataan

  • Minggu, 21 Jun 2026 17:21

    200 Peserta Meriahkan Festival Gasing se Riau di Kabupaten Inhu

    RENGAT - Gasing merupakan olahraga tradisional masyarakat Riau. Untuk melestarikan dan mengembangkan permainan gasing di tengah masyarakat, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) menggelar festiva

  • Minggu, 21 Jun 2026 17:18

    Tabrakan Beruntun di Kuansing, Seorang Pelajar Tewas di Lokasi Kejadian

    KUANSING " Kecelakaan lalu lintas beruntun yang melibatkan lima kendaraan terjadi di Jalan Kabupaten, Desa Seberang Cengar, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Sabtu (20/

  • Minggu, 21 Jun 2026 17:16

    Bupati Suhardiman Gandeng Wabup Inhu Tinjau Arena MTQ Riau, Pastikan Kuansing Siap Ukir Sejarah

    KUANSING " Keseriusan Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) dalam menyukseskan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-44 tingkat Provinsi Riau terus ditunjukkan.Bupati Kuansing, Suhardiman Am

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.